Menjadi seorang kepala desa adalah sebuah amanah luhur yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Tentunya dibutuhkan banyak terobosan baru yang mampu mendongkrak keberhasilan desa terkhusus masyarakatnya. Adalah seorang alumnus Universitas Sanata Dharma (USD), Marthen Ragowino Bira, S.S. yang dipercayai oleh masyarakat Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memimpin masyarakat dan berjuang bersama memajukan desa.
Pria kelahiran Waikabubak, 4 Mei 1979 ini telah memimpin Desa Tebara sejak 2017. Bertahun-tahun sebelum Marthen memimpin Desa Tebara, ia telah melanglang buana mencari pengalaman sebanyak-banyaknya; mulai dari bekerja di penerbitan, menjadi guru Bahasa Inggris, mencalonkan diri menjadi caleg, hingga mencoba peruntungan mendaftar PNS. Dari perjalanan hidupnya semasa itu benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap sebuah proses kehidupan. Ketika menjadi guru, Marthen mendapati bahwa guru-guru di sekolah tempatnya mengajar berusaha mengatrol nilai para siswa supaya lulus. Yang lebih miris adalah ketika ia mengikuti pendaftaran PNS dan lolos hingga tahap keempat, namun diminta untuk membayar sejumlah uang supaya bisa menjadi seorang PNS. Marthen dengan tegas menolak permintaan itu dan memilih untuk menghentikan keinginannya menjadi PNS. Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya sungguh terpanggil untuk menjadi sosok yang membawa kesadaran bahwa kejujuran adalah hal terpenting dalam kredibilitas seseorang.
Marthen Ragowino Bira, Kepala Desa Tebara saat menerima penghargaan sebagai Desa Terbaik Nasional
Terpilihnya Marthen menjadi seorang Kepala Desa membuatnya selalu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan yang ada. Komitmennya untuk memajukan kehidupan masyarakat Desa Tebara dilakukan secara sinergis dan dinamis. Ada banyak inovasi baru yang mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat Desa Tebara hingga saat ini. Ia bersama seluruh masyarakat desa mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), mengembangkan desa periwisata Praijing, pasar desa, pegadaian desa, serta lumbung desa. Bumdes memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan usaha melalui kegiatan simpan pinjam. Desa pariwisata akan memberikan keuntungan berkali-kali lipat karena selain memperkenalkan adat dan budaya masyarakat desa Tebara, masyarakat juga dapat meningkatkan perekonomian melalui penjualan suvenir dan kuliner daerah setempat. Pasar desa menjadi tempat seluruh masyarakat untuk menjual hasil tanamnya. Ada tiga komoditas utama desa Tebara yaitu vanili, ketela ungu, dan daun kelor. Pegadaian desa membantu masyarakat untuk mendapatkan modal tanpa meninggalkan jaminan. Mereka hanya perlu menandatangani surat pernyataan dari pegadaian. Lumbung desa menjadi tempat penyimpanan hasil panen masyarakat. Dengan adanya lumbung, masyarakat tidak akan khawatir lagi dengan masalah kekurangan pangan.
Keringat, kerja keras, dan perjuangannya membuahkan hasil. Masyarakat Desa Tebara memiliki kehidupan perekonomian yang lebih baik. Tak hanya itu, berkat inovasi-inovasi yang diterapkan di desanya, Marthen mampu mengantarkan Desa Tebara menyabet penghargaan Desa Terbaik Nasional 2018. Penghargaan ini bukan sekedar bentuk apresiasi baginya dan masyarakat Desa Tebara, namun menjadi sebuah semangat untuk terus berkarya dan bekerja membangun desa yang semakin maju.
Sebagai lulusan USD, Marthen merasa bahwa ia mendapatkan bekal yang sangat luar biasa untuk terjun ke dalam dunia nyata. Nilai humanisme dan kejujuran mampu mengantarnya pada pemahaman Ad Maiorem Dei Gloriamyang sesungguhnya melalui pengalaman dan perjumpaannya dengan banyak orang. “Universitas Sanata Dharma adalah tempat yang sangat tepat untuk membentuk karakter. Sebab, di sini kita bisa mendapatkan pemahaman yang luas, belajar keterbukaan, serta keselarasan di tengah perbedaan yang beraneka ragam.” ucapnya dalam wawancara via telepon Jumat (1/2/2019).
Marthen yang telah mencicipi asam garam di dalam hidupnya menyampaikan beberapa pesan kepada seluruh Driyarkara Muda. Marthen menyatakan bahwa sebagai anak muda, mahasiswa harus mampu mendengarkan kata hati, menjunjung tinggi humanisme, memanfaatkan teknologi secara positif, melakukan setiap pekerjaan secara total, dan menghargai setiap proses yang dilewati. Jika semua itu dilakukan, maka akan terasah kepribadian yang sungguh menghidupi nilai-nilai yang dikembangkan di USD. Sebagai lulusan Fakultas Sastra, Program Studi Sastra Inggris USD, Marthen juga menyatakan bahwa jangan pernah berhenti menulis; menulis apa pun yang ditemukan di dalam hidup sehari-hari. Sebab, dengan menulis, kita akan mampu berefleksi dari setiap peristiwa dan membantu kita untuk semakin berkembang.
(KCIP& VYA)




