Pada tanggal 21 Desember 2018, Universitas Sanata Dharma (USD) merayakan puncak Dies Natalis ke-63 yang bertempat di Auditorium Driyarkara Kampus 2 USD. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan di Era Revolusi Industri 4.0”, puncak dari deretan kegiatan ini diselenggarakan pada pukul 08.30 WIB dan dihadiri oleh seluruh sivitas akademika USD dan Yayasan Sanata Dharma.
Rangkaian puncak acara dies ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebuah kebanggaan serta bentuk cinta akan bangsa dalam membentuk pribadi muda bangsa yang lebih bermartabat. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyempaikan laporan oleh Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. sebagai Rektor Universitas Sanata Dharma. Dalam laporannya, Eka menyampaikan pentingnya mempersiapkan diri dalam menghadapi revolusi industri 4.0 mengingat dampak dari pengembangan teknologi ini sama besar dengan manfaat yang kita dapatkan. Ia juga mengingatkan bahwa setahun belakangan ini USD ikut serta dalam mempersiapkan serelevan mungkin generasi muda dalam menghadapi perubahan yang sangat drastis ini. Pada pertengahan laporannya, ia mengucapkan terimakasih atas prestasi yang USD dapatkan pada tahun ini. Di akhir, Eka menegaskan harapannya dari semua kegiataan keilmuan yang dilaksanakan semoga dapat menyumbangkan sesuatu demi tetap berkembangnya martabat kemanusiaan kita di era revolusi industri 4.0 ini.
Pidato Ilmiah dengan judul “Siapakah Manusia di Hadapan Revolusi Industri 4.0: Kecerdasan Buatan dan Konsekuensinya
Bagi Dunia Kerja dan Pendidikan Tinggi” dipaparkan oleh Romo Benedictus Hari Juliawan , S.J., Ph.D.. Romo Benedictus memaparkan, bagaimana cara kerja robot pintar yang hadir pada generasi ini dengan kecerdasan buatan serta dampak dalam dunia kerja (otomatisasi). Romo Benedictus juga mengingatkan akibat dari revolusi industri 4.0 yakni menciptakan kesenjangan di Indonesia antara pulau Jawa dengan pulau-pulau luar Jawa terutama Indonesia bagian timur. Itu dikarenakan penyebaran infrastruktur digital yang tidak merata sehingga menimbulkan kesenjangan sosial. Pada akhir pidato ilmiahnya, Romo Benedictus menegaskan kembali bahwa yang membedakan kita dengan mesin cerdas itu adalah kreativitas. Betapapun canggihnya teknologi mesin cerdas saat ini namun dia tetap sebuah alat. Mesin bukan pencipta. Ia juga mengajak kita berefleksi bahwa mesin tidak memiliki kreativitas dan yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin cerdas itu adalah kunci bagi refleksi kita di perguruan tinggi.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Yayasan Sanata Dharma oleh Romo Albertus Budi Susanto, S.J., Ph.D. Romo Budi dalam sambutannya mengajak semua peserta acara dies untuk bernostalgia mengingat perjuangan karyawan dan civitas akademika USD dalam mencapai tahap sekarang ini serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen dan karyawan yang telah berjuang untuk menciptakan manusia yang lebih bermartabat. Selanjutnya sambutan dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V oleh Dr. Ir. Bambang Supriyadi , CES.,DEA.. Ia berharap agar USD mampu mendidik manusia muda dalam menguasai teknologi, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan tetapi tetap berperilaku jujur serta mendidik untuk bekerja sama dan saling membantu, bukan sekedar berkompetisi.
Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada karyawan dan dosen yang sudah berbakti selama 25 tahun dan dosen yang berprestasi tahun 2018. Acara selanjutnya dimeriahkan dengan tari kolaborasi dari berbagai daerah di nusantara yang dibawakan oleh Komunitas Daerah dan UKM Tari yang ada di USD. Acara yang sangat meriah ini ditutup dengan menyanyikan lagu Himne Sanata Dharma, kemudian diakhiri dengan makan siang bersama.



(FEJL & YS)




