Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Oleh karena itu pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Hal inilah yang menggerakkan semangat para mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma (PBIO USD) angkatan 2016 untuk melakukan aksi nyata berupa penyuluhan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu di Posyandu Puspita. Lokasi Posyandu Puspita ini berada di Jl. Candi Gebang, Krajan, Wedomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan ketahanan pangan dan gizi di Posyandu Puspita berjumlah 60 ibu- ibu. Kegiatan ini terselenggara pada hari Minggu, 2 Desember 2018 pada pukul 06.30 WIB.
Para biolog tangguh USD pencerdas bangsa ini diajak untuk mengembangkan berbagai bahan pangan pokok pengganti nasi yang ditujukan kepada bayi, batita, balita, dan anak- anak. Tujuannya tak lain adalah ketika nasi atau beras menjadi langka, masyarakat bisa mengembangkan bahan pokok lain seperti jagung, sorgum, ubi ungu, singkong, kentang, dan masih banyak lagi guna memenuhi gizi dari bayi dan anak- anak tersebut. Sejalan dengan aksi tersebut, mahasiswa pendidikan biologi angkatan 2016 yang mengikuti kuliah Pengembangan Kebijakan Pangan juga dituntut untuk dapat mengembangkan inovasi dalam menciptakan berbagai olahan makanan dengan bahan pokok selain beras atau nasi.
Pada saat kegiatan aksi berlangsung, mahasiswa pendidikan dibagi menjadi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok harus memilih bahan makanan pengganti beras untuk dijadikan menu makanan dengan kreatifitas masing- masing kelompok. Nantinya dalam proses pembuatan kreasi makanan harus memperhatikan beberapa hal diantaranya tekstur makanan, penampilan, rasa, kandungan gizi, serta porsi hidangan. Setelah seluruh hidangan disajikan, setiap kelompok mempresentasikan hasil pembuatan olahan makanan yang sudah dibuat. Kelompok mempresentasikan hasil makanan ada yang berupa slide presentasi power point, ada juga yang melalui poster maupun leaflet. Saat kegiatan berlangsung, makanan yang sudah dibuat oleh masing- masing kelompok sudah disajikan dan siap untuk dihidangkan. Ibu- ibu yang datang sangat antusias mendapatkan penyuluhan dari setiap kelompok mahasiswa pendidikan biologi.
“Saya sangat senang dengan adanya kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa USD ini. Saya menjadi lebih bisa menerapkan berbagai menu untuk buah hati dengan berbagai macam bahan yang berasal dari non beras. Ada banyak menu yang dihadirkan seperti bubur labu kuning, kue talam dari jagung, bola- bola kentang, puding ubi, kue lumpur dari ubi ungu dan masih banyak lagi.” tutur salah satu ibu yang mengikuti kegiatan posyandu saat itu.
Hal serupa juga disampaikan oleh Indri selaku asisten dosen mata kuliah Pengembangan Kebijakan Pangan. “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk upaya mengkampanyekan ke masyarakat luas akan pentingnya ketahanan pangan dan gizi bagi anak- anak penerus generasi bangsa ini dan kami melakukan aksi tersebut secara sederhana di posyandu. Dengan melakukan penyuluhan bertema bahan pangan alternatif pengganti beras kepada masyarakat di posyandu, kita dapat menjaga ketersediaan SDM bangsa ini agar dapat membangun bangsa Indonesia semakin maju.” tutur mahasiswa Pendidikan Biologi angkatan 2015 itu.
(APV & KYP)




