“If your plan is for one year plant rice. If your plan is for ten years plant trees. If your plan is for one hundred years educate children. ” (Confucius)
Kini, RRC semakin penting bagi RI. Selain menjadi mitra dagang utama, relasi sosial-politik juga semakin erat. Investasi RRC secara massive masuk. Pelabuhan, jembatan, waduk, pembangkit listrik, jalan tol, dan jalur kereta api dibangun di mana-mana. Secara kultural, kebudayaan China tidak asing. Orang-orang Indonesia familiar dengan Xiaomi, Huawei, Alibaba.com, dll. Orang Indonesia menganggap mie, bakso, tahu, lumpia, dan baju koko menjadi bagian dari sejarahnya. Meskipun familiar dengan produk China, orang-orang Indonesia nyaris “tidak tahu apapun” tentang orang-orang dari China beserta latar belakang kulturalnya. Yang muncul justru sentimen primordial, serta sikap anti asing. Istilah “aseng” di medsos mengacu pada sentimen itu. Ke depan, Indonesia-China akan terhubung dalam “jalur sutra baru” di kawasan Asia-Pasifik. Pemahaman atas satu sama lain semakin penting. Dalam konteks studi “Sejarah Asia”, spirit yang dibawa adalah menemukan “kesamaan” akar kultural khas bangsa Asia. Energy of Asia Asian Games 2018 Jakarta-Palembang juga mengusung spirit senada. Merayakan kesamaan akar kultural dan mengedepankan semangat kolaborasi.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah, Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan acara dikusi terbatas bertema ‘’Akar Kultural China Dalam Diri Generasi Mudanya’’ pada tanggal 26 Oktober 2018 di Ruang Rapat Personalia, Kampus 2 USD.
Diskusi ini menghadirkanSandra Lee(李晓娴), native orang muda dari China, yang saat ini sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan. Pada acara ini, ada tiga hal yang didiskusikan. Pertama, bagaimana pendidikan karakter pada anak muda di China diterapkan. Kedua, bagaimana unsur kultural lokal di China mempengaruhi corak identitas kaum muda China. Ketiga, bagaimana pendapat kaum muda dari China ketika berjumpa dengan pemuda di Yogyakarta. Sang narasumber menyampaikan opini pembuka, sebagai pemantik diskusi, berbasis pengalaman selama tinggal di China dan kala datang ke Yogyakarta sebagai mahasiswa. Berhubung ada keterbatasan penguasaan Bahasa Indonesia, peserta sangat terbantu oleh interpreter, Delvita Denny Cung, yang menjadi jembatan komunikasi dua arah selama diskusi.
Diskusi terbatas yang dihadiri 17 peserta yang terdiri dari dari mahasiswa, dosen, dan alumni Program Studi di Sejarah USD itu, ada beberapa butir catatan yang layak menjadi inspirasi pembangunan bangsa Indonesia. Pertama, di China, pendidikan karakter dinilai penting dan diberikan sejak dini berupa penerapan disiplin serta penanaman sikap taat asas. Sumber nilai bagi pendidikan karakter berakar dari kultur tradisi China, etika Konfusian. Kedua, negara hadir dalam penegakan keadilan sosial berupa menjamin akses pendidikan bagi semua, termasuk untuk etnis minoritas (selain etnis Han). Sang narasumber berasal dari etnis minoritas Zhuan di Provinsi Guang Xi. Ketiga, keberagaman (termasuk agama) diakui serta diberi ruang. Namun, aspek agama tidak dijadikan rujukan bagi sistem hukum maupun sistem pemerintahan. Negara menjaga netralitas. Keempat, negara memiliki prioritas kemandirian bangsa. Sebisa mungkin, dipakai produk anak bangsa sendiri, termasuk produk media sosial serta micro-blogging. Kelima, banyak orang Indonesia dinilai memiliki apriori terhadap orang maupun kultur China, termasuk aspek kuliner. Di sisi lain, China bukan entitas tunggal. Ada keberagaman di sana, termasuk keberadaan etnis Hui yang mayoritas Muslim. Dalam konteks NKRI sedang memperjuangkan “Revolusi Mental”, pendidikan karakter sejak dini dinilai sebagai kunci sukses.
(IS)




