Dalam menyambut Dies Natalis Program Studi Pendidikan Biologi(PBIO) Universitas Sanata Dharma (USD) yang ke-10, Himpunan Mahasiswa Progam Studi (HMPS) Pendidikan Biologi mengadakan kegiatan seminar pada hari Senin, 15 Oktober 2018, bertempat di Kampus III USD Paingan. Pada seminar kali ini tema yang diangkat adalah “Peran Mahasiswa dalam Ekowisata Pantai”, sama seperti semangat progam studi Pendidikan Biologi yang ingin terus melestarikan alam dan juga dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat luas.
Seminar yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa USD dari angkatan 2014-2018 dari Pendidikan Biologi USD ini dibuka oleh Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc. selaku Ketua Progam Studi Pendidikan Biologi dengan sambutan. “Selama 10 tahun Pendidikan Biologi USD berdiri, Pendidikan Biologi USD selalu menjadikan alam sebagai sarana edukasi dan menambah wawasan. Dari pesisir pantai selatan hingga daerah pegunungan di Turgo menjadi laboratorium alam bagi mahasiswa Pendidikan Biologi USD. Di tahun ini bertepatan dengan satu dekade berdirinya Pendidikan Biologi kita harus mengganti peran kita yang semula hanya memanfaatkan alam, kini kita harus berubah menjadi penyelenggara atau agent of change dengan cara memikirkan bagaimana pantai tidak hanya sebagai obyek wisata namun juga dapat menjadi sarana pendidikan.” tutur dosen lulusan University of Canterbury, New Zaeland.
Sesi seminar dibagi menjadi 2 tahap, di mana pada sesi 1 Romo Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J. atau yang akrab disapa Romo Wir menjadi pemateri 1. Sesi kedua, pemateri diisi oleh salah satu perwakilan dari WWF Indonesia yaitu bapak Sugiyanta yang sudah berpengalaman terhadap ekosistem pantai dan laut di daerah Sulawesi Tenggara atau lebih tepatnya di Wakatobi. Erita salah satu mahasiswa Pendidikan Biologi aktif ditunjuk sebagai moderator untuk mengatur jalannya sesi seminar.
Pada Sesi pertama yang dibawakan oleh Romo Wir, beliau selalu menggencarkan semangat Romo Mangun untuk bersama-sama mengembangkan ekowisata di Pantai Grigak kepada seluruh civitas akademika. “Romo Mangun meninggalkan sesuatu yang teramat mendasar kepada masyarakat di sekitar Pantai Grigak yaitu sebuah ikatan batin persaudaraan yang sangat kuat. Beliau rela membangun gubug kecil di tepi pantai Grigak dan tinggal bersama masyarakat untuk membantu mengalirkan air tawar dari tepi laut menuju pemukiman warga. Romo Mangun mengabdikan diri kepada masyarakat secara penuh hingga akhir hayatnya. Walau saat ini Romo Mangun sudah tiada, namun semangatnya masih tetap membara di setiap diri kita dan masyarakat di sekitar pantai Grigak. Dengan adanya semangat Romo Mangun serta ikatan persaudaraan yang kuat dengan warga sekitar Pantai Grigak diharapkan dapat menjadikan kawasan Pantai Grigak menjadi kawasan Ekowisata.” tutur dosen Pendidikan Biologi yang hobi dalam berkebun dan menanam tanaman.
“Saat ini saya mengajak seluruh elemen untuk bersatu padu mengembangkan kawasan Pantai Grigak menjadi destinasi ekowista. Mulai dari dosen-dosen dari berbagai kajian ilmu yang mengembangkan penelitian dan mengaplikasikan teori menjadi sebuah penemuan, kemudian para mahasiswa dengan pengabdian diri membaktikan ilmu yang didapat menjadi sebuah tindakan nyata, dan juga gotong royong masyarakat setempat dalam mengembangkan sarana dan prasarana. Itu semua dilakukan demi terwujudnya ekowisata Pantai Grigak sesuai dengan semangat Romo Mangun.” tutur dosen yang aktif menjadi Ketua APTIK ini.
Pada Sesi kedua, Bapak Sugiyanta memberikan banyak pengalamannya menjadi seorang aktivis di WWF (World Wide Fund for Nature) Indonesia. Saat ini beliau menjadi seorang yang aktif menjaga ekosistem yang ada di bagian Sulawesi Tenggara, lebih tepatnya di Wakatobi. Beliau memaparkan progam- progam apa saja yang sudah dilakukan di Wakatobi terkait kegiatan konservasi ekosistem di Wakatobi. “Wakatobi yang terkenal dengan daerah Coral Triangle, menjadi tempat berkumpulnya terumbu karang di dunia. Jadi dapat dibayangkan bahwa sangat beranekaragam kekayaan terumbu karang dan juga ikan di Wakatobi. Namun seringnya penjarahan dan juga ilegal fishing yang dilakukan orang- orang luar tak bertanggung jawab menyebabkan kerentanan terhadap sumber daya alam di laut Wakatobi. Di sini kami dari WWF ikut berpartisipasi memerangi kerusakan pada terumbu karang laut wakatobi agar seluruh makhluk hidup yang ada terjamin hidupnya sampai anak cucu kita kelak nanti.” ujar bapak Sugiyanta.
Bapak Sugiyanta juga menyampaikan beberapa progam WWF Indonesia dalam menjaga kelestarian alam khususnya di daerah pantai dan laut Indonesia yaitu dengan memastikan bahwa jaring- jaring kehidupan di laut terjaga aman dan dalam kondisi sehat. Upaya koneservasi pada lokasi- lokasi penting dan spesies kritis yang strategis diprioritaskan demi kayanya keragaman hayati bumi. Progam yang kedua adalah mengurangi dampak negatif dari aktivitas manusia dengan cara memastikan bahwa sumber daya alam yang dibutuhkan bagi manusia seperti lahan, air, dan udara serta ekosistem penting dikelola secara berkelanjutan dan berkeadilan. “Sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya kita menunjukkan peran kita terhadap alam ini dengan berbagai macam cara diantaranya penelitian, promosi, hingga pengabdian. Dengan adanya peran mahasiswa yang nyata, diharapkan dapat menjadikan alam sebagai sarana ekowisata yang mendidik bagi khalayak luas.” imbuh bapak Sugiyanta.
Pada akhir kegiatan acara seminar, dilangsungkan juga kegiatan pameran produk bioteknologi dari mahasiswa Pendidikan Biologi USD dari angkatan 2016-2018. Para peserta yang berasal dari masing- masing angkatan mempresentasikan produk bioteknologi yang sudah dibuat. Seluruh mahasiswa serta dosen sangat menikmati kegiatan yang terselenggara ini. Diharapkan dengan adanya rangkaian kegiatan ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya peran dari mahasiswa dalam mengembangkan ekowisata di Pantai Grigak.
(APV & KYP)




