USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Festival Kebhinnekaan Nusantara 2018:
"Kaum Muda Merayakan Kebhinnekaan, Menghidupi Persatuan"

diupdate: 8 tahun yang lalu


Talkshow lintas iman dengan tema “Kaum Muda Merayakan Kebhinnekaan, Menghidupi Persatuan” merupakan acara pembuka dari rangkaian Festival Kebhinnekaan Nusantara 2018. Talkshow ini diselenggarakan pada Jumat (31/8) oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gejayan dan didukung oleh Universitas Sanata Dharma (USD) bertempat di Taman Beringin Soekarno USD. Acara yang dimulai pada pukul 18.30 WIB ini mengundang 3 pembicara, yaitu Romo In Nugroho B. SJ. (Dosen Universitas Sanata Dharma),  Hastho Bramantyo (Komunitas Buddha), dan Gus Irwan Masduqi (Ponpes Assalafiyah).
Uniknya, acara ini diawali dengan penampilan 4 pengisi acara yang merupakan kaum muda yaitu Yunan Helmi ft. Rizca Ayu, GKI Gejayan Akustik, Komunitas Sekar Jepun USD, Kolaborasi paduan suara GKI Gejayan dan Hadroh Keluarga Mahasiswa NU yang menampilkan berbagai kesenian sekaligus mencerminkan bentuk keberagaman di Indonesia. Kemudian, acara dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua Penyelenggara yaitu Yunan Helmi, lalu Pdt. Paulus Lie selaku perwakilan Pendeta GKI Gejayan, dan yang terakhir oleh Romo Paulus Bambang Irawan SJ selaku Wakil Rektor III Universitas Sanata Dharma. Secara simbolis, para pemuka agama dan kaum muda yang hadir menyalakan obor untuk mengawali rangkaian acara Festival Kebhinnekaan Nusantara 2018.  
Memasuki inti acara, ketiga pembicara berdiskusi bersama mengenai tema dari acara ini, yaitu partisipasi kaum muda dalam merayakan kebhinnekaan dan menghidupi persatuan. Pada era milenial ini, kaum muda dituntut untuk dapat menghidupi keberagaman yang sudah diberikan oleh generasi sebelumnya. Sebagai kaum muda di #zamannow, sosial media merupakan akses untuk berbagi informasi kepada sesama. Mengenai hal tersebut, anak muda harus pandai dalam menyikapi berbagai isu di media sosial yang dapat menimbulkan perpecahan di antara umat beragama. Satu kalimat yang menarik dari Gusdur yakni, ‘Yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan’, yang dimana Gus Irwan Masduqi dengan sapaan akrab ‘Mas Jay’ sebagai salah seorang Gusdurian menasfsirkan “Manusia itu semuanya sama, tidak ada manusia A ataupun B, jadi jangan dibeda-bedakan”. Intinya, sebagai manusia yang hidup berdampingan, keberagaman itu nyata adanya dan harus tetap dilanjutkan.

Dalam acara ini, banyak komunitas lintas iman yang berpartisipasi untuk merayakan keberagaman. Salah satunya yakni dari Inter Faith Voice, sebuah paduan suara lintas iman yang dikoordinir oleh Vika menyampaikan bahwa kaum muda #zamannow ini harus memiliki toleransi yang kuat. “Kegiatan seperti ini harus sering dilakukan agar kedepannya masyarakat dapat lebih paham lagi kalo keberagaman itu indah.” tutur anak muda yang berkuliah di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Sebagai penutup acara talkshow, doa lintas iman dilakukan dengan menyalakan lilin oleh seluruh peserta.
(NP & ADY)  

  kembali