Lembaga Studi Realino (LSR) bekerja sama dengan Universitas Sanata Dharma (USD) kembali mengadakan Lokakarya Benedict Anderson Reader (BenAr) II, yang dilaksanakan di ruang seminar Driyarkara, Auditorium Kampus 2 USD, Kamis-Jumat (30-31/08/2018). Lokakarya ini mengangkat tema “Anarkisme Global & Imajinasi Antikolonial” dilatarbelakangi dari tulisan Benedict Anderson, yakni “Di Bawah Tiga Bendera”. Lokakarya yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri kurang lebih 100 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, baik dosen, mahasiswa, sastrawan, dan tentunya pembaca setia tulisan-tulisan Benedict Anderson.
Lokakarya BenAr untuk pertama kalinya diselenggarakan satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 13-14 Januari 2017. Alasan diadakannya lokakarya ini, Windarto selaku Ketua Panitia Pelaksana (OC) menjelaskan untuk melanjutkan karya dan kerja Ben Anderson sebagai peneliti kajian sosial dan humaniora di Indonesia khususnya, dan di Asia Tenggara pada umumnya. Peserta dari lokakarya BenAr II sebagian juga sudah mengikuti lokakarya BenAr I, salah satunya Ape. Saat ditemui usai acara, alumni Psikologi USD ini menuturkan bahwa dirinya sudah mengikuti BenAr sebelumnya dan memang menunggu untuk lokakarya ini “Saya sudah mengikuti dari BenAr I, karena tertarik dengan buku-buku milik Benedict Anderson dan karena bahasan kali ini juga menarik yaitu anarkisme jadi saya datang lagi”, jelasnya.
Lokakarya BenAr ini terbagi dalam tiga sesi, yaitu pembicara kunci, diskusi panel dan open talk. Hari pertama menghadirkan tiga narasumber, yakni Eka Kurniawan seorang penulis novel, cerpen dan esai sekaligus menjadi pembicara kunci dalam lokakarya, Budi Susanto, SJ., selaku wakil LSR dan Yerry Wirawan dari Fakultas Sastra USD sebagai narasumber dalam diskusi panel. Eka Kurniawan melalui tulisannya berjudul “Usaha Membaca Secara Anarki” menjelaskan bagaimana tokoh-tokoh dalam tulisannya tersebut memberikan gambaran “Anarkisme” sebagaimana yang dimengarti dirinya, yakni mewariskan kebebasan untuk mengembangkan sistem uniknya sendiri, selaras dengan kebutuhan. Tak hanya itu, Eka juga mengajak untuk melakukan, setidaknya dalam cara membaca apa pun sebagai bentuk membebaskan diri dan memberontak. Eka merasa sejalan dengan buku yang ditulis Benedict Anderson Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial. Kemudian dalam sesi berikutnya, diskusi panel yang menghadirkan Budi Susanto, SJ., dan Yerry Wirawan membagikan pendangan dan tanggapan mereka terhadap Novel Di Bawah Tiga Bendera karya Benedict Anderson dengan judul Anarkisme Tiga Bendera (di) Filipina Globalisasi Nasionalisme Asia Awal (Budi Susanto, SJ.) dan Di Bawah Tiga Bendera Dari Sudut Sejarah Indonesia (Yerry Wirawan).
Hari kedua sekaligus hari terakhir lokakarya BenAr mengahadrikan empat pembicara, yakni Ronny Agustinus dari Marjin Kiri dan Penerjemah, Melani Budianta dari Fakultas Sastra UI, Arief W. Djati selaku penulis dan aktivis, dan Bima Satria P. dari redaksi anarkis.org. Dalam sesi open talk bersama keempat narasumber ini, peserta diajak untuk melihat bagaimana tanggapan atau pandangan Benedict Anderson terkait anarkisme dan hubungannya dengan sejarah perkembangan anarkisme di Indonesia. Diakhir acara pihak panitia membuka usul-usulan terkait lokakarya BenAr III yang akan datang. Setelah mencapai kesepakatan, lokakarya berikutnya akan diselenggarakan dua tahun mendatang tahun 2020 didasari buku-buku tentang “Revolusi Pemuda”.
(VHPR & MBC)




