Service Learning Progam (SLP) merupakan salah satu kegiatan dari Association of Jesuit Colleges and University in Pasific (AJCU-AP). Kegiatan ini diikuti 8 Universitas Asosiasi Jesuit dari berbagai negara di Asia. Kedelapan Universitas itu terdiri dari Ateneo de Davao University, Ateneo de Manila University, Ateneo de Zamboanga University, Xavier University (Filipina), Instituto Sao Joao de Brito (Timor Timur), Sogang University (Korea Selatan), Sophia University (Jepang), dan Universitas Sanata Dharma (Indonesia).
Kegiatan SLP tahun ini berlangsung pada tanggal 1-14 Agustus 2018 di Jepang, tepatnya di Sophia University Tokyo, Jepang. Kegiatan SLP dilakukan setiap tahun dengan tujuan untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa mengenai Service Community sesuai dengan ajaran Pedagogi Ignasian. Adapun 6 mahasiswa yang menjadi delegasi mewakili Universitas Sanata Dharma yaitu Yohanes Willy Agusta (Farmasi 2015), Ruth Hanseliani Hutabarat (TI 2015), Tirza Agata Christyawidi (Sasing 15), Dona Laksana Putri (PBio 2015), Mutiara Nadia Radisa (PBSI 2015), dan Maria Rosiana Sedjahtera (Psikologi 2015).
Kegiatan SLP yang selalu diadakan setiap tahun memiliki tema yang berbeda sesuai dengan tempat berlangsungnya. Pada tahun ini, tempat pelaksanaan berada di Jepang dengan mengangkat tema tentang Post Disaster Recovery. Seluruh delegasi diajak untuk melakukan service community di tempat immersion yaitu Kamaishi City. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama (sekitar 6 jam dari Tokyo) ini dilaksanakan dari tanggal 4 – 10 Agustus 2018. Seluruh delegasi tinggal di basecamp volunteer yang telah disediakan.
Kimaishi City dipilih menjadi tempat tujuan diselenggarakan service comumunity karena 7 tahun yang lalu (tepatnya tanggal 11 Maret 2011), terjadi gempa yang menyebabkan tsunami. Bencana ini tentu saja memporak-porandakan daerah tersebut dan menyebabkan banyaknya korban jiwa, serta rusaknya infrastruktur di daerah tersebut. Untuk itu, dengan adanya kegiatan ini, para delegasi dipertemukan dengan para korban bencana gempa dan tsunami. Setiap harinya mereka akan melakukan kegiatan-kegiatan yang beranekaragam selama 6 hari.
Pada hari pertama para delegasi mempersiapkan tempat tinggal yang akan meraka tempati selama mereka berada di sana. Hari kedua, para delegasi memulai kegiatan dengan Misa bersama di Ofunato Church. Setelah itu para delegasi melakukan field study di Ofunato city dan Rikuzentaka city yang merupakan kota yang terkena dampak dari kejadian tsunami. Di sini mereka diperlihatkan betapa parah dan dampak yang ditimbulkan bagi kota yang damai ini. Rasa haru, tangis, dan kehilangan dalam hati masih sangat dirasakan para warga setempat. Ternyata, di tempat itu para delegasi bertemu dengan komunitas yang berisikan Warga Negara Filiphine yang tinggal dan menetap di daerah tersebut untuk bekerja, belajar, dan menikah dengan Warga Negara Jepang. Komunitas itu diberi nama Pagasa Club. Awalnya, anggota Pagasa Club tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Namun karena gempa yang menyebabkan tsunami inilah yang pada akhirnya mempertemukan mereka. Kemudian mereka saling berkenalan dan membuat kesepakatan supaya club ini digunakan sebagai salah satu cara untuk menghadapi traumatis akibat bencana dan menyambung tali silaturahmi. Mereka dipertemukan di Ofunato Church, yang mana gereja ini merupakan salah satu tempat pengungsian.
Hari ketiga (6/8), para delegasi berkunjung ke Cosmos Creative Farm. Tidak ada yang menyangka bahwa tempat ini merupakan area bermain bagi anak-anak. Sebelum bencana terjadi, tempat ini adalah sebuah perkebunan milik Nenek Seiko. Namun setelah diterjang gempa dan tsunami, perkebunan menjadi rusak dan tidak meninggalkan bekas. Pasca gempa dan tsunami, Nenek Seiko memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membantu para korban. Karena beliau melihat banyaknya korban yang masih anak-anak, maka beliau berinisiatif untuk membangun taman bermain bagi mereka supaya mereka tidak kehilangan masa kecilnya untuk bermain dan sedikit menghibur mereka setelah kejadian besar terjadi. Setelah dibangun taman bermain, ternyata Nenek Seiko merasa lebih senang, karena beliau bisa melihat keceriaan di wajah anak-anak setiap kali bermain di tempat itu. Kegiatan para delegasi di taman bermain milik Nenek Seiko adalah membantu Nenek Seiko untuk membersihkan taman tersebut karena rerumputan sudah terlihat sangat tinggi.
Seusai mengunjungi taman bermain, para delegasi mengunjungi Ito – Shoten Factory. Perusahaan ini didirikan 2 tahun sebelum tsunami terjadi (tepatnya pada tahun 2009). Ito – Shoten Factory merupakan salah satu pabrik rumput laut yang ikut hancur dan rusak akibat terjadinya tsunami. Sang pemilik sempat bertemu dan bercerita kepada para delegasi bahwa pasca terjadinya tsunami, seluruh karyawan tidak ada yang hengkang satupun. Mereka bersama-sama membangun kembali pabrik itu dan keluar dari keterpurukan bencana gempa dan tsunami. Namun malangnya, beberapa tahun setelah mereka berjuang, Jepang mengalami kebocoran nuklir. Hal ini menyebabkan pabrik yang mereka bangun kembali, hampir mengalami gulung tikar. Tentu saja, akibat berita kebocoran nuklir mengakibatkan penjualan mereka terganggu. Banyak orang yang mengatakan bahwa bahan pangan yang telah diproduksi oleh Ito-Shoten Factory terkena paparan kebocoran nuklir. Kemalangan ini tidak lantas mengerdilkan semangat mereka untuk kembali berjuang mempertahankan pabrik yang telah dengan susah payah mereka bangun kembali. Hingga saat ini mereka telah berhasil membuktikan, bahwa produk yang mereka hasilkan tidak terkena paparan nuklir seperti apa yang telah diberitakan sebelumnya.
Hari berikutnya (7/8), para delegasi mengunjungi Unosumai Nursery School. Tempat ini merupakan Taman Kanak-Kanak yang ada di Kamaishi. Para delegasi akan membagikan berbagai jenis makanan dan minuman untuk para siswa di sana. Mereka dibagi ke dalam stand-stand yang telah disediakan. Semua siswa tampak begitu senang, keceriaan seluruh siswa ini tentu membawa semangat baru bagi para delegasi. Keesokan harinya (8/8), para delegasi kembali berkegiatan dengan mengunjungi panti jompo Sennin-no-sato Nursing Home. Di sana para delegasi diterima dengan sangat hangat. Bahkan beberapa sampai ada yang menitikkan air mata karena teringat dengan orang-orang tersayang di rumah. Kesedihan bertambah ketika mereka tidak dapat berkomunikasi dengan lancar, karena kesulitan berbahasa. Namun niat untuk berbagi suka cita tidak berhenti, beruntung mahasiswa dari Sophia University (Jepang) bersedia mengartikannya ke dalam Bahasa Inggris. Hingga tiba saatnya mereka untuk berpisah, kesedihan semakin terasa karena beberapa diantaranya tidak mau ditinggal oleh para delegasi. Mereka mengucapkan “matane” yang artinya pasti akan bertemu kembali sebagai akhir dari pertemuan di hari itu.
Pada tanggal 9/8, merupakan hari yang sangat berat karena para delegasi dipertemukan dengan para korban tsunami. Kesedihan masih sangat terasa di wajah para korban hingga saat ini. Banyak diantara mereka yang kehilangan teman, keluarga, dan sanak saudara. Hal ini tentu tidak diingikan oleh orang-orang pada umumnya. Kesedihan demi kesedihan yang terjadi masih sangat sulit untuk dituntut pergi. Banyak penyesalan yang terjadi, seperti ada diceritakan seseorang yang sebelum tsunami terjadi sempat menolak dimintai tolong oleh ibunya untuk mengantarkan ke rumah sakit karena sang ibu sedang sakit. Ia malah berangkat pergi dan meninggalkan ibunya begitu saja di rumah. Namun penyesalan hanyalah tinggal penyesalan. Sampai saat ini ia masih belum bertemu kembali dengan ibunya dan bahkan lebih parahnya lagi, ia tidak tahu di mana keberadaan sang ibu apakah ia masih hidup ataukah sudah meninggal. Di sinilah kesedihan para delegasi memuncak, selain harus mendengarkan kepiluan korban tsunami, para delagasi harus bisa menutupi kesedihan mereka agar tidak membuat para korban begitu terlarut dalam kesedihan.
Kegiatan SLP berlangsung sangat baik dan luar biasa. Para delagasi mengalami suatu kegiatan yang sangat jauh dari ekspektasi mereka. Mereka mendapatkan apa yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Tentu hal ini mengundang keinginan dari mereka untuk bisa membantu lebih dari apa yang telah mereka lakukan. Kegiatan ini tentu mendewasakan seluruh peserta delegasi, bukan hanya selama melakukan program-progam yang telah mereka susun, namun hal ini juga membuat mereka terketuk untuk membagikan cerita-cerita ini kepada orang lain, pasca SLP berakhir. Selama prosesnya, para delegasi juga mendapatkan banyak keuntungan selain pengalaman yang luar biasa. Adapun keuntungan dari para delegasi Universitas Sanata Dharma yang berhasil mereka dapatkan adalah teman-teman baru yang berasal dari berbagai Universitas di Asia. Selain itu, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk menceritakan dan mengenalkan keindahan Indonesia kepada Warga Negara lain. Tentu saja masih banyak hal lain yang mereka dapatkan selain yang telah disebutkan di atas.
Dona Laksana Putri, yang merupakan salah satu delegasi mengatakan, “kepada siapapun kalian yang suatu saat menjadi delegasi SLP selanjutnya, jangan pernah berhenti untuk selalu menggali kemampuan diri, karena lewat SLP, kalian bisa menggunakannya sebagai wadah menggali kemampuan diri kalian yang mungkin belum kalian ketahui.” tutur mahasiswa semester 7 Pendidikan Biologi ini. Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada kata menyesal setelah mengikuti kegiatan ini. Justru ia merasa sangat beruntung dan bersyukur karena mendapatkan pengalaman yang begitu luar biasa ini.
(APV & KYP)




