Sudah 19 tahun berlalu sejak Romo YB Mangunwijoyo wafat, namun semangat serta harapannya masih tetap menyala-nyala hingga saat ini. Hal inilah yang selalu menjadi pedoman bagi generasi penerus saat ini, tak terkecuali oleh para civitas akademika Universitas Sanata Dharma (USD). Lewat perjalanan hidupnya selama tahun 1987-1989, Romo Mangun rela membangun gubug kecil di pinggirin tepi pantai Grigak dan tinggal di sana untuk membantu masyarakat sekitar untuk mengalirkan air tawar dari tepi laut ke pemukiman penduduk yang jaraknya sekitar 2,5 km dari lokasi mata air. Semangat dari Romo Mangunwijoyo kini dilanjutkan oleh Romo Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ. selaku penggagas berdirinya Eco-Camp Mangun Karsa dan progam eduwisata ekologis di Pantai Grigak.
Romo Wir sapaan akrabnya, mengajak seluruh civitas akademika dari berbagai universitas katolik untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan eco-camp Mangun Karsa dan progam eduwisata ekologis. Selain pihak-pihak dari universitas diajak untuk menggelorakan semangat Romo Mangun, para masyarakat sekitar Pantai Grigak juga ikut terlibat langsung dalam pembangunan ini. Jika dulu Romo Mangun berhasil mengangkat air tanah sampai ke pemukiman warga, kali ini Romo Wir ingin mengembangkan daerah Pantai Grigak bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat saja, namun lebih-lebih untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis edukasi.
Bersama para narasumber dari berbagai macam latar belakang pendidikan, kegiatan Seminar Sanata Dharma Berbagi dapat terselenggara pada hari Kamis, 23 Agustus 2018 di Ruang Koendjono, Kampus II USD Mrican. Kegiatan Seminar Sanata Dharma berbagi ini bertemakan “Eco-Camp Mangun Karsa dan Peluang Pengembangan Penelitian-Penelitiannya”. Peserta yang mengikuti kegiatan seminar ini berasal dari mahasiswa, dosen, perwakilan dari sekolah, perwakilan universitas mitra, dan masyarakat umum yang berjumlah ±150 peserta.
Pada awal kegiatan seminar, Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., selaku Rektor USD memberikan sambutan. “USD memiliki tridharma yang diimplementasikan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Saya mengajak semua elemen untuk menghayati makna tridharma dan diwujudkan dalam aksi nyata. Sama seperti yang sudah dilakukan oleh Romo Wiryono dan juga kawan-kawan dalam mengembangkan kawasan Pantai Grigak sebagai destinasi Eco-Camp Mangun Karsa. Berbagai aspek ilmu pengetahuan diterapkan menjadi satu gagasan yang sangat integratif dan berjalan serempak secara institusional. Inilah bukti nyata, contoh konkrit dari nilai penelitian serta pengabdian kepada masyarakat para civitas akademika USD. Semoga usaha-usaha kita membuahkan komitmen, semangat, visi yaitu menjadi penggali kebenaran.” tutur Rektor USD.
Seminar Sanata Dharma Berbagi dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, narasumber seminar adalah Romo Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ dan Luisa Diana Handoyo, M.Si. yang membawakan tema tentang “Eco-Camp Mangun Karsa dan Penelitian Eduwisata Ekologis”, kemudian dilanjutkan oleh Dr. Ir. Iswanjono, M.T dengan tema “Penelitian Konservasi Air dan Energi”. Pada pemaparan seminar yang disampaikan oleh Romo Wir, beliau menyampaikan tujuan pembangunan, pengembangan progam, dan penyiapan lokasi eco-camp Mangun Karsa. Adapun tujuan utama dalam pembangunan Eco-Camp Mangun Karsa adalah untuk pelestarian sumber air temuan Romo Mangun lewat konservasi lingkungan dan pemanfaatan airnya secara berkelanjutan bagi masyarakat. Sementara tujuan sampingannya adalah untuk pembangunan sumber energii terbarukan, konservasi ekosistem karts beserta biodiversitasnya. Edu-wisata ekologis, dan penelitian serta pendidikan lingkungan. Berdasarkan dari tujuan yang telah disampaikan, maka akan dikembangkan sejumlah program, yaitu Konservasi Sumber Air, Lingkungan, dan Pemanfaatan Airnya; Pengembangan Sumber Energi Terbarukan; Konservasi Ekosistem Karts & Biodiversitasnya; Eco-Wisata; Penelitian dan Pendidikan Ekologi.
Sementara itu, Luisa Diana Handoyo, M.Si. memaparkan mengenai kegiatan pembelajaran Service Learning pada Mata Kuliah Healing Earth di Program Studi Pendidikan Biologi USD yang telah diselenggarakan selama satu semester di Pantai Grigak. Dalam proses pembelajaran kali ini, mahasiswa diajak untuk menemukan masalah atau kendala yang ada di wilayah pemukiman warga Pantai Grigak, kemudian melakukan perencanaan dan persiapan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Setelah itu, mahasiswa melakukan aksi. Aksi yang dilakukan tentu saja untuk menanggulangi permasalahan yang mereka temukan. Adapun permasalahan yang ditemukan adalah kekurangan air. Kekurangan air yang terjadi di kawasan Pantai Grigak ini menyebabkan permasalahan di beberapa bidang, di antaranya adalah pertanian, peternakan, home industry, dan pengelolaan air. Kegiatan Service Learning ini sangat menarik perhatian masyarakat sekitar dan membuat mereka menjadi sangat senang karena merasa diperhatikan.
Narasumber selanjutnya yaitu Dr. Ir. Iswanjono, M.T. yang mengangkat tema “Energi Air yang Tak Pernah Habis Warisan Romo Mangun” menceritakan tentang bagaimana beliau menggunakan alat-alat yang sekiranya mampu digunakan untuk memanfaatkan energi yang ada. potensi energi terbarukan sebagai bahan penelitian yang ada di lahan Romo Mangun antara lain energi matahari, angin, ombak, arus air laut dan biomassa. Hingga kini, hasil upaya yang sekarang sudah dilakukan masih belum efisien sehingga perlu dilakukan penelitian- penelitian lebih lanjut. Berakhirnya sesi pertama ini ditutup dengan pertanyaan dan diskusi dari audiens kepada narasumber.
Sesi kedua dilanjutkan setelah ishoma dengan narasumber Drs. A. Tri Priantoro, M.For.Sc. dengan tema “Penelitian Konservasi Ekosistem Karst” dan Dr. Titus Odong Kusumajati, M.A. dengan tema “Penelitian Pemberdayaan Masyarakat”. Pada saat penuturan materi oleh Pak Tri, beliau menyampaikan bahwa kawasan Karst di sepanjang Gunung Kidul hingga Pacitan menyimpan berbagai potensi, antara lain : sungai bawah tanah, gua, telaga, keanekaragaman hayati, dan mineral. Diperlukan kajian tentang ekologi agar penentuan status konservasi suatu spesies dan ekosistem dapat diaplikasikan. Dengan tersedianya informasi yang cukup prioritas kegiatan konservasi dapat diputuskan untuk menjaga fungsi- fungsi ekosistem dan melestarikan kawasan karst.
Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Dr. Titus Odong Kusumajati, M.A. Pak Titus mengawali dengan memaparkan data mengenai mata pencaharian masyarakat Pantai Grigak, jenis kelamin, agama, dan tingkat pendidikannya. Adapun hasilnya, masyarakat sekitar banyak yang bermata pencaharian sebagai petani (sebanyak 86%). Untuk itu sesuai dengan tujuan eco- camp Mangun Karsa dilakukan pemberdayaan komunitas untuk mendorong masyarakat supaya berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat ikut berpartisipasi.
Dari pemaparan seluruh narasumber yang ada, para peserta cukup antusias dengan jalannya seminar. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta terhadap jalannya seminar. Diharapkan dari kegiatan seminar Sanata Dharma Berbagi ini akan muncul orang-orang yang akan terus menggelorakan semangat dari Romo YB Mangunwijoyo.
(APV & KYP)




