Awal perkuliahan semester gasal menjadi momentum baru bagi seluruh Sivitas Akademika untuk semakin bersemangat dalam berkarya. Mengawali perkuliahan semester baru pun Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan misa untuk berdoa bersama demi kelancaran Semester Gasal Tahun Akademik 2018/2019. Perayaan misa ini dilaksanakan pada hari Senin, 20 Agustus 2018 pukul 07.15 WIB yang dikoordinir oleh Campus Ministry USD. Pelaksanaan misa bertempat di Student Hall Kampus I USD Mrican dan juga di Ground Gedung Utama Kampus III USD Paingan dengan waktu pelaksanaan yang sama. Misa kali ini juga menjadi spesial karena kolekte persembahan pada misa ini akan disalurkan untuk membantu meringankan korban bencana gempa bumi di Lombok.
Sejak pukul 07.00 WIB, Sivitas Akademika USD sudah berkumpul dan menempati setiap tempat duduk yang sudah disiapkan oleh penyelenggara misa. Mahasiswa baru, mahasiswa lama, karyawan, serta dosen saling berbaur menjadi satu bersiap mengikuti misa. Seluruh tempat yang disediakan terisi penuh oleh Sivitas Akademika USD yang haus akan firman Tuhan.
Misa pun dimulai tepat pada pukul 07.15, Romo Beni dan Romo Eko berkesempatan untuk memimpin jalannya misa pada awal perkuliahan semester genap kali ini. Saat homili, Romo Beni mengawali dengan memberikan sebuah cerita nyata tentang 12 remaja di Thailand yang terjebak di dalam gua selama 2 pekan. Kejadian yang menimpa para remaja yang hendak bertamasya di gua malah berujung menjadi musibah. Banjir datang secara tiba-tiba dan menutup seluruh gua sehingga para remaja terjebak di dalam gua. Kejadian ini mendapatkan perhatian dari seluruh penjuru dunia, tak terkecuali oleh dr. Richard Harris yang merupakan seorang dokter spesialis anestesi. Selain berprofesi sebagai dokter spesialis, ia juga seorang penyelam (diver) profesional.
Saat proses evakuasi berlangsung, dr. Richard Harris menolong seluruh korban dengan memberikan anestesi kepada masing-masing korban agar setiap korban tenang dalam proses evakuasi. Ilmu yang diterapkannya selama menjadi dokter dapat diterapkannya untuk menolong sesama. Pada akhirnya seluruh korban terselamatkan. Namun takdir dari sang Pencipta tak bisa dihindari, pada saat yang bersamaan dr. Harris harus kehilangan ayahnya saat menyelamatkan korban evakuasi gua di Thailand. Di satu sisi dr. Harris sudah melakukan sebuah aksi kemanusiaan yang sangat heroik, namun di saat yang sama sang ayah harus berpulang ke rumah Bapa tanpa ditemani dr. Harris pada detik-detik terakhirnya.
“Sikap teladan yang dicontohkan dr Richard Harris inilah yang perlu kita tiru. Semua ilmu yang sudah diperoleh dr. Harris untuk menjadikannya seorang dokter diperoleh dengan kerja keras. Tekun, semangat, dan pantang menyerah menjadikan kita semakin berilmu. Namun seiring dengan banyaknya ilmu yang kita miliki tidak menyurutkan niat kita untuk berbuat makin manusiawi. Seperti dr. Harris yang memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menolong sesamanya, bahkan hingga yang tidak mengenal sekalipun. Dia meninggalkan segala keegoisannya demi menyelamatkan korban.” tutur Romo Beni.
“Mahasiswa haruslah memiliki semangat menimba ilmu yang kuat pada awal semester ini. Jangan sampai rontok semangatnya di tengah jalan. Canangkan niat dan tujuanmu agar kalian semakin berilmu dan dapat menjadi suluh bagi dunia ini.” kata Romo Beni mengakhiri homilinya.
(KYP & CPBS)




