USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Nasional PPG oleh USD Bersama Ristekdikti

diupdate: 8 tahun yang lalu


Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Ristekdikti) mengadakan Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada Jumat (27/07) bertempat di Ruang Koendjono Kampus II USD. Seminar Nasional ini mengundang Prof. Dr. Paulus Suparno, S.J., M.S.T. dari USD dan Dr. Totok Bintoro, M.Pd. dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai pembicara; serta Dr. C. Teguh Dalyono, M.Pd. dari USD sebagai moderator. Peserta seminar dengan tema “Guru sebagai Panggilan Hidup” ini merupakan mahasiswa PPG bersubsidi, SM3T, para dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USD, serta peserta umum.
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Sanata Dharma oleh seluruh peserta. Kemudian dalam sambutannya, Dekan FKIP USD yaitu Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. mengatakan bahwa kualitas pendidikan adalah salah satu pergulatan bangsa Indonesia dan penunjang kualitas pendidikan adalah guru. Maka dari itu beliau mengajak para peserta untuk mengikuti seminar nasional ini dengan baik agar ke depannya dapat menjadi guru yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor USD mengatakan bahwa tema seminar nasional kali ini merupakan sesuatu yang tidak mudah. “Kebahagiaan hidup diraih dari panggilan hidup, maka hidupilah panggilan hidup Saudara agar mendapat kebahagiaan hidup di hari tua.” ujar beliau.

Pada sesi pertama, pemaparan materi diberikan oleh Prof. Dr. Paulus Suparno, S.J., M.S.T. dengan judul topik “Spiritualitas Guru”. Beliau mengatakan, sering kita mendengar dan mengalami ada beberapa guru yang dalam menjalankan tugas mendidik di sekolah tidak bergairah, loyo, tidak kreatif, dan asal mengajar. Namun ada juga guru yang dalam menjalankan tugas mengajar sangat bersemangat, kreatif, dan inovatif. Landasan mendasar atas dua perbedaan tersebut adalah spiritualitas sebagai landasan dasar tindakan mereka. Untuk menjadi guru atau pendidik yang sungguh rela membantu anak didik, diperlukan semangat atau spiritualitas mendidik yang tinggi dan tepat. Salah satunya adalah kesadaran bahwa mendidik ini adalah tugas panggilan yang diberi oleh Tuhan untuk memberi manfaat kepada sesama. Tugas mendidik merupakan andil dan tanggung jawab seorang guru akan kemajuan bangsa. Kesadaran inilah yang perlu dikembangkan agar spiritualitas guru semakin tinggi.
Dilanjutkan pada sesi kedua pemaparan oleh Dr. Totok Bintoro, M.Pd. yang memberi materi mengenai “Guru sebagai Panggilan Hidup”. “Pada hakikatnya, pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan negara dan bangsa. Pendidikan dilaksanakan oleh guru-guru yang profesional akan menghasilkan generasi yang siap untuk pendidikan lanjut, hingga menjadi generasi yang tangguh dalam menghadapi zaman. Keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas kependidikannya ditentukan oleh dua hal utama, yaitu kompetensi dan panggilan jiwa. Panggilan jiwa inilah yang nantinya akan mewujudkan karakter guru pendidik.” tutur dosen yang mengajar di UNJ.
Beliau menambahkan bahwa guru bukanlah pekerjaan yang sekedar mencari penghasilan, guru adalah sebuah panggilan jiwa. Jika ada guru yang orientasinya adalah sekedar bekerja untuk mencari nafkah, maka harapan bahwa mendidik adalah untuk memanusiakan manusia tidak akan pernah terjadi. Kelompok guru ini disebut sebagai “Penitip (Pendidik Tanpa Ilmu Pendidikan)”. Jangan sampai dari kalian memiliki orientasi menjadi guru pencari nafkah, akan tetapi menjadi guru pendidik yang memberikan seluruh tenaga, ilmu, serta jiwa raganya untuk keberhasilan anak didiknya baik saat mengikuti pendidikan maupun masa mendatang.
Guru merupakan salah satu kunci utama peningkatan mutu pendidikan. Belajar dari Finlandia dan Jepang yang memiliki pendidikan yang sangat bagus karena memiliki guru-guru yang berkualitas tinggi. Kedua negara tersebut bahkan menempatkan guru sebagai profesi yang terhormat. Hal itulah yang patut bangsa kita contoh. Untuk menghasilkan guru-guru yang unggul dan kompeten harus dimulai dari sistem seleksi yang bermutu, yaitu sistem seleksi yang bisa mendapatkan calon pendidik yang baik secara akademik, serta memiliki bakat, minat, dan panggilan jiwa untuk menjadi seorang guru, dilanjutkan dengan proses pendidikan guru di LPTK yang bermutu, serta jaminan mutu prima pendidikan di saat telah menjadi seorang guru.
Berkembangnya zaman menjadi sebuah tantangan baru bagi dunia pendidikan bangsa ini. Generasi Z yang memiliki karakteristik fasih dalam teknologi digital, berkomunikasi secara global melalui jejaring sosial, dan biasa mengerjakan kegiatan yang bersifat multitasking, memerlukan pendampingan dan tuntunan para pendidik yang profesional dan visioner. Oleh karena itu, harapan kini dipikul oleh guru-guru pendidik agar dapat membawa generasi emas bangsa di puncak kejayaan. Perlunya sikap taqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, welas asih terhadap sesama, cinta tanah air, cerdas dan terampil harus dimiliki oleh setiap guru pendidik bangsa Indonesia.
 (ATP & KYP)

  kembali