USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Hari Studi Dosen USD: "Revolusi Industri 4.0 dan Pendidikan Tinggi"

diupdate: 8 tahun yang lalu


Salah satu isu strategis yang dibahas dalam Rencana Strategis (Renstra) Universitas Sanata Dharma (USD) 2018-2022 adalah sistem pendidikan yang tanggap zaman. Dalam Renstra tersebut, USD perlu meningkatkan relevansi dan keunggulan program studi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam konteks saat ini, revolusi industri 4.0 merupakan salah satu tuntutan zaman yang seharusnya diperhatikan oleh USD. Oleh karena itu pada hari Selasa (12/6), USD melalui Sekretariat Mission and Identity menyelenggarakan kegiatan Hari Studi Dosen dengan tema “Revolusi Industri 4.0 dan Pendidikan Tinggi” yang diikuti oleh seluruh Dosen USD. Kegiatan yang bertempat di Ruang Drost Kampus 3 USD Paingan ini menghadirkan Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit (Institut Perbanas) sebagai Narasumber, Ignatius Aryono Putranto, SE, M.Acc., Akt. (FE USD) sebagai Penanggap, dan Stephanus Eri Kusuma, SE, M.Sc. (FE USD) sebagai Moderator.

Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. saat memberikan sambutan menyampaikan permenungan kecil atas realitas keseharian yang beliau alami ketika berangkat dan pulang kantor. Realitas tersebut adalah merebaknya fenomena ‘Pak Ogah’ di hampir setiap pertigaan atau perempatan jalan yang ramai lalu lintas kendaraan. “Kehadiran ‘Pak Ogah’ menjadi tanda yang sangat kuat, betapa besarnya pengangguran di Indonesia. Saya rasa pemerintah hampir tak berdaya, karena membiarkannya, atau mungkin pemerintah justru merasa terbantu karena kemacetan lalu lintas ternyata dapat menciptakan lapangan pekerjaan.” kata Rektor di tengah sambutannya. Lebih lanjut Rektor USD mengatakan bahwa fenomena tersebut kalau kita kaitkan dengan visi Universitas Sanata Dharma tentang bagaimana kita membantu bangsa untuk meningkatkan martabat manusia, salah satu persoalannya adalah bagaimana memberikan lapangan pekerjaan yang layak kepada masyarakat. Dengan adanya teknologi internet dan saat ini munculnya wacana terkait revolusi industri serta semakin cerdasnya kecerdasan buatan, tentu kita bertanya apakah akan menjadi lebih ideal atau justru menciptakan jumlah pengangguran yang lebih banyak karena pekerjaan-pekerjaan sederhana akan bisa diambil alih oleh mesin. “Oleh karena itu, dengan kegiatan Hari Studi Dosen ini saya berharap dapat membantu kita mengatasi tantangan dan ancaman sehingga kita dapat lebih siap mendampingi kaum muda memasuki dunia baru dan kita sebagai institusi pendidikan dapat membantu bangsa mengatasi pengangguran.” tutur Rektor USD.

Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit sebagai Narasumber dalam materi paparannya menjelaskan Revolusi 1.0 sampai dengan Revolusi 4.0. (Revolusi 1.0) Pada dasarnya era ini diwarnai dengan berbagai fenomena mekanisasi, di mana industri fokus pada mobilisasi sumber daya secara masif untuk dukung proses industri; (Revolusi 2.0) Dengan ditemukannya listrik yang dipadukan dengan industri besi/baja/batubara, maka melalui mobil dan kereta api terjadi mobilisasi manusia secara masif di dunia; (Revolusi 3.0) Penemuan komputer dan internet merupakan awal dari Era Informasi sejalan dengan mobilisasi data secara masif yang meruntuhkan batasan ruang dan waktu; dan (Revolusi 4.0) Pada era ini, pemanfaatan teknologi mampu memobilisasikan entitas pengetahuan dan kognisi secara cepat, murah, dan masif – sehingga terjadi fenomena disrupsi.

Kemudian Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit membahas lebih lanjut tentang Revolusi 4.0. Begitu banyak buzzwords atau terminologi yang mencirikan era Industri 4.0, di mana keseluruhannya saling konvergensi membentuk Cyber Physical System. Gawai digital seperti handphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seorang individu, sehingga keberadaannya menjadi kunci dalam memahami aktivitas/perilaku. Hubungan antar manusia dapat dilakukan secara cepat, mudah, dan murah tanpa mengenal batas ruang dan waktu (24/7) – membentuk kultur interaksi baru. Kemudahan akses terhadap aplikasi, informasi, dan teknologi membuahkan berbagai Inisiatif di kalangan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kinerja aktivitasnya. Tidak saja manusia yang dapat saling berinteraksi, namun berbagai piranti dan entitas fisik berbasis digital dapat pula saling “berbicara” karena adanya interkoneksi maya. Interaksi antarmanusia dan/antar perangkat digital melahirkan repositori data raksasa yang kaya akan makna karena berisi: catatan interaksi, rekamjejak, aset digital, dan sebagainya. Hasil analisa terhadap data dapatmelahirkan berbagai informasi, pengetahuan, dan wisdom yang bermanfaat bagi kehidupanmanusiamelalui berbagai aplikasinya Hasil analisa terhadap data dapat melahirkan berbagai informasi, pengetahuan, dan wisdom yang bermanfaat bagi kehidupan manusia melalui berbagai aplikasinya. Sejalan dengan manfaat yang ditimbulkannya, risiko negatif merupakan ancaman bagi mereka yang tidak mempersiapkan strategi pengamanan terhadap data dan informasi. Komunitas mandiri (madani) memperoleh momentum melalui adopsi modal tata kelola mandiri berbasis kepercayaan yang dikembangkan untuk komunitas tertentu.

Seusai menyampaikan materinya yang menjelaskan “Revolusi 4.0”, selanjutnya Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit menyampaikan materi tentang “Tantangan Perguruan Tinggi di Dunia”. Menurut beliau, University 4.0 menghasilkan manusia dan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan Industri 4.0 melalui pendekatan pembelajaran dan penelitian yang berbasis pada beragam teknologi terkait. Perguruan tinggi perlu “Open Mind dan Open Heart” dalam berinovasi untuk beradaptasi dan beradopsi dengan dinamika perubahan yang terjadi secara global. Untuk menjadi perguruan tinggi yang cerdas, berbagai kreasi dan inovasi perlu dilakukan secara sadar dengan pendekatan holistik, komprehensif, dan sistemik. Sudah saatnya perguruan tinggi melakukan “Reality Check” dan “General Checkup” untuk melihat fenomena eksternal dan internal yang terjadi di seputar institusi. Seluruh dunia baru belajar menerapkan konsep Industri 4.0 dalam dunia pendidikan tinggi - tidak perlu ragu ataupun takut untuk memulainya terlebih dahulu.

Setelah pemaparan materi dari Narasumber selesai, kegiatan Hari Studi Dosen dilanjutkan dengan tanggapan atas materi, tanya jawab, kemudian diteruskan diskusi dalam kelompok-kelompok peserta, lalu pemaparan dari kelompok-kelompok.


(YM)

  kembali