Bertempat di El Betel, Karangpandan, Karanganyar, Surakarta (25 – 27 Mei 2018), Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI) mengundang para instruktur Kursus Kepala Sekolah (KKS) SD untuk melakukan refleksi bersama. Didampingi Romo Ageng Marwoto, SJ.; Romo Markus Wanandi, SJ.; Romo Istanto, SJ.; Romo Yoedho, SJ; dan Romo Mintara, SJ.; 22 instruktur KKS melaporkan, mengevaluasi, dan merefleksikan perjalanan selama tahun 2017-2018, dalam konteks pelaksanaan KKS SD di Sekolah-sekolah Kanisius dan Perkumpulan Strada. Dua dosen Universitas Sanata Dharma (USD), yaitu Ibu. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. dan Markus Budiraharjo, Ed.D. hadir sebagai bagian dari tim KKS ASJI.
Kilas balik Kursus Kepala Sekolah
Apa yang berlangsung di Sekolah-sekolah Kanisius dan Perkumpulan Strada saat ini, khususnya terkait dengan pelatihan kepemimpinan Kepala Sekolah, tidak bisa dilepaskan dari terobosan tiga lembaga pada tahun 2007 yang lalu. Tiga lembaga tersebut adalah USD, ASJI, dan Loyola University Chicago (LUC). ASJI mengirimkan 10 guru (2 imam Jesuit dan 8 guru-guru awam) untuk belajar kepemimpinan instruksional di LUC. USD mengirimkan dua dosennya untuk menemani ke-10 guru di dalam studi magister mereka. Semenjak kembali ke Tanah Air pada tahun 2009, para instruktur lulusan LUC ini telah melakukan berbagai pelatihan dan pendampingan kepada banyak Kepala Sekolah dan calon Kepala Sekolah.
Pada tahun 2015, diputuskan untuk memperluas cakupan pelatihan. Bila sebelumnya fokus pelatihan terbatas pada Sekolah Menengah, fokus berikutnya adalah pelatihan bagi para pemimpin di sekolah-sekolah dasar. Pada tahun 2016, 30 guru dari Sekolah-sekolah Kanisius dan Perkumpulan Strada (Keuskupan Agung Jakarta), mendapatkan pelatihan selama satu tahun (empat kali pertemuan). Dari 30 peserta itu, diperoleh 22 calon pelatih kepemimpinan. Orang-orang ini lah yang pada tahun 2017-2018 berdinamika untuk membagikan pengalaman dan keterampilan mereka kepada rekan-rekan kepala sekolah dan calon-calon kepala sekolah.
Dua gaya yang saling melengkapi
Pelatihan kepemimpinan sekolah dibagi secara geografis ke dalam dua kelompok, yaitu bagian barat (Perkumpulan Strada) dan bagian timur (Sekolah-sekolah Kanisius, yang terdiri dari empat wilayah, yaitu Cabang Yogyakarta, Cabang Magelang, Cabang Surakarta, dan Cabang Semarang). Para instruktur dari Perkumpulan Strada memberikan laporan pertama. Laporan disusun dengan rapi, lengkap dengan data, rekaman proses, dan hasil evaluasi beserta refleksinya. Para instruktur dari Sekolah-sekolah Kanisius memberikan laporan kedua. Berbeda dari laporan pertama, yang ditampilkan para instruktur Kanisius lebih menampilkan laporan dengan rajutan kompleksitas yang serba dinamis.
“Laporan disusun dengan cara serapi mungkin. Berbagai hal dicatat dan direkam. Semuanya dibuat transparan. Siapapun bisa belajar. Jadi kalau generasi berikut mau mengadakan pelatihan yang sama, tinggal membaca tiga dokumen, yaitu proposalnya, modulnya, dan laporan kegiatannya.” tegas Robertus Tujo, Wakil Direktur Perkumpulan Strada.
“Cara rekan-rekan dari Strada dalam membuat laporan akhir sangat bagus. Proses untuk mengukur kinerja masing-masing peserta telah dilakukan dengan cara yang transparan. Ini tampaknya yang menjadi catatan tersendiri dari rekan-rekan dari Kanisius. Para peserta sudah semestinya mendapatkan kejelasan tentang apa yang mau diukur, dan bagaimana pengukuran dilakukan.” papar Ibu Wigati memberikan evaluasinya.
“Apa yang ditampilkan oleh perwakilan Strada menjadi contoh yang sudah semestinya diteladani. Di lain pihak, apa yang ditampilkan oleh rekan-rekan Kanisius, tidak bisa begitu saja dibandingkan dengan yang dari Strada. Keduanya menampilkan keunikan. Secara geografis, sosial-ekonomi, akses terhadap sumber-sumber daya, Kanisius jauh di belakang. Namun, yang harus digaris-bawahi justru kesediaan untuk saling belajar dalam kesederhanaan.” sambut Markus Budiraharjo, Ed.D.
“Terlepas dari capaian atau kegagalan kita, yang mutlak harus tetap dicari adalah api Roh Kudus yang akan membakar kita semua, di dalam setiap pelayanan dan pengabdian kita. Siapkah kita untuk senantiasa menjaga api tersebut?” tantang Romo Markus Wanandi, SJ, dalam homilinya.
“Aksi macam apa yang hendak kita ambil sesudahnya? Perbaikan modul tentu menjadi pilihan mutlak. 29 November - 2 Desember 2018 dijadwalkan untuk mengesahkan hal-hal apa saja yang akan dilakukan oleh Jesuit untuk tahun berikutnya. Kegiatan KKS akan menjadi satu usulan kegiatan tahun 2019.” Romo Ageng Marwata, SJ, Ketua ASJI, memberikan penegasan.
(eMBi)




