USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Sanata Dharma Berbagi: "Teknologi dan Masyarakat"

diupdate: 9 tahun yang lalu


Visi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Sanata Dharma (USD) adalah menjadi penggali kebenaran yang unggul dan humanis dalam bidang sains dan teknologi demi terwujudnya masyarakat yang semakin bermartabat, visi ini menegaskan bahwa FST USD semestinya hadir untuk turut terlibat dalam persoalan kemanusiaan. Kehadiran FST USD tidak bagi dirinya sendiri dalam suatu menara gading pendidikan tinggi, namun terlebih harus memberi manfaat bagi masyarakat. Untuk itulah FST USD mengadakan Seminar Sanata Dharma Berbagi dengan tema “Teknologi dan Masyarakat”.
Seminar ini diadakan pada tanggal 27 April 2018 diRuang Seminar LPPM, Kampus II USD Mrican, dihadiri oleh Rektor USD, para dosen USD, beberapa instansi mitra: Universitas Nusa Cendana Kupang, Universitas  PGRI Yogyakarta, STMIK AKAKOM Yogyakarta, Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, ASMI Santa Maria, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, dan IST Akprind Yogyakarta.
Rektor USD Johanes Eka Priyatma, M.Sc.,Ph.D. dalam sambutannya menegaskan bahwa relasi antara teknologi dan masyarakat sangatlah kompeks dan rumit, dapat dilihat pada negara berkembang di mana masyarakatnya menjadi objek dan tidak pernah menjadi subjek pada teknologi tersebut. Teknologi mestinya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama di Indonesia yang notabene adalah negara berkembang.
Sebagai salah satu wujud upaya untuk ikut menghadirkan pencerahan yang mencerdaskan di bidang sains dan teknologi bagi masyarakat, hasil penelitian para dosen FST USD (terutama para doktor baru FST) direncanakan untuk didiseminasikan dan didiskusikan dalam rangkaian seminar Doktor Baru “Sanata Dharma Berbagi” tahun 2018. Di samping itu, diharapkan pula dalam forum ilmiah ini terjalin kerjasama yang nyata dengan peserta seminar dari institusi pendidikan, lembaga pemerintah, maupun swasta, untuk mengimplementasikan gagasan pemanfaatan teknologi bagi penyelesaian masalah yang kontekstual.
Seminar Sanata Dharma Berbagi dengan narasumber para doktor baru ini sekaligus menjadi promosi USD dan penggalian potensi kerjasama (dosen) USD. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USD bekerjasama dengan fakultas-fakultas di USD merancang program ini sebagai agenda rutin, berkelanjutan, dan membentuk budaya di Fakultas untuk bersinergi menyelenggarakan seminar dengan pembicara para doktor baru USD.
Dalam seminar ini hadir 2 (dua) pembicara doktor baru USD yaitu Augustinus Bayu Primawan, D.Tech.Sc. sebagai pembicara pertama, memaparkan materi dengan tema “GIS4TI: Data Spasial dalam Perencanaan Jaringan Telekomunikasi”. Jaringan Telekomunikasi yang handal membutuhkan perencanaan yang optimal. Kehandalan sebuah layanan telekomunikasi, salah satunya ditentukan oleh cakupan layanan (service coverage). Oleh karena itu data spasial dapat digunakan untuk merencanakan sebuah jaringan telekomunikasi, khususnya dalam penentuan lokasi, dalam hal ini optimalisasi lokasi (optimum placement), maupun penentuan lokasi (service location priority). Penentuan lokasi prioritas menjadi penting untuk memperoleh gambaran sejauh mana sebuah jaringan telekomunikasi memberikan kualitas layanan yang optimal. Model generik untuk penentuan lokasi prioritas masih perlu dikembangkan mengingat karakteristik suatu daerah cakupan (coverage area) tidak sama.
Pembicara kedua adalah Drs. Haris Sriwindono, M.Kom., Ph.D., memaparkan materi dengan tema “Model Penerimaan Teknologi Informasi”. Sebuah produk teknologi pada umumnya ditujukan untuk dimanfaatkan dan mempermudah aktifitas dari pemakai, namun belum tentu produk yang sudah jadi dapat diterima oleh pemakai. Produk proyek teknologi informasi misalnya, memiliki tingkat kegagalan yang cukup tinggi. Menurut IBM kegagalan proyek TI sekitar 60%, menurut McKensey sekitar 61%, menurut Portland Business Journal sekitar 65%. Salah satu cara melihat kegagalannya adalah dengan mengukur tingkat penerimaan pemakai terhadap produk tersebut. Untuk itu perlu dipahami bagaimana penerimaan pemakai terhadap suatu produk (misalnya produk TI). Model awal penerimaan teknologi (Produk Proyek Teknologi Informasi) telah banyak disusun di negara-negara Barat (maju), sehingga banyak pihak mempertanyakan apakah model tersebut sesuai bila diterapkan di Indonesia atau di negara berkembang. Dengan mengetahui model penerimaan suatu produk teknologi maka akan dapat dipersiapkan perencanaan pembuatan produk tersebut (khususnya produk TI) dengan lebih baik sehingga nantinya dapat diterima oleh pemakai (tingkat kegagalannya rendah). Disinyalir pula faktor manusia dan budaya memegang peranan penting terhadap penerimaan teknologi (Faeth, 2012; Veiga et al., 2001; Bagchi et al.,2003). Untuk itu masih perlu dikembangkan model penerimaan teknologi informasi yang memperhitungkan dimensi budaya, mengingat budaya setiap negara (daerah) bisa berbeda. 
(CBEIS & AMDA)

  kembali