Dua puluh lima hanyalah sebutan angka. Jika kita harus napak tilas ke setahun terakhir, rasa kehilangan menutupi rasa senang atas tahun yang baru. Akan tetapi, jika kita terus terpuruk atas rasa tersebut tak akan ada perayaan cinta yang seterang dan seawet perak.
Kamis (26/4), Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (FS USD) bergembira merayakan puncak Dies Natalis XXV. Dies Natalis dimulai dengan misa perayaan ekaristi syukur yang dipimpin oleh Romo In Nugroho Budisantosa, S.J. di Ruang Koendjono, Gedung Pusat, Kampus II USD Mrican. Tidak hanya Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, M.Hum. selaku Ketua Panitia yang hadir dan memberi sambutan, Dr. Tatang Iskarna, S.S., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Sastra USD dan juga Rektor USD, Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. juga turut memberikan sepatah dua patah kata.
Pemotongan tumpeng yang bermakna ucapan syukur atas kebahagiaan mengawali acara kedua yakni pemberian penghargaan dosen berprestasi di empat (4) kategori dan juga penghargaan staf kependidikan berkinerja terbaik di Fakultas Sastra. Selanjutnya, seminar bertajuk “Multikulturalisme dalam Prespektif Pendidikan Humaniora di Era Disrupsi” dimulai setelah jeda rehat beberapa saat. Adapun pembicara yang diundang adalah Dr. Ninok Leksono (Rektor Universitas Multimedia Nusantara sekaligus Redaktur Senior Kompas), Romo Dr. Hary Susanto, S.J. (dosen Fakultas Sastra USD), dan Constantinus Kristomo, S.S., M.H (Alumnus Sastra Inggris yang sekarang bekerja di International Expert on Legal Aid and Access to Justice).
S. E. Peni Adji, S.S., M.Hum. selaku moderator membuka seminar pada siang itu. Harry Susanto, S.J. selaku pembicara pertama mengungkapkan materi seminarnya dengan judul 'Membangun Sikap Terbuka di Tengah-tengah Pluralisme Budaya'. Harry menyampaikan bahwa kita sebaiknya membangun sikap terbuka dalam pluralisme budaya guna menghadapi fenomena-fenomena kesempitan dalam sejarah. Pembicara kedua, Constantius Kristomo menyampaikan 'Tantangan Akses Keadilan untuk Multikulturaliame di Era Korupsi'. "Multikultural penting di era digital karena itu adalah kekuatan identitas Indonesia." ucapnya. Pembicara terakhir, Dr. Ninok Leksono menyampaikan gagasannya mengenai 'Pembangunan, Pluralitas, dan Era Disrupsi'. Ninok menyampaikan bahwa hari-hari ini peta demografi semakin diwarnai oleh generasi milenial, atau generasi digital yang mempunyai kesempatan emas untuk berkarir dalam zaman yang juga berciri digital namun kemajuan teknologi yang mereka sukai juga telah menimbulkan apa yang diwacanakan sebagai disrupsi. Ninok mengatakan, "Karakter mahasiswa 4.0 dan dosen 4.0 adalah yang diidealkan saat ini." Sesi seminar ditutup dengan tanya dan jawab, serta ramah tamah.
Terdapat beberapa kegiatan untuk menyambut pesta perak Fakultas Sastra USD yang dilaksanakan dari Maret lalu, antara lain ziarah dan anjangsana keluarga purna karya Fakultas Sastra, pengabdian kepada masyarakat di Panti Asuhan Brayat Minulya dan Sancta Maria Boro, pengadaan Sastra Cup 2018, Open Stage, dan Malam Angkingan Mahasiswa yang diadakan di Aula Kampus I USD, Mrican.
Perayaan Dies Natalis ini memang terasa berbeda karena belum lama ini Fakultas Sastra USD kembali berduka karena kehilangan dosen. Namun demikian, seperti dikatakan oleh salah satu dosen Fakultas Sastra, Harris Hermansyah Setiajid, M.Hum, yang berbeda tidak hanya itu melainkan “pesta perak ini bisa dinikmati dan dirayakan oleh semua kalangan. Dari yang suka akademik seperti seminar, holy mengikuti misa, serta yang suka party ala rakyat jelata bisa menghadiri Malam Angkringan Mahasiswa”. Pesta perak ini ditutup dengan pertemuan alumni angkatan 1993 pada hari Sabtu (28/4).
(ATP & SV)




