Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (FS USD) pada hari Jumat (20/4) mengadakan sebuah workshop dengan tema “Perempuan dalam Sastra”. Acara ini dibuka dengan sambutan dari Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A. selaku Wakil Ketua Program Studi Sastra Indonesia FS USD. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapannya agar peserta dapat menyerap ilmu yang diberikan oleh para pembicara.
Dengan dipandu oleh Fani selaku moderator, hadir tiga pembicara, yaitu Evi Idawati, Kedung Darma Romansha, dan Annisa Hertami. Workshop ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama diisi oleh Evi Idawati. Beliau merupakan aktris teater dan sinetron, penulis skenario, sutradara, penyair, cerpenis, esais, dan novelis. Beliau memaparkan mengenai kiat-kiat dalam membaca sebuah puisi. Dalam pembahasannya, beliau menggunakan puisi berjudul “Rumah yang Terbelah” karya Mutia Sukma sebagai sarana dalam praktek pembacaan puisi. Beliau memaparkan bahwa puisi bukan hanya sekedar kata-kata, namun mengungkap pikiran, perasaan, dan nilai seseorang yang harus dimaknai dengan sungguh-sungguh. Ketika membaca sebuah puisi, seseorang harus memperhatikan tempo, gerak tubuh, penguasaan panggung, dan menggunakan hati supaya puisi dapat sampai pada audiens dan mereka dapat memahami pesan yang terkandung. Sehingga puisi selalu hadir dalam detak jantung, aliran darah, dan ingatan audiens.
Setelah sesi pertama selesai, acara dilanjutkan dengan ISHOMA selama 60 menit. Pada kesempatan ini, para peserta menikmati makan siang yang disediakan oleh panitia dan juga menunaikan ibadah sholat. Setelah selesai istirahat, acara dilanjutkan dengan sesi kedua yang diisi oleh Kedung Darma Romansha. Beliau merupakan seorang pemain teater, sastrawan, dan pemain film. Dalam pembahasannya, beliau menyampaikan bagaimana cara gaya pembacaan puisi. "Seorang pembaca puisi adalah seseorang yang harus mempunyai gaya sendiri." ucap Kedung. Gaya tersebut meliputi banyak hal, mulai dari gestur tubuh, intonasi, gaya pembacaan, sampai mimik muka. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi ketiga yang diisi oleh Annisa Hertami. Beliau merupakan seorang aktris yang mulai dikenal melalui film “Soegija” pada tahun 2012, selain itu beliau juga terlibat dalam produksi film pendek, baik di depan maupun belakang layar. Dalam pembahasannya, Annisa lebih fokus ke dalam bagaimana kita harus berekspresi dan menciptakan mimik muka dalam membacakan sebuah puisi. "Ekspresi adalah hasil dari penjiwaan. Jiwai dulu karyanya, nanti pas akan memberikan ekspresi yang sesuai dari jiwa." ucap Annisa. Setelah mempraktekkan ekspresinya dalam pembacaan puisi, Annisa mengatakan bahwa tubuh juga mempunyai ingatan untuk memaknai sebuah puisi.
Setelah ketiga sesi selesai, acara workshop dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara peserta dan pembicara. Topik yang telah dipaparkan oleh ketiga pembicara sungguh menarik perhatian peserta workshop. Hal ini ditunjukkan dari antusiasme peserta melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada ketiga pembicara.
(ATP & IK)




