Pusat Studi Dokumentasi dan Sejarah Indonesia Universitas Sanata Dharma pada
tanggal 2 April 2018 mengadakan kegiatan “Bedah Buku dan Diskusi tentang Politik, Sejarah dan Keamanan Nasional”. Kegiatan yang bertempat di Ruang Koendjono, Gedung Pusat Kampus 2 USD ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan akademik mahasiswa berkait dengan masalah politik dan keamanan Negara.
Buku yang dibedah adalah “Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam” yang ditulis oleh A.M. Hendropriyono. Hadir sebagai pembicara adalah Stanislaus Riyanta, S.Si., M.A. (Alumnus Ilmu Komputer USD dan Pengamat Intelijen) dan Drs. R. Budi Sarwono, M.A. (Alumnus dan Dosen Bimbingan Konseling USD).
Dalam paparannya yang berjudul “Radikalisme & Perkembangannya di Indonesia”, Stanislaus mengatakan bahwa penyebab munculnya radikalisme di Indonesia adalah disebabkan oleh ketertarikan seseorang terhadap ‘perjuangan’ melawan apa yang mereka yakini sebagai ketidakadilan, penindasan, baik pada tataran lokal, nasional, maupun global. Stanislaus beranggapan bahwa ancaman gerapan radikal transnasional terhadap keamanan nasional Indonesia merupakan suatu bahaya yang nyata dan harus dihadapi oleh Negara dan seluruh warga Negara. Untuk itu ia mengatakan bahwa peran lembaga pendidikan di Indonesia sangat penting dalam melakukan deteksi dan cegah dini untuk penanggulangan terorisme.
Selanjutnya R. Budi Sarwono dalam makalahnya yang berjudul “Psikoanatomi Radikalisme” menyebutkan bahwa radikalisme sengaja dimunculkan oleh pihak-pihak tertentu dalam hubungannya dengan ajaran tertentu pula. Radikalisme itu dilakukan pada saat seseorang yang menjadi sasaran sedang berada dalam struktur kognisi yang empuk sehingga mudah dipengaruhi, mudah dibentuk sekehendak hati si pemimpin kelompok tersebut. Untuk itu ia berharap bahwa lembaga pendidikan mestinya memberikan bekal ketrampilan multikultural kepada anak didik yang berada dalam masyarakat yang beragam. Ketrampilan ini sangat penting, mengingat bahwa semua agama membawa kultur darimana mereka berasal. Ketrampilan multikultural ini akan sangat penting untuk menjaga kebersamaan dalam kehidupan agama secara bersama-sama.
Pada kesempatan itu juga hadir Asep Sudirman, seorang mantan narapidana terorisme, yang saat ini sedang menjalani program deradikalisasi dari Polri. Asep menceritakan sepak terjangnya sebelum akhirnya dia ditangkap dan akhirnya mengikuti program deradikalisasi. Hal yang paling membuatnya sadar untuk mengikuti program ini adalah saat dia menjumpai seorang korban Bom JW Marriot yang hingga kini terus menderita, tidak bisa tidur terlentang atau pun tengkurap. Dia tidak mengira bahwa tindakan yang dilakukannya bersama teman-temannya itu membuat orang menderita sedemikian rupa. Sementara dia sendiri baru merasakan berendam di air selama tiga hari tiga malam, karena takut tertangkap pun sudah merasa sangat menderita, apalagi korban JW Marriot yang bertahun-tahun tidak bisa tidur normal, dan itu pun masih mau memaafkannya.
Pada kesempatan itu, Asep berpesan kepada peserta diskusi untuk kembali kepada keluarga kita masing-masing dan mendidik anak-anak dengan cara yang terbaik, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Pada akhir diskusi, para peserta dan pembicara membuat kesepakatan untuk menolak segala bentuk hoax yang merupakan bentuk baru dari terorisme.
(Rio)




