USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Lokakarya (Re)Akreditasi USD Gelombang 1 2018

diupdate: 9 tahun yang lalu


Lembaga Penjaminan Mutu dan Audit Internal (LPMAI) USD mendapat mandat dari Rektorat untuk melaksanakan kegiatan (re)akreditasi. Berdasarkan mandat tersebut LPMAI telah melaksanakan Lokakarya (re)akreditas Gelombang I 2018 pada tanggal 16-17 Maret 2018. Ada dua tujuan dari kegiatan ini, yaitu: (a) memonitor perkembangan/kemajuan dari masing-masing program studi, dan (b) menemukan solusi atas sejumlah pertanyaan/kesulitan yang dihadapi oleh masing-masing program studi.
Pada tahun 2018 ini akan ada enam program studi yang akan melakukan reakreditasi, yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Profesi Apoteker, dan Pendidikan Fisika. Dua program magister juga hendak mengajukan akreditasi pertama kali, yaitu Magister Pendidikan Matematika dan Magister Pendidikan Bahasa Inggris.
Kegiatan lokakarya diawali dengan sharing oleh dua Ketua Program Studi (Kaprodi) yang telah berpengalaman di dalam akreditasi terbaru. Ibu Christie, selaku Kaprodi PGSD, telah berhasil mengangkat prodinya untuk mendapatkan Akreditasi A. Ibu Peni, selaku Kaprodi Sastra Indonesia, telah mengalami proses akreditasi dengan menggunakan SAPTO. Prodi Sastra Indonesia juga telah berhasil mempertahankan status Akreditasi A.
Secara khusus, Bu Christie membagikan pengalaman dalam proses SPMI di USD. Berbekal Nine Frequently Asked Questions tentang SPMI USD (LPMAI, 2018), Bu Christie memberikan penegasan tentang dua hal mendasar. Pertama, adanya berbagai Sistem Informasi di USD telah secara khusus mendapatkan apresiasi dari asesor. Kedua, sekalipun akreditasi PGSD dijalankan oleh dosen-dosen pemula (yang baru pertama kali menyusun borang), terbukti bahwa dukungan dari berbagai pihak telah membantu PGSD dalam menjalankan proses akreditasi dengan sangat baik.
Berbeda dengan Bu Christie, Bu Peni membagikan pengalaman dalam pelaksanaan akreditasi yang telah menggunakan SAPTO. Dua hal mendasar yang disampaikan oleh Bu Peni adalah sebagai berikut. Pertama, ketika data yang diisikan dalam format excel sudah dikerjakan dengan seoptimal mungkin, proses upload ternyata tidak sesulit sebagaimana yang dibayangkan sebelumnya. Detail teknis proses upload tidak terlalu menyulitkan, terutama karena ada fasilitasi dari LPMAI. Kedua, tantangan sesungguhnya justru ada pada proses visitasi. Untuk Standar 3, 4, 5, 6, dan 7, penilaian di dalam SAPTO telah disistemkan. Dengan demikian, intervensi asesor hampir tidak dimungkinkan. Pihak asesor lebih banyak mengajukan banyak pertanyaan untuk Standar 1 dan 2 yang memang kualitatif.
Kegiatan lokakarya ini dirasakan produktif, terutama karena kehadiran Bapak Alip, sebagai tokoh senior yang mumpuni dalam hal pengelolaan kelembagaan. Dosen senior Sastra Inggris ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra, telah lebih dari 10 tahun sebagai asesor BAN-PT. Bagi Bapak Alip, kegiatan monitoring penyusunan borang akreditasi ini sangat penting dengan tiga alasan utama. Pertama, kegiatan semacam ini bisa membantu tiap-tiap prodi. Mekanisme dan sistem akreditasi mengundang multi-interpretasi. Bila ada kesempatan bersama-sama seperti ini, ada kesempatan untuk saling belajar satu sama lain. Kedua, kegiatan ini bisa menjadi kesempatan untuk klarifikasi berbagai  hal, termasuk kebijakan yang terbaru, baik dari pemerintah maupun internal USD. Ketiga, di internal kita ada banyak praktek baik, dan kesempatan ini justru menjadi sarana untuk saling membagikan hal-hal baik tersebut.
Di dalam akhir kegiatan ini, dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan. Diperoleh tiga hal mendasar yang perlu ditindaklanjuti.Pertama, hampir semua prodi memiliki tantangan dalam hal catatan-catatan dokumentatif. Berbagai praktek baik telah menjadi kultur. Disepakati bahwa keterampilan menuliskan dan mendokumentasikan berbagai praktek baik menjadi kebutuhan yang mesti dilatihkan terus-menerus. Kedua, koordinasi dari unit-unit yang menyediakan data pendukung untuk dilaporkan dalam borang telah berjalan menjadi lebih baik. Namun demikian masih perlu dikembangkan model koordinasinya. Ketiga, fasilitasi di dalam penyusunan borang oleh LPMAI memang masih terbatas pada kesempatan monitoring di tingkat masing-masing prodi. Sebagai pintu masuk tentu ini sudah sangat baik. Ke depannya, sinkronisasi kerja penyusunan borang di tingkat prodi dan fakultas dinilai sebagai hal krusial.
(eMBi)

  kembali