Orientasi pengembangan, baik keilmuan dan profesionalisme dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris menjadi salah satu landasan utama dibukanya Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) Universitas Sanata Dharma (USD) pada tahun 2016. Tahun 2018 ini, prodi ini menjalankan satu terobosan signifikan dalam kerjasama dengan Institute of Higher Education, St. Aloys Gonzaga, Taunggyi, Myanmar.
Dalam kunjungan 9 hari (18 - 27 Maret 2018), dua dosen MPBI (Drs. Concillianus Laos Mbato, M.A., Ed.D. dan Markus Budiraharjo, Ed.D.) telah berhasil merumuskan lima poin utama sebagai bidang kerjasama selama lima tahun ke depan. Fr. Paul Dass, SJ, Direktur SAG, merasakan betapa kehadiran MPBI USD menjadi jawaban atas tantangan SAG di dalam konteks sosial-politik Myanmar yang sangat dinamis.
"Selama lima puluh tahun, Myanmar berada dalam kondisi sosial-politik yang serba tertutup. Dalam dua tahun terakhir, begitu pemerintahan sipil berkarya, telah terjadi perubahan yang masif. Seperti di dalam sektor-sektor lainnya, bidang pendidikan pun sangat tertinggal. Tidak ada aturan atau regulasi yang bisa diacu. Yang jauh lebih penting, sebagaimana yang digariskan dalam misi Jesuit, adalah bagaimana memberikan akses sosio-kultural bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan," Fr. Paul SJ menjelaskan lebih jauh.
SAG didirikan di Taunggyi sebagai respons atas undangan Keuskupan Taunggyi pada tahun 1998. Pada awalnya berdiri sebagai Pusat Pelatihan Bahasa Inggris bagi para novis dan masyarakat luas. Dalam perkembangannya, dirasakan ada kebutuhan mendesak untuk menyiapkan tenaga guru yang mampu membawa transformasi sosio-kultural dalam masyarakat. Dalam 12 tahun terakhir, SAG telah beroperasi sebagai lembaga pendidikan keguruan (Dip. Ed.) setara DIII. Kerangka dasarnya adalah pendidikan holistik, yang membekali para mahasiswa dengan keterampilan mengajar, yang diletakkan dalam kerangka karya sosial. SAG telah berpartner dengan Ateneo de Davao, Filipina, untuk mengembangkan kurikulum kependidikan secara umum. Untuk mengembangkan aspek karya sosial, University of Utah, Amerika Serikat, telah menjadi partner bagi SAG.
"Kerjasama dengan USD menjadi pilihan tak terelakkan. Pertama, konteks Indonesia dan Myanmar memiliki kemiripan, terutama dalam hal status Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Kedua, USD telah terbukti berhasil menghidupi kurikulum Bahasa Inggris dalam konteks seperti ini. Ketiga, USD dan SAG memiliki akar spiritualitas yang sama, yaitu Ignasian." Fr. Paul Dass SJ memaparkan lebih lanjut.
Bersama dengan kunjungan dua dosen MPBI, ada dua mahasiswa program sarjana (Aureliana Ardhia Widya Cahyani dan Hedwig Tiara Svayambhu) dan dua mahasiswa program magister (Maryska Firiady dan Anastasia Nelladia Cendra) yang ikut terlibat di dalam pengembangan kurikulum SAG. Keempat mahasiswa tersebut berperan aktif sebagai tenaga pengajar untuk summer Program yang dijalankan oleh SAG.
Empat tujuan utama dari keterlibatan para mahasiswa ini meliputi: (a) memberikan pengalaman belajar Bahasa Inggris bagi para mahasiswa Myanmar, khususnya dari perspektif kurikulum USD, (b) membekali para mahasiswa PBI/MPBI dengan pengalaman mengajar dalam lingkup ASEAN, (c) memberikan kesempatan bagi para mahasiswa PBI/MPBI untuk menjalankan Program Pengalaman Lapangan (PPL) alternatif, dan (d) membangun relasi, kultur kolaboratif, dan sikap berkepedulian antar sesama dan antar bangsa sebagai warga dunia.
Secara umum hasil PPL dinilai bagus oleh para peserta. Data survei dari para peserta Summer Program menunjukkan bahwa kehadiran para mahasiswa USD sangat diapresiasi oleh para mahasiswa SAG (rerata 8,07 skala 1-10). Secara spesifik, ada tiga temuan utama. Pertama, para mahasiswa praktikum dinilai telah: (a) berhasil dalam melibat-aktifkan peserta pembelajaran, (b) mempertahankan sikap penuh penghargaan pada para siswa tanpa pandang bulu, dan (c) sangat terbuka untuk diajak berdiskusi, baik di dalam maupun di luar kelas (rerata 8,33). Kedua, para peserta survei menilai bahwa kemampuan para praktikan di dalam menciptakan pengalaman penuh makna cukup tinggi (7,83). Ketiga, pantas untuk dicatat bahwa kemampuan memberikan motivasi belajar dinilai pada tataran cukup baik (7,50).
(eMBi)




