USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Diskusi dan Bedah Buku "Tanah Air Yang Hilang" Bersama Martin Aleida

diupdate: 9 tahun yang lalu


Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma (USD), mengadakan diskusi dan bedah buku “Tanah Air Yang Hilang” di ruang Palma gedung Pascasarjana USD, Selasa (20/3).  Acara ini mengundang penulis buku sekaligus pembicara utama yang tidak lain adalah bapak Martin Aleida. Martin Aleida adalah seorang Sastrawan berkebangsaan Indonesia yang sudah banyak menuliskan banyak karya fiksi dan memenangkan beberapa penghargaan. Selain itu dalam acara diskusi dan bedah buku ini juga diundang pembicara perwakilan dari mahasiswa Magister IRB, Adi Pandoy Hapsara. Dalam diskusi peserta yang hadir adalah mahasiswa magister IRB USD dan umum.
Buku “Tanah Air Yang Hilang” yang terbit pada 2017 ini merupakan kumpulan cerita yang diperoleh dari 19 orang eksil Indonesia yang notabene tinggal di Eropa.  Mereka adalah orang-orang yang paspornya dicabut sehingga mereka harus mencari “tanah air” yang lain. Buku ini merupakann hasil wawancara yang di lakukan oleh bapak Martin Aleida selama di Eropa antara lain di Amsterdam, Den Haag, Berlin, Koeln, Praha, Sofia, dan Paris. Buku ini menceritakan bagaimana ketegangan dalam proses antara keinginan mengungkapkan memori dan ketakutan para eksil di Eropa namun penulis dihadapkan pada tantangan untuk tidak menulis dan mentranskrip beberapa hal kedalam buku ini. Dalam penyampaian diskusinya Pak Martin menceritakan bagaimana ia merasakan jatuh bangun untuk dapat mewawancari orang-orang Indonesia yang tinggal di Eropa. Fakta bahwa buku ini adalah karya pertama bapak Martin yang merupakan karya non-fiksi, beliau juga menambahkan kalau pekerjaan tersulit selama proses penulisan ini  adalah transkrip wawancara.
Sebagai pembicara mahasiswa, Adi Pandoy Hapsara mencoba mengungkapkan dan menanggapi tentang apa yang telah ditulis oleh bapak Martin Aleida. Adi menceritakan bagaimana beliau mencari tahu akan eksil dan menemukan bahwa terdapat karya sastra mengenai eksil. Adi menceritakan kronologi umum perjalanan untuk mengerti utuh mengenai eksil itu sendiri. Adi Pandoy Hapsara yang mengaku bahwa dirinya belum lama melek literasi ini menulis opininya terhadap buku non-fiksi yang ditulis oleh bapak Martin. Tuangan opini tersebut dicetak dan diberikan kepada sipapun yang mengikuti diskusi hari itu. Adapun tujuan dan maksud diskusi ini adalah selain untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya mahasiswa magister IRB yang mempelajari kewargaan budaya. Penting untuk generasi milenial mengetahuai bagaimana sejarah pada masa orde baru banyak kaum eksil yang berpetualang di Eropa.
(SV & MCMKS)

  kembali