Campus Ministry Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Ignatian Study Club (ISC) pada hari Sabtu (10/3) menyelenggarakan Diskusi Tentang Fenomena Maraknya Radikalisme Agama dan Hoax di Indonesia. Diskusi yang dimulai pada pukul 09.00-12.00 WIB ini bertempat di Pusat Studi Lingkungan USD, Soropadan, Yogyakarta dengan mengundang pembicara dari KomSos Keuskupan Agung Semarang, Rm. Y Slamet Witokaryono, Pr. Selain itu, Fr. Dodo Hinganaday, SJ dan Fr. Philipus Bagus Widyawan, SJ juga turut menjadi pembicara selaku perwakilan dari Promosi Panggilan (PromPang) SJ.
Diskusi yang diadakan untuk mandalami masa pra-paskah ini juga mendapat perhatian dari rekan-rekan SMK Penerbangan Adisucipto Yogyakarta, mahasiswa USD, komunitas Gusdurian, dan juga beberapa komunitas lainnya. Setelah sesi pertama diskusi yang dimulai dengan presentasi singkat mengenai maraknya radikalisme agama yang ada di Indonesia, peserta diskusi langsung dengan antusiasnya memberikan beberapa pertanyaan juga sharing pengalaman mereka. Salah satu peserta bertanya mengenai relasi romantis berbeda agama yang kerap kali dialami oleh kaum muda. Pertanyaan ini membuat diskusi semakin seru dengan saling bertukar informasi juga pengalaman personal tiap individu. Sebagaimana dikatakan oleh Fr. Philipus Bagus Widyawan, SJ bahwa dunia adalah tempat di mana Tuhan berkarya, beliau tidak memberikan argumen yang mutlak bagi kaum muda katolik untuk harus mencari pasangan yang seiman. Semua kembali kepada komitmen yang dibuat oleh pribadi masing-masing, pernyataan lugas menutup diskusi pertanyaan tersebut.
Pada sesi kedua dipaparkan secara singkat mengenai penggunaan media. Pesan Rm. Y Slamet Witokaryono, Pr adalah bagaimana pengguna media haruslah dewasa dan bijak dalam membagikan informasi kepada orang lain. Fakta bahwa media memiliki informasi tanpa hierarki dan filter sebaiknya menjadi pertimbangan bagi pembaca informasi dari media. Begitu juga halnya seperti apa telah menjadi pesan Paus Fransiskus di hari komunikasi sedunia yang mengajak membendung penyebaran berita palsu dan menemukan kembali martabat jurnalisme serta tanggung jawab pribadi seorang jurnalis untuk mengkomunikasikan kebenaran.
Menurut Dimas Hanung Pamungkas yang merupakan panitia dari acara ini, sebagai salah satu anggota ISC, beliau berharap diskusi tidak hanya selesai di ruangan ini namun peserta diskusi bisa lanjut menjadi agen-agen gerakan positif di masyarakat yang plural.
(SV & MCMKS)




