Senin (27/11) Prodi Sastra Inggris (Sasing) Universitas Sanata Dharma bersama dengan Jogja Literary Translation Club (JLTC) menyelenggarakan pelatihan perdana tentang penerjemahan dokumen umum, di Ruang Kadarman Gedung Pusat Kampus 2 USD. Pelatihan ini merupakan acara ketiga yang diselenggarakan oleh Prodi Sasing bersama JLTC. Berbeda dengan dua acara sebelumnya, kali ini panitia mengundang pemateri dari Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) KOMDA DIY-Jateng yaiut Ibu Widiana Martiningsih, S.S sebagai Sekretaris HPI KOMDA DIY-Jateng. Peserta pelatihan kali ini juga beragam. Selain mahasiswa Sasing USD sebagai tuan rumah, ada pula peserta dari Universitas Bengkulu, Universitas STIBA Satya Widya Surabaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Gadjah Mada, dan beberapa universitas/institusi lainnya yang berasal dari Yogyakarta.
Stefani Veronika selaku perwakilan panitia sekaligus Plt.Pelaksana Ketua JLTC saat membuka acara menyampaikan bahwa tujuan pelatihan ini adalah sebagai wadah untuk menambah pengetahuan, keterampilan, rasa cinta, serta kepekaan peserta terhadap dunia penerjemahan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua HPI KOMDA DIY-Jateng, Bapak Wahyu Adi Putra Ginting, S.S.
Dalam acara inti, yakni pelatihan, Ibu Widi memulai dengan pengenalan industri terjemahan dan profesi penerjemahan di Indonesia yang dilanjutkan dengan penjabaran etika profesi penerjemahan. Beliau juga mengenalkan Computer-Assisted Translation atau CAT tool yang digunakan untuk mempermudah penerjemahan dari Bahasa sumber ke Bahasa target. Dalam pemaparan materi, Ibu Widi menyisipkan bahwa sadar budaya dalam proses penerjemahan sangatlah penting. Sadar budaya adalah salah satu aspek yang membuat terjemahan manusia berbeda dengan mesin. Beliau mengatakan bahwa bahasa Inggris cenderung aktif karena budaya selfesteem tinggi dan bertanggung jawab. Sedangkan bahasa Indonesia cenderung pasif, karena sopan santun yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.
Pada sesi terakhir, para peserta diminta untuk berlatih menerjemahkan beberapa penggal dokumen dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris dan sebaliknya dengan dipandu oleh Ibu Widi. Pada latihan ini, peserta juga diberitahu mengenai beberapa terjemahan yang selama ini salah namun dianggap benar. Banyak hal detail yang dipelajari, terutama yang berkaitan dengan dokumen-dokumen pemasaran, hukum, dan lain-lain.
Acara pelatihan ditutup dengan ucapan terimakasih dari pemateri dan juga panitia yang diwakili oleh Stephanie Permata Putri, serta pemberian tali kasih oleh Plt. pelaksana ketua JLTC kepada Ibu Widiana Martiningsih, S.S. Seperti yang disampaikan oleh ketua HPI KOMDA DIY-Jateng, Bapak Wahyu Adi Putra Ginting, S.S., diselenggarakannya pelatihan ini adalah agar “ilmu dan industri terjemahan Indonesia dapat bahu-membahu memberi warna dan makna bagi dunia terjemahan dan dunia Bahasa”.
(SV & FAN)




