Banyak peperangan yang terjadi antar agama, suku, ras dll menyebabkan bangsa Indonesia mengalami krisis nasionalisme. Hal inilah yang melatarbelakangi program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Sanata Dharma mementaskan seni drama yang bertajuk A Portrait of Liberty. Drama yang sering disebut dengan Play atau Play Performance ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 November 2017 di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. Play ini merupakan salah satu mata kuliah di PBI yang dapat diambil pada semester lima dan enam. Play semester ini dipandu oleh tiga dosen PBI, yaitu Bapak F.X. Ouda Teda Ena, Bapak Laurentius Krisna Septa B., dan Ibu Truly Almendo Pasaribu. Acara ini dibuka pada pukul 18.00 dengan beberapa sambutan yang disampaikan oleh Ibu Yohana Veniranda, selaku Kaprodi PBI dan Ni Luh Cikara Dipta C. sebagai salah satu koordinator acara ini.
Berbeda dengan Play di semester-semester sebelumnya yang mengangkat tema komedi, Play kali ini menampilkan dua cerita nasionalis yang dipersembahkan oleh
dua grup yang berbeda. Cerita pertama berjudul A Potrait of the Time. Cerita yang ditulis oleh Armijn Pane ini menggambarkan seorang pria yang baru saja pulang dari Belanda membatalkan pernikahan dengan tunangannya karena merasa minder jika akan menikahi seorang guru, sementara dirinya tidak mempunyai pekerjaan. Cerita berakhir sedih karena sang pria batal menikahi tunangannya. Dalam hal ini, bagaimanakah pandangan pria berpendidikan terhadap wanita? Bagaimana para wanita melihat diri mereka masing-masing pada zaman ini? Hanya waktulah yang dapat menjawab semua pertanyaan yang muncul dalam masyarakat itu.
Selesai dengan penampilan pertama, panitia memberi jeda selama 15 menit bagi penonton yang ingin keluar sejenak dari auditorium. Seusai jeda, penonton disuguhi penampilan kedua yang berjudul Sweet Liberty. Cerita karya Roestam Effendi mengisahkan tentang raksasa jahat yang menahan seorang gadis di kastilnya. Gadis tersebut menangis setiap hari, berharap agar ada seseorang dapat menolongnya. Tak seorang pun mendengar tangisan tersebut sampai akhirnya seorang lelaki muda mendengar tangisan sang gadis dalam mimpinya. Meskipun tanpa restu dari ayah dan pamannya, lelaki tersebut tetap berniat untuk menyelamatkan gadis yang ia dengar dalam mimpinya. Cerita berakhir dengan bahagia karena sang lelaki berhasil menyelamatkan sang gadis dari tawanan raksasa jahat. Tak lupa panitia juga membagikan door prize bagi penonton yang beruntung pada malam itu. Rangkaian acara ini berakhir sebelum pukul 22.00 WIB.
(FAN & LJ)




