USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Tumirah (Sang Mucikari) Bersaksi dalam Pentas Lakon Remang-Remang

diupdate: 9 tahun yang lalu


“Mau ditindas sampai gepeng, mau diperkosa sampai dobol, mau dirajam sampai hancur, hanya satu hal dari kita yang tidak boleh hilang yaitu kemanusiaan.” Tumirah (Sang Mucikari).
Minggu (5/11), Taman Beringin Kampus 2 Universitas Sanata Dharma (USD) sejenak menjadi tilas melihat sejarah negeri ini.  Novel Tumirah (Sang Mucikari) karya Seno Gumira Ajidarma diadaptasi dan dijadikan sebuah pentas lakon oleh Bengkel Sastra (sebuah organisasi milik Program Studi Sastra Indonesia USD). Pentas lakon ini disutradarai oleh Arlingga Urak, salah satu mahasiswa Sastra Indonesia USD.
Tumirah seakan nyata dalam gerimis minggu di bawah pohon beringin. Ia adalah seorang Germo berumur 40 tahun yang memiliki tiga pelacur sebagai anak asuhnya. Dalam pentas lakonnya, Tumirah mempertanyakan apakah manusia tidak memiliki cinta lagi? Penjahat sekalipun pasti ia tetap menyayangi ibunya. Lalu kenapa masih berperang dan membenarkan pembunuhan atas nama kekuasaan?
Lampu remang-remang masih menyala di sebuah rumah pelacuran. Rembulan menjaga mereka yang sedang menunggu di pinggir jalan. Suara tembakan dari hutan sudah menjadi sahabat mereka ketika sedang memetakan tubuh-tubuh pelanggan yang datang. Tidak ada yang lebih setia selain Tumini, Lastri, dan Minah; pelacur-pelacur yang senantiasa menemani Tumirah.
Di luar rumah pelacuran, pasukan pemerintah dan pasukan gerilyawan sibuk berperang. Orang-orang menjadi lebih suka mengadu domba satu dengan yang lainnya. Sekonyong-konyongnya nasib, rumah pelacuran menjadi sasaran obrak-abrik segerombolan orang berseragam hitam. Porak poranda terjadi! Para pelacur terindah yang paling layak dicintai, kini telah hancur.
Kehancuran dan putus asa mulai bersemayam dalam benak Tumirah. Sebagai seorang manusia biasa, mendendam adalah obat haram yang mampu menyembuhkan kesakitannya. Mencinta menjadi istilah yang sangat asing dalam dunia yang penuh pertempuran. Dan seperti pada mulanya, di sebuah tempat yang remang-remang, semuanya bisa terjadi.
Walaupun hujan membasahi tanah taman, tidak menyurutkan semangat pemain, panitia, bahkan penonton untuk menonton pentas lakon ini. Sekitar pukul 20.00 WIB, pentas dimulai. Semua mata penonton tertuju pada para pemain yang tampil sangat mengesankan. Proses yang sudah dijalani beberapa bulan terakhir membuahkan hasil manis bagi para pemain juga panitia belakang panggung. Hujan rintik malam itu memberi buah berkah bagi Prodi Sastra Indonesia yang mempersembahkan pentas ini untuk kedua mendiang dosen mereka, Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum. dan Drs. Hery Antono, M.Hum.
 
(ATP & TAO)
 

  kembali