Sabtu (28/10) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Grisadha berkolaborasi dengan UKM Seni Karawitan Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar sebuah Pergelaran Sendratari yang bertajuk “Ora Edan, (Ora) Keduman”. Acara yang diadakan dua tahun sekali ini bertempat di Auditorium Driyarkara USD. Pergelaran Sendratari ini juga bagian dalam rangkaian Dies Natalis USD yang ke-62. Kolaborasi kedua UKM ini memberikan suguhan yang menarik dan meriah. Hal itu sangat tampak dari antusiasme para penonton yang memadati gedung auditorium di tengah banyaknya rangkaian acara yang juga diselenggarakan malam itu. Acara ini juga di hadiri jajaran Rektorat USD dan perwakilan dari berbagai UKM yang ada di kampus USD. Selain menyuguhkan penampilan yang menarik, kolaborasi kedua UKM dalam pagelaran tersebut tentunya juga memberi andil berarti dalam menjaga kearifan lokal dan melestarikan seni tari serta seni karawitan.
Hal itu diamini oleh Wakil Rektor 4 USD F.X. Ouda Teda Ena M.Pd., Ed.D. yang hadir langsung menyaksikan pagelaran malam itu. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan walaupun USD tidak memiliki jurusan maupun fakultas yang mendalami bidang seni, kesenian berkembang dengan sangat baik di universitas ini. Oleh karenanya beliau berharap agar segenap lapisan USD selalu menghidupi dan mendukung diselenggarakannya acara-acara semacam itu. Beliau juga menambahkan menurut renungannya, berkesenian bukanlah tujuan bagi mahasiswa USD melainkan sarana bagi mahasiswa USD untuk menjadi lebih berkemanusiaan. Setelah itu giliran Saudari Yessika Kharina Septiyani selaku Ketua Panitia menyampaikan sambutannya. Mahasiswi Psikologi USD ini membenarkan bahwa pagelaran ini tak hanya bertujuan untuk memberikan hiburan semata berupa pertunjukan seni tapi juga sebagai media pembelajaran bagi rekan-rekan mahasiswa USD di luar UKM Grisadha dan Karawitan untuk bekerja sama dan berorganisasi.
Pergelaran Sendratari ini dibuka dengan dua tarian garapan UKM Grisadha sendiri. Dimulai dari tarian “Yu Warni Emprit”; tarian yang berkisah tentang ibu-ibu penjual burung pipit yang ramah, cantik, dan enerjik. Tarian yang mengantarkan UKM Grisadha menjuarai Peksimida 2014 ini membuat para penonton tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keluwesan para yu yu (istilah bagi ibu-ibu dalam Bahasa Jawa) dalam menari. Dilanjutkan dengan tarian “Nginang Karo Ngilo” yang bercerita tentang seorang wanita yang gemar bersolek di masa mudanya. Wanita yang selalu merasa paling cantik dan paling seksi dibanding wanita lainnya, namun sadar bahwa waktu terus berjalan. Tarian tentang seorang wanita yang mempertahankan kecantikannya di masa tua dengan cara mengunyah kinang sembari bercermin.
Setelah disuguhi dua tarian pembuka, tibalah penonton pada puncak acara. “Ora Edan (Ora) Keduman” merupakan sebuah interpretasi karya dari pujangga Ronggowarsito yang dikomposeri oleh Saudara Anon Suneko dan disutradarai oleh Saudari Galuh Putri Satyarini. Judul ini mengingatkan kita dengan kisah asmara segitiga antara Suminten, Subroto, dan Cempluk. Kisah tersebut telah dikenal masyarakat luas dengan judul lakon Suminten Edan. Seorang lakon yang menjadi gila karena cintanya pada Subroto. Pergelaran Sendratari kali ini terinspirasi oleh kisah Suminten yang berperang melawan perasaan dan pikirannya sendiri. Para penari dari Grisadha menampilkan tarian-tarian yang luar biasa nan jenaka, sehingga mengundang gelak tawa dan membuat para penonton tak henti-hentinya takjub. Emosi penonton pun mampu diaduk oleh alunan musik tradisional yang dibawakan dengan istimewa oleh UKM Seni Karawitan.
(CPBS & LJWJ)
Foto: DRI




