USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Nasional: "Membongkar Sastra, Menggugat Rezim Kepastian"

diupdate: 9 tahun yang lalu


Sabtu (28/10) Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan Seminar Nasional dengan mengusung tema “Membongkar Sastra, Menggugat Rezim Kepastian” yang bertempat di Ruang Kadarman Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma (USD). Seminar Nasional ini merupakan seminar kedua sekaligus merayakan Dies Natalis pertama HISKI Komisariat USD yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Seminar ini bertujuan untuk menghimpun pemikiran-pemikiran para sarjana dalam menggugat dan membongkar rezim kepastian. “Seminar ini penting dan strategis sekali kedudukannya dalam  pembangunan iklim akademis di tanah air karena menghadirkan dua topik utama dalam dunia sastra dan kritik sastra, yaitu: 1) kajian-kajian dan teori-teori pemikiran kritis di dunia yang melawan rezim kepastian, dan 2) meninjau kembali dan merevitalisasikan teori, metode, dan teknik kritik sastra yang perlu untuk selalu dikritisi.” tutur  Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum dalam sambutannya selaku Ketua HISKI Komisariat USD.
Acara seminar ini dibuka dengan simbolis pemukulan gong oleh Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D selaku Rektor USD, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pengucapan ikrar Sumpah Pemuda yang diikuti seluruh peserta seminar. Seminar Nasional ini menghadirkan tiga pembicara yang merupakan figur-figur berkompeten di bidangnya dan ketiganya adalah tokoh-tokoh terpilih dari USD yakni pembicara kunci Dr. Johanes Haryatmoko, S.J, pembicara utama Tatang Iskarna, S.S., M.Hum., M.Th. dan A.B. Sri Mulyani, Ph.D. Sebelum acara seminar dimulai, peserta seminar disuguhkan hiburan penampilan musikalisasi puisi yang sangat menarik oleh mahasiswa Fakultas Sastra USD.
Seminar ini  dibagi menjadi beberapa bagian yakni diawali dengan pleno I oleh pembicara kunci yang memaparkan tentang “Memetakan Arena Sosial ‘Gadis Pantai’ untuk Membongkar Ideologinya (Kajian Sastra Melalui Analisis Wacana Kristis Salah Satu Karya Pramoedya Ananta Toer)”. Acara selanjutnya dengan parallel session oleh para pemakalah yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, penggiat sastra dan Universitas yang ada di Indonesia. Setelah pemaparan dari pemakalah dalam parallel session, acara seminar dilanjutkan dengan pleno II oleh dua pembicara utama Tatang Iskarna, S. S., M.Hum., M.Th. dengan pemaparan tentang “Gugatan Tiga Teks Sastra Poskolonial Afrika terhadap Agama Kristen” dan dilanjutkan pemaparan oleh A.B. Sri Mulyani, Ph.D dengan pemaparan tentang “Wacana Gender dalam ‘Jendela Tua’ karya Jyut Fitra”.
Acara ini ditutup dengan mengulas kembali pembicaraan yang telah dilaksanakan selama sehari dalam seminar nasional. Seluruh pembicara, pemakalah dan peserta mengikuti seluruh rangkaian seminar dengan antusias sampai dengan berakhirnya acara. “Sastra memiliki kedudukan, peran, dan tanggung jawab sosial yang penting di dalam kehidupan masyarakat. Semoga dengan diadakannya seminar ini dengan semangat dan jiwa yang digelorakan Sumpah Pemuda, kehendak dan keberanian menyuarakan ketertindasan merupakan salah satu identitas dari sastra itu sendiri, di sinilah nampak peran sastra yang membebaskan.” ungkap Dr. Gabriel Sasmita Aji, M.Hum. selaku Ketua Panitia Seminar Nasional “Membongkar Sastra, Menggugat Rezim Kepastian”.
(LJWJ & MCMKS)

  kembali