USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Sejarah dan Kebangsaan:
Nasionalisme di Tengah Kewargaan Budaya dan Ekstrimisme Global

diupdate: 9 tahun yang lalu


Sejarah merupakan sesuatu yang mengikat baik masa lalu ataupun masa yang akan datang. Untuk menjadi sebuah bangsa, Indonesia melewati banyak sejarah sebab Indonesia bukan pemberian atau sudah ada dari dulunya. Penting bagi kita untuk memahami bagaimana Indonesia terbentuk menjadi sebuah bangsa atau nation, sehingga kita dapat memaknai nasionalimsme dalam diri kita. Perkembangan budaya yang semakin marak, merupakan tantangan bagi kita semua dalam memahami nasionalisme. Melihat kondisi semacam ini, PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan Seminar Sejarah dan Kebangsaan: Nasionalisme di Tengah Kewargaan Budaya dan Ekstrimisme Global. Semangat yang dibangun dalam pelaksanaan seminar ini adalah kegairahan untuk melakukan dialog bersama guna mencari tau keberadaan kita sebagai masyarakat sebuah bangsa dalam alur dan pergulatan sejarah terutama dalam menghadapi tantangan kewargaan budaya dan ekstremisme global.
Acara ini diselenggarakan di  Ruang Koendjono, Kampus 2 Universitas Sanata Dharma. Acara disambut antusias oleh civitas Univeritas Sanata Dharma maupun kalangan umum, baik jajaran Rektorat, para Dosen IRB, mahasiswa dari Universitas lain, dan aktivis umum. Dalam sambutannya, Rm. G. Budi Subanar, S.J. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah usaha untuk mengurangi pergulatan mengenai kewargaan budaya dan seminar ini diharapkan akan memberi sumbangan yang cukup berarti dalam memahami dan mengkaji dinamika masyarakat Indonesia dalam berbagai seginya.
Kegiatan ini menghadirkan empat pembicara untuk plenary session, yaitu Prof A. Supratiknya (Guru Besar Universitas Sanata Dharma). Dalam kegiatan ini, beliau berbagi bersama mengenai keterkaitan nasionalisme dengan pendidikan.Selanjutnya Dr. Titus Odong Kusumajati, M.A. (Dosen Universitas Sanata Dharma dan Peneliti Lembaga Keuangan Mikro) yang berbagi tentang keterkaitan nasionalisme dengan perkembangan ekonomi saat ini. Kemudian Teuku Kemal Fasya, S. Ag., M. Hum (Peneliti dan Dosen Universitas Malikussaleh) yang berbagi tentang keterikatan nasionalisme dengan agama serta Nirwan Ahmad Arsuka (Pegiat Pustaka Bergerak) yang menginspirasi melalui kegiatan pustaka bergerak dalam menumbuhkan nasionalisme. Sementara itu, setelah plenary session dilanjutkan dengan panel session yang di bagi ke dalam 4 bidang yaitu aspek pendidikan, aspek seni budaya, aspek ekonomi dan sumber daya, serta aspek identitas dengan menghadirkan 32 penalis.   
Selain kegiatan sharing bersama yang diadakan di dalam ruangan, kegiatan ini juga mengadakan pentas budaya yang diselenggarakan di Beringin Soekarno, Universitas Sanata Dharma. Pentas budaya ini merupakan sarana untuk menyuarakan dan mengapresiasikan apa yang sudah kita dapatkan di dalam ruangan yang disajikan dengan nuansa yang lain oleh Komunitas Lima Gungung dan Centhini Gunung, Agoni, Log Sanskrit, Sekar Jepun, serta Whani Darmawan.
Melalui kegiatan ini, pihak panitia mengharapkan para peserta dapat saling melihat bagaimana nasionalisme yang telah dibangun dengan waktu yang panjang dapat terus tertanam, meskipun menghadapi tantangan yang diajukan oleh kewargaan budaya dan ekstrimisme global saat ini.
(PTK & CGP)

  kembali