Universitas Sanata Dharma mengadakan lokakarya reakreditasi pada 20-21 Oktober di Griya Persada Kaliurang, dengan melibatkan program studi program sarjana yang akan segera mengajukan reakreditasi. "Penyusunan dan persiapan akreditasi harus dibarengi dengan hati gembira. Perasaan gembira datangnya dari mana? Yang utama dari kesadaran, bahwa kita sebagai lembaga, selalu serius dalam semua hal. Ada banyak praktek baik yang telah membentuk kita. Kesadaran positif atas diri sendiri akan dengan sendirinya menumbuhkan rasa bangga dan bahagia. Sikap semacam itu yang selama ini dibangun dan telah mengantarkan USD meraih hasil optimal dalam AIPT." papar Rektor USD, Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.
Akreditasi, sebagai siklus lima tahunan, berperan penting bagi program studi untuk menilik diri, belajar dari berbagai hal yang telah dilalui, dan memaknai berbagai pengalaman melalui tulisan yang akan dinilai oleh asesor eksternal. Menuliskan hasil kinerja dan merumuskan pengukuran untuk menilai kinerja dan pelayanan, serta menyampaikan tindak lanjut, tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis belaka. Penulisan borang akreditasi tidak saja membutuhkan kemampuan merumuskan gagasan, tetapi justru bagaimana membangun berbagai keterkaitan.
Ajang saling belajar dan menguatkan
Persoalan membagi waktu, kumpul bersama, koordinasi, dan menjaga komitmen, serta ketrampilan managerial menjaga ritme kerja tampaknya menjadi tema utama yang teridentifikasi. Lokakarya reakreditasi ini menjadi sarana pembelajaran bersama. "Terima kasih kepada Rektorat yang memfasilitasi kegiatan ini. Tantangan kami tidak mudah, dan kami sering kebingungan oleh karenanya." sambut Ketua Program (Kaprodi) Studi Pendidikan Sejarah, Ibu Sumini.
Rumpun JPMIPA menemukan acara Lokakarya sebagai kesempatan untuk melatih para anggotanya, yang kebanyakan baru terlibat dalam persiapan reakreditasi pertama kali. "Kami di sini belajar bersama tentang hal-hal apa saja yang dinilai penting. Khusus bagi para dosen muda, ini barang baru. Masa depan prodi lebih banyak ada di tangan dengan mereka." papar Kaprodi Pendidikan Biologi, Bapak Tri Priantoro.
"Kami boleh berbangga karena telah menyelesaikan draf pertama. Saat ini sedang direview oleh Prof. Praptomo Baryadi. Pertemuan kali ini luar biasa bagi kami. Di sini kami mendapatkan energi lagi untuk segera menuntaskan Evaluasi Diri. Setelah tersisihkan oleh kesibukan mengajar, akhirnya kami di sini berhasil menyelesaikan evaluasi diri terhadap dua standar." Kaprodi Sastra Indonesia, Ibu Peni, mengungkapkan rasa syukurnya.
"Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) telah menggulirkan program persiapan reakreditasi sejak Januari 2017. Intensif baru bulan September. Tidak mudah untuk menemukan waktu dalam kesibukan melayani mahasiswa. Lokakarya ini menyadarkan betapa penting menciptakan fokus. Beruntung ada rekan-rekan PBI yang merupakan veteran dari akreditasi-akreditasi sebelumnya. Target PBI adalah mempertahankan hattrick akreditasi A selama 15 tahun terakhir." Kaprodi Prodi PBI, Ibu Yohana Veniranda, menegaskan.
“Menemukan waktu bersama tidak mudah. 60% dari dosen-dosen Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) adalah pejabat struktural. Dengan menggunakan Google Drive, pekerjaan menjadi lebih mudah dibagikan dan dikerjakan. Tapi sekali lagi, kami masih mencari cara untuk menangani urusan ini secara kreatif. Strategi pengerjaan masih dicari, sekaligus sambil dijalani.” tukas Kaprodi MPBI, Bapak Kuswandono.
"Kekurangan dan kelemahan selalu ada. Bagaimana menanganinya? Bagi saya solusinya sederhana. Jalani saja. Bicarakan baik-baik rencananya dengan pihak-pihak yang terlibat. Bagi pekerjaan sesuai dengan porsinya. Tagih hasil pekerjaan secara reguler. Pertemuan-pertemuan menjadi penting. Ya kalau ada yang tidak jalan, terima saja sebagai kewajaran. Ya kerjakan." Kaprodi Magister Pendidikan Matematika, Bapak Andy Rudhito, menyampaikan tips untuk menjaga kebersamaan.
Tindak lanjut
"Melihat pentingnya pertemuan macam ini, akan baik bila Rektorat dan Lembaga Penjaminan Mutu dan Audit Internal (LPMAI) membuat mekanisme tagihan kepada kami. Ini akan memacu kami untuk bekerja berdasarkan target." papar Bapak Yosef Wijoyo dari Profesi Apoteker.
"Kebijakan Rektorat adalah demikian. Untuk hal-hal yang tidak memungkinkan dikerjakan di kampus, terutama karena energi dan waktu memang tersita untuk pelayanan, kita harus berani meluangkan waktu untuk bekerja di luar seperti ini. Mohon diagendakan saja. Kami mendukung. Selanjutnya LPMAI segera menindaklanjutinya. Kapan akan lokakarya lanjutan." papar Wakil Rektor 2, Bapak Aufridus Atmadi, memberikan penjelasan.
Kegiatan lokakarya (re)akreditasi ini memang dirindukan oleh semua peserta lokakarya. Kehadiran Rektorat dan LPMAI dibutuhkan. Apalagi, sebagaimana yang ditampilkan oleh Bapak Tri Priantoro dan Bapak St. Christiono, akreditasi dengan SAPTO membutuhkan kerja koordinasi yang masif dan berkelanjutan.
(LPMAI)




