USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

"1551: Tunggal Yasa Lena Praja", Sebuah Pementasan Kolosal dari Teater Seriboe Djendela USD

diupdate: 9 tahun yang lalu


Teater Seriboe Djendela (TSD) yang merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (UKM USD) mempersembahkan pementasan kolosal yang berjudul “1551: Tunggal Yasa Lena Praja”. Pentas yang diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2017 di Auditorium Driyarkara USD merupakan salah satu rangkaian acara Dies Natalis USD ke-62. Pementasan Teater Seriboe Djendela ini berkolaborasi dengan UKM Seni Karawitan USD, para pesilat dari Tunggal Hati Seminari, para pemain musik lintas kampus, para penari dari program studi Psikologi USD, dan seorang dalang wayang kulit. Pementasan teater dimulai pada pukul 19.00 WIB diawali dengan pertunjukkan wayang kulit yang didalangi oleh Bayu Aji Nugroho.
Pementasan kolosal “1551: Tunggal Yasa Lena Praja” yang disutradarai oleh Charles Advendi Kurniawan ini diadaptasi dari naskah kethoprak karya S.H. Mintardja (1933-1999) yang berjudul “Nyala Api Kemerdekaan di Jantung Tanah Mataram.” Setelah kegagalan ekspedisi Kasultanan Mataram ke Batavia untuk mengusir VOC. “1551” adalah tahun Jawa dari tahun Masehi 1629, tahun penyerangan kedua Sultan Agung dari Kerajaan Mataram ke Batavia. “Tunggal Yasa Lena Praja” adalah Candrasengkala dari tahun 1551, yang memiliki arti satu tindakan yang melengahkan seisi negara, yang merujuk pada suatu konflik yang dilatarbelakangi oleh penghianatan kawula Mataram terhadap negerinya akibat bujuk rayu dan suap oleh VOC.
Pementasan kolosal ini menceritakan tentang pengabdian seorang prajurit sandi Mataram bernama Jaka Samekta, yang diberi tugas untuk mengamankan lumbung-lumbung beras di Tegal. Tugas yang tidak mudah bagi Jaka Samekta dan adik seperguruannya, Damar, karena musuh telah mencium keberadaan lumbung-lumbung itu. Penghianatan Kawula Mataram yang telah dibeli kesetiaannya oleh VOC membuat Jaka Samekta dan Damar harus waspada, tidak hanya terhadap pendekar berilmu tinggi seperti Sura Kanda dan Sura Wereng, namun juga terhadap Kemuning, “femme fatale” yang serangannya begitu halus namun mematikan.
Pementasan kolosal Teater Seriboe Djendela diakhiri dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton. Pementasan ini terbukti sangat menghibur dan memberikan kesan tersendiri bagi setiap penonton yang hadir di Auditorium Driyarkara USD. Berbagai pujian pun dilayangkan atas keberhasilan dan kerjasama yang dijalin dengan baik antara sutradara, aktor, dan seluruh panitia yang mendapatkan kepercayaan dalam mempersembahkan pementasan tersebut.
(MT & ATP)

  kembali