Campus Ministry dan Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) serta Forum Jogja Damai menyelenggarakan angkringan lintas iman yang dengan tema “A Common Word”. Dialog ini berlangsung pada Jumat, 20 Oktober 2017 di Campus Ministry, Gedung Utama, Kampus 3 Universitas Sanata Dharma (USD) Paingan, dihadiri beberapa mahasiswa USD dan komunitas iman lainnya.
Terdapat empat pemantik dalam acara ini, yakni (1) Margareta Anindhita Oktaviani (Komunitas Paingan), (2) Dimas Hanung (Cana Community), dan dua lainnya dari YIPC yaitu Fauziah Hasibuan serta Sayyid M. Jundullah. Dialog yang dipandu oleh Rahmatullah Albarawi (YIPC) selaku moderator ini mengupas tentang dokumen “Common Word” yang terdapat dua poin penting, yang mana poin pertama ialah mengasihi Allah dan kedua mengasihi sesama. Para pemantik mengkaji dalam dua perspektif yang berbeda yaitu perspektif Islam dan perspektif Kristiani.
Pemantik pertama ialah Via, yang berkesempatan mengupas topik tentang mengasihi Allah dalam perspektif Katolik. Mahasiswi USD dari jurusan Farmasi ini menyampaikan bahwa kasih Kristiani adalah kasih yang berkaitan erat dengan kebajikan dan bukan hanya berbicara tentang perasaan. Via juga menggambarkan kasih dalam bentuk perjumpaan (srawung). Salah satu cara kita mengasihi Allah dengan cara kita mengasihi sesama. Kasih adalah pemberian terbesar, anugerah terbesar dari Tuhan dan pengharapan kita. Jadi, hubungan kita harus vertikal dan horizontal. Vertikal kepada Allah, lalu kita wujudkan secara horizontal kepada sesama.
Pemantik kedua ialah Fauziah Hasibuan atau yang kerap dipanggil Bunbun. Pemantik yang merupakan lulusan UGM ini membahas dokumen mengenai Loving God dalam perspektif agama Islam. Mengakui bahwa Tuhan itu satu dan tujuan satu-satunya bagi umat Muslim. Bersyukur dengan cara ibadah yang baik, menjalankan perintahNya. Untuk menguatkan hal tersebut, ia mengutip salah satu bagian dalam surat Al Fatiha yang berbunyi “Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”. Sebaiknya kita hanya tidak saat butuh saja kita berelasi dengan sang perncipta. Mencintai dalam perspektif islam ialah mencintai yang aktif.
Selesai dengan dua pemantik wanita, kini giliran para pemantik pria menyampaikan pendapatnya. Jika tadi diskusi lebih fokus pada bagaimana kita mencintai Tuhan, dua pemantik berikutnya fokus pada pertanyaan bisakah kita mengasihi Tuhan tanpa mengasihi sesama. Dimulai dari Dimas yang merupakan perwakilan dari Cana Community. Ada hal menarik dari pemantik yang kini sedang mengenyam pendidikan di Teknik Mesin USD ini. Dimas bersyukur bahwasanya dia tumbuh dan berkembang di keluarga yang interfaith. Ayahnya beragama Muslim sedangkan ibunya menganut keyakinan Katolik. Keberagaman di dalam keluargalah yang perlahan membuatnya menyadari bahwa dalam mencintai Tuhan, kita juga harus mencintai sesama. Tak lupa dia juga mengutip salah satu bagian dari perikop alkitab yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan hujan bagi orang-orang jahat dan juga hujan bagi orang-orang baik. Dari situ ia menekankan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan sama. Seka-sekat yang kerap menjadi pembeda tak lain dan tak bukan diciptakan oleh manusia sendiri.
Pemantik keempat atau yang terakhir adalah perwakilan dari YIPC yaitu Sayyid M. Jundullah atau yang kerap disapa Judi. Sebagai pemantik terakhir, Judi berkesempatan untuk menjelaskan Loving Neighbors dalam perspektif Islam. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional UGM ini membuka diskusi dengan salah satu kutipan dari Hadis Muhammad yang berbunyi “Tidak sempurna iman di antaramu sampai kamu mengasihi sesamamu sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.” Dia melanjutkan bahwa menurut ilmu spiritualitas Islam, hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama itu saling berkaitan. Hubungan horizontal dengan sesama harus dipertanggungjawabkan secara vertikal. Sesama dalam pandangan kepercayaannya tak hanya mereka yang Muslim, namun semua ciptaan Allah yang ada di hadapanNya. Mengakhiri diskusi malam itu, dia menekankan pentingnya dialog antar agama di kalangan awam atau masyarakat umum untuk meningkatkan rasa saling memahami dan menghormati antar sesama.
(CPBS & LJWJ)




