Drs. F.X. Siswadi, M.A. berhasil meraih gelar doktor di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada setelah dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dalam Ujian Terbuka untuk Memperoleh Derajat Doktor dalam Bidang Ilmu-ilmu Humaniora (Sastra) Selasa (10/8). Dengan promoter Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo dan Ko Promotor Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U. , Siswadi berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strukur Ideologi dalam Tiga Karya Naturalistik Amerika Akhir Abad XIX (Maggie: A Girl of the Streets karya Stephen Crane, Mc Teague: A Story of San Fransisco karya Frank Norris, dan Sister Carrie karya Theodore Dreiser): Tinjauan Materialistik Eagletonian. Dengan demikian F.X. Siswadi menjadi doctor ke-1258 yang diluluskan UGM.
Ujian terbuka yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Ida Rochani Adi, S.U. dan dihadiri oleh sebagian besar civitas akademika Fakultas Sastra USD berlangsung lancar dan F.X. Siswadi mampu menjawab semua pertanyaan dengan meyakinkan. Disertasi tersebut menjelaskan kehebohan yang disebabkan oleh ketiga teks sastra dan mempertanyakan validitas pembacaan konvesional di atas dengan mengungkapkan struktur ideology di dalam teks itu. “Dari temuan-temuan yang dilakukan ternyata ketiga teks sastra itu dibangun di atas fondasi kontradiksi, kebungkaman, ambiguitas, dan ideology hegemonic”, jelas F.X. Siswadi. Ideologi hegemonic Maggie adalah bahwa lembaga ekonomi dan lembaga gereja adalah dua lembaga dominan yang berkolusi dalam kehidupan masyarakat Amerika. Sementara itu di Mc Teague individu beserta kebebasan dan otonominya disingkirkan. Era ini ditandai dengan subordinasi wirausahawan dan pasar bebas dan dominasi korporasi besar. Sedang ideology hegemonic dalam Sister Carrie adalah bahwa otonomi individu dipinggirkan melalui relasi kekuasaan yang tidak lagi mendasarkan pada kapitalisme individualistic tetapi monopolistic.
Dalam paparan akhirnya F.X. SIswadi menjelaskan bahwa kehebohan penerbitan ketiga karya itu bukan disebabkan oleh brutalitas dan amoralitas yang disuguhkan tetapi lebih pada gugatan atas sistem nilai yang dihayati oleh masyarakat Amerika, yaitu supremasi individu. “Selain itu, anggapan bahwa karya naturalistic bersifat empiris dan fungsional tidak dapat sepenuhnya dipertahankan karena teks itu tidak secara langsung menyodorkan realistas sosial tetapi justru menjadi struktur relasi kekuasaan yang menindas”, tegasnya. (iskarna)




