PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia) Universitas Sanata Dharma (USD) pada Jumat (15/9) mengadakan acara pidato kebudayaan dengan tema “Strategi Budaya Dalam Membangun (Kembali) Republik”. Pidato kebudayaan yan merupakan acara tahunan dan merupakan bagian dari agenda kegiatan PUSDEMA ini dilaksanakan di Panggung Terbuka Kampus 2 USD, Mrican, Yogyakarta. PUSDEMA dalam acara ini menghadirkan Ibu Kamala Chandrakirana untuk menyampaikan pidatonya.
Berlatar belakang sebagai sorang praktisi sekaligus aktivis HAM yang pernah menjabat sebagai Sekjen untuk Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan juga pernah menjabat sebagai Ketua Komnas Perempuan periode 2004-2009, serta Koordinator dari KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran) terkait pelanggaran HAM masa lalu, khususnya menyangkut Tragedi 1965, Kamala menyampaikan ajakan untuk bersama-sama membangun strategi budaya yang berlandaskan pada perkembangan-perkembangan baru dalam proses pemajuan standar HAM universal tentang hak budaya di kalangan komunitas HAM internasional. Ia banyak menjabarkan beberapa elemen kunci dalam konsep tentang hak budaya yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pelapor Khusus PBB untuk tema ini. Menyimak berbagai kebuntuan yang terjadi di Indonesia sekarang, Kamala beranggapan bahwa pendekatan ini mempunyai relevansi khusus dan telah menjadi urgensi tersendiri dalam upaya untuk membangun kembali Indonesia. Ia juga mengetengahkan pandangan ini atas dasar pengalamannya sebagai aktivis di berbagai ranah perjuangan dan dalam konteks tiga persoalan besar bangsa saat ini: kebebasan beragama dan berkeyakinan, diskriminasi terhadap perempuan, dan pelanggaran berat HAM masa lalu.
“Pendekatan budaya yang berbasis hak berlaku baik dalam kehidupan budaya dan sekaligus berkaitan dengan pemenuhan atas hak-hak asasi manusia lainnya, yaitu hak-hak sipil politik dan ekonomi sosial. Dengan pendekatan budaya, berarti kita memaknai hak-hak asasi manusia bukan sekedar sebagai perangkat hukum internasional melainkan juga sebagai nilai-nilai ‘budaya kemanusiaan’ yang universal.” katanya.
Sementara itu Rektor Universitas Sanata Dharma, Johanes Eka Priyatma, MSc., PhD. dalam sambutannya di acara ini menyampaikan akan dua sistem besar yang membuat Indonesia mengalami kesulitan besar dalam membangun sebuah strategi budaya. Kedua sistem itu adalah sistem ekonomi dan politik. “Sistem besar yang sangat dan selalu berpengaruh serta menghasilkan korban adalah sistem politik. Yang kedua dan yang juga tak kalah dahsyat efeknya adalah sistem ekonomi. Kedua sistem itu mempengaruhi kebudayaan kita.” ujarnya. Ia berharap bahwa sebagai sebuah perguruan tinggi, Universitas Sanata Dharma harus meniru teladan Santo Yohanes yang berseru-seru di padang gurun dalam membicarakan dan bersuara mengenai topik tersebut. “Bagi kita yang berpikir untuk menata budaya tentu akan masuk dalam wilayah yang tak mudah. Saya yakin kita hadir di sini dan menghadirkan pembicara yang juga sudah banyak memiliki pengalaman dalam level internasional dengan tujuan untuk tidak tinggal diam dengan ketidakberdayaan kita menghadapi sistem-sistem besar itu. Kita, layaknya Santo Yohanes, harus berseru-seru di ‘padang gurun’.” tuturnya.
(PUSDEMA)




