Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (USD) dengan bangga mempersembahkan kegiatan Dialog Lintas Iman (DLI) pada Jumat, 15 September 2017 di Hall Selatan Kampus III Paingan USD. Kegiatan ini masih masuk dalam rangkaian Ekaristi Kaum Muda yang merupakan kegiatan tahunan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi. Diskusi ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa USD saja, melainkan mahasiswa dari universitas lain juga datang turut memeriahkan diskusi ini.
Mengangkat tema “Mahasiswa Untuk Aksi Kedamaian”, diskusi ini menghadirkan 6 pembicara yang masing-masing mewakili enam agama yang ada di Indonesia. Ada bapak Cucu selaku perwakilan dari agama Konghucu, bapak Anthon Jason selaku perwakilan dari agama Buddha, bapak Andi Massenjah selaku perwakilan dari agama Kristen, bapak Suryanto selaku perwakilan dari agama Hindu, bapak Irwan Maduqi selaku perwakilan dari agama Islam, dan Romo In Nugroho selaku perwakilan dari agama Katolik.
Acara dimulai dengan pembacaan puisi “Kita Adalah Pemilik Sah dari Negeri ini” karya Taufik Ismail oleh Rosalia Tatiana Govitkeva selaku Ketua Panitia DLI 2017. Selanjutnya disusul oleh sambutan dari Ketua Program Studi Psikologi yaitu Ibu Passchedona Henrietta S.Psi., M.A. Dalam sambutannya beliau berpresan “Mari kita mulai aksi damai dari lingkungan sekitar kita dan meluas pada lingkungan yang lebih besar lagi. Selamat mendengarkan, selamat belajar, selamat berefleksi di Dialog Lintas Iman 2017”.
Sebelum diskusi dimulai, peserta disuguhkan sebuah pembacaan puisi berbahasa Arab dari mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Gadjah Mada, di mana isi puisi tersebut bermakna “Kita semua sama-sama manusia, tapi kenapa dikotak-kotakkan, apa salahnya ada perbedaan”. Puisi tersebut menggelitik dan menjadi bahan refleksi bagi para peserta diskusi.
Diaog Lintas Iman ini dimoderatori oleh Dr. Yohannes Babtista Cahya Widiyanto, M.Si. yang merupakan dosen Psikologi USD. Beliau membuka dialog dengan memberikan sebuah pengantar bahwa “Agama merupakan suatu panduan hidup namun ketika disatukan dengan politik akan menimbulkan kekacauan”. Pengantar tersbut ditanggapi oleh para pemuka agama yang ada. Romo In selaku pembicara dari agama Katolik menanggapi bahwa “Perdamaian dimulai dari mengucapkan salam, seperti syaloom, assalamualaikum, om swastiyastu, dan ucapan salam lainnya dari bahasa setiap agama”. Pernyataan ini juga langsung ditanggapi oleh oleh bapak Irwan selaku pembicara dari agama Islam. Beliau sangat setuju bahwa ucapan salam akan memberikan kedamaian antar umat beragama. Islam yang berarti damai tidak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk merusak hubungan antar agama. Selanjutnya ada tanggapan dari bapak Andi selaku pembicara dari agama Kristen, beliau mengatakan bahwa “Kasih adalah esensi utama umat kristiani, berdamai dengan diri sendiri artinya berdamai dengan Tuhan”. Bapak Anthon selaku pembicara dari agama Buddha menyampaikan bahwa “Dunia itu tidak kekal, kedamaian dari Buddha dimulai dari pemikiran sehat setiap individu”.Selanjutnya, bapak Suryanto selaku pembicara dari agama Hindhu menekankan bahwa “Sanatana Dharma berarti kebenaran yang bersifat abadi”. Bapak Cucu selaku pembicara dari agama Konghucu mengatakan “Apabila dirimu tidak ingin diperbuat oleh orang lain dengan cara demikian, jangan perbuat orang lain dengan cara demikian pula”. Kalimat-kalimat tersebut merupakan sepenggal kalimat yang merupakan tanggapan dari pengantar yang disampaikan oleh moderator. Masih banyak lagi hal yang disampaikan oleh para pembicara dalam diskusi ini yang membuat para peserta sangat tertarik untuk bertanya. Hal ini ditunjukkan dari beberapa orang penanya yang langsung mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus dalam sesi tanya jawab. Hal ini menandakan bahwa diskusi agama seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan setiap orang mengenai agama-agama tertentu.
Pada akhir diskusi, moderator menarik benang merah bahwa “Semua agama itu baik dan damai. Manusia perlu menyadari praktek politisasi agama yang mengarah pada gerakan-gerakan radikalisme. Kita tidak terlalu penting berdiskusi secara verbal mengenai agama, kita hanya perlu menyediakan ruang-ruang perdamaian supaya tidak mudah diadu domba”
“Melalui acara ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai kedamaian menurut beberapa agama di Indonesia. Kegiatan ini juga membuat saya tersentil untuk dapat lebih mengusahakan kedamaian di Indonesia, karena bagaimanapun juga semua aksi dimulai dari diri sendiri.” kata Ivan Etenia Tananto, mahasiswa Teknik Industri UAJY memberi kesannya terhadap acara Dialog Lintas Iman 2017.
Tidak hanya membahas mengenai perdamaian dalam setiap agama, panitia Diaog Lintas Iman juga memberikan suguhan yang tidak kalah menarik yaitu persembahan puisi dan pantomim dari komunitas DAC (Deaf Art Community) yaitu salah satu komunitas di Jogja yang beranggotakan teman-teman yang tuna rungu dan tuna wicara. Sangat menarik dan menyentuh hati saat melihat penampilan mereka. Acara yang dimulai pada pukul 16.00 WIB ini, dikahiri dengan Garden Party di mana semua peserta disuguhkan dengan penampilan-penampilan menarik dari mahasiswa dan juga terdapat angkringan.
(SR & IK)




