USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Studi Banding Penjaminan Mutu UST ke USD

diupdate: 9 tahun yang lalu


Gerakan untuk meningkatkan kualitas Perguruan Tinggi telah menjadi topik penting dalam periode dua dekade terakhir. Dari sisi pemerintah, berbagai hal telah dikeluarkan. Perangkat hukum, kebijakan, dan dukungan berupa bantuan tenaga ahli telah disediakan oleh Kemenristekdikti. Di lain pihak, peran pemerintah melalui berbagai skema dan insentif sesungguhnya hanya akan menjumpai kegagalan bila tidak ada inisiatif dari pihak-pihak internal perguruan tinggi untuk selalu belajar demi perbaikan diri secara terus-menerus.                       
Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Sarjana-Wiyata Tamansiswa (UST) meyakini pentingnya inisiatif dari pihak diri sendiri dalam rangka peningkatan mutu. Kunjungan studi banding (benchmarking) ke sejumlah kampus terpilih pun dilakukan. Rabu, 23 Agustus 2017, bertempat di Ruang Rapat Kampus I Universitas Sanata Dharma (USD), 12 peserta dari UST diterima dengan hangat oleh Lembaga Penjaminan Mutu Audit Internat (LPMAI) USD.

"Kunjungan ini merupakan studi banding nomor tiga, setelah kunjungan kami ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Indonesia (UII)." papar Dr. Yuli Prihatni, M.Pd., selaku Ketua LPM UST. Alasan pemilihan studi banding ke USD tidak lepas dari adanya relasi yang telah terjalin baik antara UST dan USD.  Tim LPM UST juga mengakui telah belajar dari Ir. Ignatius Aris Dwiatmoko, M.Sc. (Ketua LPM USD 2007-2014), yang saat ini menjadi salah satu instruktur dan/atau narasumber penjaminan mutu di Kopertis Wilayah V.
"Sebagai tetangga, kami justru belum berkunjung dan belajar dari USD yang telah memiliki budaya mutu yang sangat baik." imbuh Ibu Yuli Prihatni.
"Memang benar, pengertian tentang mutu akan sangat kering, miskin, dan salah arah bila hanya diukur dari keberadaan dokumen saja. Satu hal yang kita bangun di USD adalah sinergi antar lini. LPMAI berada dalam posisi untuk membantu dan mendukung berjalannya program-program rektorat, fakultas, prodi, dan unit-unit pendukung. Substansi penjaminan mutu menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pejabat yang dipercaya untuk memimpin unit tertentu. LPMAI tidak mengambil alih peran penjaminan mutu. Itu sudah tertuang dalam kebijakan SPMI di USD." papar Markus Budiraharjo, M.Ed., Ed.D., Ketua LPMAI USD (2014-sekarang).                       
Budaya mutu memang butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang. “Dalam waktu tiga tahun terakhir, upaya membangun mutu di UST dimulai dengan menyusun dokumen mutu (kebijakan mutu, manual mutu, standar mutu, dan formulir-formulir).” Ibu Yuli melanjutkan.
Pengalaman di USD sendiri sangatlah kompleks. Ada banyak faktor pembentuk dari budaya mutu itu sendiri. "Adanya berbagai kisah, cerita, dan kesaksian tentang apa yang luhur, baik, dan harus diperjuangkan. Ini merupakan komponen utama yang merekatkan USD sebagai sebuah komunitas," imbuh Bapak Markus. "Pengalaman menerima belasan hibah (2008 - 2012) membuat USD terbiasa dengan transparansi dalam pengelolaan kegiatan." lanjut Dra. C. Budi Wuryanti, Sekretaris Satuan Penjaminan Mutu dan Audit Internal Pendukung (SPMAIP) USD. "Sistem Informasi di USD telah dikembangkan sejak 1994. Pada saat itu, Pak Eka Priyatma, yang sekarang Rektor USD, mengawali terbentuknya BAPSI. Keberhasilan USD dalam AIPT merupakan buah manis dari rintisan SI lebih dari dua dekade yang lalu." papar Agus Sugiatno, S.Si., M.M.  Kepala SPMAIP USD. "Pemanfaatan SI dalam pengelolaan keuangan sangat membantu terciptanya otonomi dan keterlibatan prodi. Masing-masing prodi akan menentukan anggaran berdasarkan jumlah dana yang diketahui oleh semua pihak terkait." jelas Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Si., Sekretaris Satuan Penjaminan Mutu dan Audit Internal Akademik (SPMAIA).
Kegiatan studi banding diakhiri dengan penjelasan oleh St. Christiono, S.T. (administrasi LPMAI) tentang Sistem Informasi Akademik (SIA). Secara singkat, para peserta mempelajari bagaimana SIA di USD beroperasi, siapa saja yang berhak mengakses, dan kegunaan dari fitur-fitur yang dikembangkan.
"Memang budaya mutu harus menjadi komitmen semua lini. Pemimpin perguruan tinggi memainkan peranan kunci. Namun semua pihak harus bergerak bersama. Yang tidak boleh ketinggalan adalah adopsi teknologi informasi. Inilah yang bisa kami pelajari dari USD. Semoga ini benar-benar menjadi insiprasi yang menggerakkan kami di UST." Ibu Yuli Prihatni menyimpulkan.
(eMBi)

  kembali