Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (FS USD) mengawali hari pertama tahun akademik 2017/2018 dengan mengadakan Kuliah Umum Sastra (21/8). Kuliah umum ini wajib diikuti oleh mahasiswa FS USD, yaitu Program Studi Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Sejarah angkatan 2014, 2015, 2016, dan 2017. Kuliah umum yang diikuti oleh kurang lebih 1000 peserta ini dilaksanakan di Auditorium Driyarkara USD.
Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, M.Hum. dosen Program Studi Sastra Inggris selaku pembawa acara dan moderator membuka acara dengan berdoa kemudian mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Setelah itu pembicara pun diundang untuk naik ke atas panggung. Pembicara Kuliah Umum Sastra ini sangat menarik bagi mahasiswa sastra, yaitu Seno Gumira Ajidarma, seorang penulis sastra terkenal di Indonesia.
Tidak seperti kuliah umum biasanya yang memiliki materi tertentu, kuliah umum sastra yang baru pertama kali diadakan ini tidak memberi materi tertentu karena penyelenggara menginginkan adanya diskusi di antara pembicara dan peserta. Seno Gumira Ajidarma membuka kuliah umum dengan membacakan cerita pendeknya yang berjudul “Gubrak!” (2011). Cerpen tersebut menceritakan tentang kecantikan seorang wanita.
Sebelum melakukan diskusi dengan para mahasiswa, Seno Gumira Ajidarma mengawali pembicaraannya dengan menceritakan sedikit pengalamannya dalam menulis karya sastra. Baginya, hebat atau tidaknya suatu karya sastra tergantung dari kesan pembaca. Pernah suatu ketika pada zaman reformasi, tulisannya mendapat kesan dari para pembaca di luar negeri. Bagi para pembaca tersebut, Seno merupakan orang yang beruntung karena hidup di negara yang kacau sehingga mendapat banyak reformasi. “Ya siapa yang suka hidup di negara yang kacau, kalau boleh memilih ya ingin hidup di negara yang tenang.” candanya.
Bagi Seno, sastra itu harus dimerdekakan. Sastra ada di mana-mana, segala sesuatu yang dapat dibongkar banyak maknanya adalah sastra. “Ada tiga mitos yang harusnya dihancurkan dalam sastra, yaitu anggapan bahwa sastra itu curhat, sastra itu mendayu-dayu, dan sastra itu pedoman hidup. Bukan! Sastra itu membongkar, mempertanyakan, dan membuat baru.” ucapnya.
Kemudian kuliah umum dilanjutkan dengan sesi diskusi atau tanya jawab dengan para peserta. Para mahasiswa terlihat sangat antusias dalam memberikan pertanyaan, tak ketinggalan para dosen yang juga mengajukan pertanyaan kepada pembicara. Pembicara terlihat senang saat peserta antusias memberikan pertanyaan. “Saya sering mendapat pertanyaan di mana-mana, bagaimana caranya agar dapat menulis? Gampang, hanya memulai, kemudian sambung, dan akhiri.” kata Seno di tengah sesi diskusi.
“Saya surprise karena auditorium penuh. Semoga selanjutnya FS USD dapat mengadakan kuliah umum lagi.” ujar Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., Dekan FS USD. Kuliah umum diakhiri dengan sesi selfie para dosen dan pembicara dengan peserta dari atas panggung.
(ATP)




