USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Sehari Kajian Silat: "Silat Seni, Seni Silat"

diupdate: 9 tahun yang lalu


Selasa (15/8) di Ruang Koendjono Gedung Pusat Kampus 2 Universitas Sanata Dharma (USD) diadakan Seminar Sehari Kajian Silat dengan tema “Silat Seni, Seni Silat”. Seminar ini merupakan acara pertama dalam rangkaian Pentjak Malioboro Festival yang diadakan oleh Tangtungan Project pada 18 - 20 Agustus 2017. Seminar kajian silat ini mendatangkan lima pembicara, yaitu G. J. Nawi; Emri Rangkayo Mulia Aja, S.Sn; Wendy HS S. Sn MA; Dr. Eko Suprianto d/h Eko Pece; dan Garin Nugroho.
Seminar yang dimulai pukul 09.30 WIB ini dibuka dengan sambutan oleh Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma. Setelah itu dilanjutkan sambutan oleh Whani Darmawan selaku Koordinator Acara.
Untuk membuka pengetahuan mengenai silat, pembicara pertama disampaikan oleh G. J. Nawi, pemerhati dan penulis buku pencak silat. Beliau mengungkap sejarah dan perkembangan pencak silat di nusantara. Baginya, silat merupakan sebuah pertunjukkan, ritual, olah raga, dan yang perlu digarisbawahi adalah silat merupakan ekspresi kebahagiaan.
Pembahasan yang lebih sempit disampaikan oleh Emri Rangkayo Mulia Aja, S.Sn dan Wendy HS S. Sn, MA. Mereka memaparkan mengenai silek di Minangkabau; Emri Rangkayo Mulia Aja, S.Sn sebagai dosen program studi seni tari di ISI Padang Panjang, guru silat, serta koreografer memaparkan penjelasannya bagaimana titik temu antara silek atau silat dengan seni pertunjukan tari dalam budaya Minangkabau. Titik temu tersebut ia sebut dengan sewah yang berarti upaya pengembangan diri dalam silek, yaitu bunga-bunga silek. Dalam penjelasannya, beliau pun memperagakan bagaimana silek di Minangkabau, yang memadukan gerakan silek dengan piring karena dalam adat Minang, piring dianggap barang yang paling mahal.
Wendy HS S. Sn, MA, dosen jurusan teater ISI Padang Panjang, mengarahkan pembahasannya ke dalam silat dalam seni khususnya pertunjukan. Beliau mengatakan bahwa tubuh yang sedang ber-silek merupakan tubuh yang peka, tubuh yang menjalin raga, rasa, dan periksa. Silek merupakan perwujudan lahir dan batin, serta melambangkan budi yang baik.
Menurut Dr. Eko Supriyanto dikatakan bahwa yang paling penting pada pencak silat dalam seni tari adalah memori tubuh. Memori tubuh penting untuk memanggil gerakan pribadi guna mengeksplorasi gerakan tubuh. Sebagai dancer, koreografer, dan pesilat dari perguruan BIMA Yogyakarta, baginya dalam gerakan serang dan bertahan dalam silat, yang dibutuhkan tak hanya menyangkut intensitas, tetapi juga rasa atau estetik. Tak hanya berbagi pemikirannya, Dr. Eko Supriyanto memperagakan gerakan-gerakan di awal dan akhir pembicaraannya.
Pembicara terakhir disampaikan oleh Garin Nugroho sebagai budayawan dan filmmaker. Garin mengungkap bagaimana pencak silat berkaitan dengan dunia perfilman. Membahas silat dalam sinema maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah film laga dari Cina. Film silat menurutnya, selalu bercampur dengan aspek nasionalisme ataupun identitas bangsa. Yang sangat disayangkan adalah perkembangan film silat di Indonesia masih minim, serta kurangnya penelitian yang membahas pencak silat dalam kaitannya dengan perfilman.
Setelah semua pembicara selesai memberikan paparannya, seminar dilanjutkan dengan pertunjukkan pencak silat dan sesi tanya jawab. Para peserta seminar yang hadir dengan sangat antusias mengungkapkan pertanyaan dan tanggapannya mengenai kajian silat.
(ATP & AC)

  kembali