USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pelembab dari Belut Kaya Antioksidan yang Berpotensi sebagai Pencegah Kanker Kulit

diupdate: 9 tahun yang lalu


Aktivitas manusia dan kondisi cuaca yang tidak menentu dapat mempengaruhi kesehatan kulit manusia. Paparan sinar UV dapat mengakibatkan kulit menjadi kering, kusam, dan bahkan yang paling berbahaya adalah dapat memicu kanker kulit. Salah satu cara untuk mencegah kulit kering adalah dengan menggunakan krim pelembab. Belut diketahui memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi kulit, antara lain mengandung vitamin A, vitamin C, dan protein (Juliani, 2010). Oleh karena itu, tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) Universitas Sanata Dharma yang beranggotakan Florentina Budi Ardiani (Pendidikan Biologi 2016), Alfonsus Pragito Raynalto (Pendidikan Biologi 2016), Theodora Melisa Anggraeni (Pendidikan Biologi 2016), Maria Philomia Christanti Raga (Farmasi 2016), dan Elisabeth Yasinta Wijayanti (Farmasi 2015) membuat sebuah program penelitian berjudul “Pembalut Katok Aku”. Program penelitian ini merupakan penelitian mengenai Pelembab dari Belut Kaya Antioksidan yang Berpotensi sebagai Pencegah Kanker Kulit yang didanai oleh Kementerian Ristekdikti dan dibimbing oleh Ibu Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi minyak belut terhadap sifat fisika krim pelembab.
Penggunaan belut sebagai bahan campuran krim pelembab merupakan inovasi baru pengolahan belut yang biasanya hanya diolah menjadi bahan pangan. Kegiatan penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap, yaitu ekstraksi minyak belut, uji laboratorium, formulasi krim, dan uji sifat fisika krim. Ekstraksi minyak belut dilakukan di Laboratorium Pasteur Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma dengan metode steam menggunakan autoclave. Ekstraksi minyak belut dilakukan dalam 3 varian waktu, yaitu 45 menit, 60 menit, dan 90 menit. Hasil menunjukkan bahwa pemanasan selama 90 menit menghasilkan rendemen paling tinggi, yaitu 10,55% dengan standar deviasi 14,60, sehingga dapat diketahui bahwa semakin lama waktu pemanasan, maka semakin tinggi rendemen yang diperoleh.
Minyak belut yang diperoleh dari proses ekstraksi selama 1,5 jam kemudian diuji secara in vitro kandungan kadar lemak totalnya. Pengujian ini dilakukan di salah satu laboratorium terpadu di Yogyakarta. Hasil menunjukkan bahwa rerata kadar lemak total yang terkandung dalam minyak belut adalah 0,01 %.
Formulasi krim dilakukan di Laboratorium FTS Padat Farmasi Universitas Sanata Dharma. Formulasi pembuatan krim dilakukan sesuai dengan metode pembuatan krim menurut Farmakope Indonesia nomor IV, yaitu dengan meleburkan bagian lemak di atas tanggas air, kemudian ditambahkan bagian airnya dengan zat pengemulsi, lalu diaduk hingga terbentuk suatu campuran yang berbentuk krim. Krim dibuat dengan konsentrasi minyak belut yang berbeda, yaitu 25% dan 50%. Basis krim yang digunakan dalam formulasi krim pelembab ini adalah vaseline (4 gram), sedangkan bahan lainnya adalah lanolin anhydrous (2 gram) sebagai emulgator, 3 tetes minyak apel-melati sebagai pewangi, etanol dan methyl paraben (0,02% dari bobot sediaan) sebagai pengawet.
Krim yang sudah diformulasikan kemudian diuji secara fisik, yaitu uji pH, uji viskositas, dan uji organoleptis. Uji pH terhadap kedua krim menunjukkan bahwa kedua krim memiliki pH berkisar antara 6,4-6,6. Uji viskositas terhadap kedua krim menunjukkan hasil yang berbeda, yaitu krim dengan konsentrasi minyak belut 25% memiliki viskositas 77034 Poise, sedangkan krim dengan konsentrasi minyak belut 50% memiliki viskositas 19758 Poise. Berdasarkan uji organoleptis yang dilakukan terhadap kedua krim, diketahui bahwa keduanya memiliki aroma dan warna yang sama, yaitu aroma apel-melati dan warna kuning muda. Oleh karena itu, dari uji sifat fisika yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi minyak belut dapat mempengaruhi viskositas krim, namun tidak mempengaruhi pH dan uji organoleptis.
Penelitian yang dilaksanakan tanggal 11 Mei 2017 hingga 11 Juli 2017 ini memiliki potensi untuk dipatenkan karena sejauh ini diketahui belum ada yang pernah melakukan penelitian yang serupa. Selain itu, penelitian ini dapat dilanjutkan pada tingkat uji analisis aktivitas antioksidan dan dermatologis untuk mengetahui mekanisme terhadap perlindungan kulit manusia.
(PKA)

  kembali