St. Ignasius dari Loyola (Inigo) dilahirkan pada tahun 1491 dari keluarga Loyola yang terletak di daerah Basque, Spanyol Utara. Ignasius wafat pada tanggal 31 Juli 1556 dan dinyatakan kudus pada tanggal 21 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Setiap tanggal 31 Juli Gereja Katolik memperingatinya sebagai perayaan St. Ignatius dari Loyola.
Bertempat di kapel St. Robertus Bellarminus Universitas Sanata Dharma, Senin (31/7) segenap civitas akademika USD merayakan Ignatius Day dengan mengadakan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Dr. A. Priyono Marwan, S.J. Perayaan Ekaristi ini mengambil tema “Menemukan Kegembiraan di dalam Tuhan” sebagaimana warisan luhur yang di tinggalkan oleh St. Ignasius dari Loyola.
Romo Priyono mengawali homilinya dengan mengajak umat untuk menemukan jejak St. Ignasius dalam kehidupan sehari-hari baik dalam karya Serikat Jesus maupun dalam nama baptis yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Dalam karya Serikat Jesus kita dapat menemukan jejak St. Ignasius dari Loyola dalam dunia pendidikan seperti SMA Kolese Loyola Semarang dan Loyola University Chicago. Sedangkan dalam karya paroki dapat di temukan dalam Paroki San Inigo Dirjodipuran Surakarta dan masih banyak lainnya yang menggunakan nama Ignasius atau Inigo sebagai pelindung. Dalam hal ilmu pengetahuan banyak Serikat Jesus yang menyumbangkan pemikiran dan karyanya. Banyak astronom yang berasal dari Serikat Jesus bahkan beberapa nama kawah di bulan diberi nama berdasarkan nama Serikat Jesus yang menemukannya. Di Indonesia kamus bahasa Jawa Kuno juga ditulis oleh seorang Serikat Jesus yang berasal dari Belanda. Di Tiongkok ada Matteo Ricci, SJ seorang Itali yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa dan budaya Tiongkok serta menjadi pioner yang memperkenalkan budaya Barat ke Tiongkok dan masih banyak karya lainnya yang dilakukan oleh misionaris Serikat Jesus di berbagai penjuru dunia. Tentunya hal ini didasarkan pada semangat St.Ignasius dari Loyola yang merupakan pendiri Serikat Jesus yang melakukan berbagai cara dengan menembus segala medan karya dengan siap diutus ke mana saja untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan dengan berbagai karya itu nama Tuhan semakin dimuliakan.
Salah satu harta berharga yang ditinggalkan dan diwariskan oleh St. Ignasius adalah Latihan Rohani. Romo Priyono mengatakan bahwa salah satu bagian dari Latihan Rohani yang diajarkan oleh St. Ignasius adalah RnD. RnD yang dimaksud di sini adalah Refleksi dan Diskresi. Refleksi dan diskresi merupakan istilah kunci dalam Ignasian yang diwariskan dan dipopulerkan oleh St. Ignasius. Melalui doa dan refleksi seseorang dituntun untuk mampu berjumpa dengan Tuhan, bukan hanya bertemu pada pikiran dan imajinasinya yang kosong. Setelah mengalami perjumpaan seseorang diminta untuk merasakan gerak batin tertentu yang dialami. Entah itu perasaan bahagia, penghiburan dan perasaan-perasaan lainnya. Apakah seseorang mampu dan mau menerima rahmat penghiburan yang diberikan Tuhan kepada dirinya atau justru menolaknya dengan mencari penghiburan yang lain dengan kesenangan duniawi. Apakah seseorang mau menjumpai dan menemukan Allah dalam hidupnya dengan menanggapi cinta dan melaksanakan kehendak-Nya. Inilah pilihan-pilihan yang harus diambil dengan cara berdiskresi.
Berbicara tentang refleksi dan diskresi kita dapat melihatnya dalam perjalanan hidup St. Ignasius. Saat kakinya terluka ketika berperang melawan Perancis maka ambisinya untuk menjadi seorang kesatria yang gagah pupus. Saat itu dia merefleksikan hidupnya yang penuh dengan dosa dan ambisi pribadi. Dia hanya mencari ketenaran untuk kemuliannya sendiri. Kemudian ia berdiskresi dan akhirnya memutuskan untuk menjadi peziarah ke Yerusalem dengan hidup miskin dan sederhana. Menyerahkan pedangnya kepada Bunda Maria dan pakaian perangnya kepada seorang pengemis dan memutuskan untuk mengabdi Tuhan menjadi kesatria Kristus. St. Ignasius juga berefleksi ketika dia dijebloskan ke dalam penjara karena dicurigai mengajarkan ajaran sesat dengan mengajarkan Latihan Rohani ke banyak orang padahal ia tidak memiliki lisensi untuk mengajar dan berbicara tentang Tuhan kepada orang banyak. Dari hasil diskresinya dia memutuskan untuk studi dan belajar Teologi di Paris agar dia dapat mengajarkan Latihan Rohani dan dengan demikian ia dapat mewujudkan niatnya untuk menolong jiwa-jiwa. Setelah menyelesaikan studinya di Paris dia mau pergi ke Yerusalem dan bercita-cita untuk hidup di tanah air Kristus dan melakukan pelayanan seperti Kristus. Namun tidak ada kapal yang membawanya ke Yerusalem sehingga Ignasius kembali berefleksi dan berdiskresi hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Paus sebagai wakil Kristus dan siap diutus kemana saja untuk tugas apa saja.
Dalam akhir homilinya Romo Priyono mengajak umat untuk dapat belajar dari pengalaman hidup St. Ignasius. Dengan refleksi dan diskresi maka kita akan mampu menemukan Tuhan dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Mencintai dan mengikuti-Nya dan mau menemui-Nya ketika mengambil keputusan supaya keputusan yang kita ambil sesuai dengan kehendak-Nya. Semangat yang diwariskan oleh St. Ignasius melalui refleksi dan diskresi harus senantiasa kita laksanakan dan kita coba hingga akhirnya kita dituntun untuk dapat menemukan kegembiraan di dalam Tuhan sebagaimana tema perayaan ekaristi ini. Romo Priyono mengakhiri perayaan ekaristi dengan sebuah ungkapan AMDG yang berarti “Aku Melayani Dengan Gembira”.
(LH)




