USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Insadha Gelombang 1 bagi Mahasiswa Baru USD Tahun Akademik 2017/2018

diupdate: 9 tahun yang lalu


Inisiasi Sanata Dharma (Insadha) Gelombang 1 berlangsung tanggal 27-28 Juli 2017 di Kampus 2 Universitas Sanata Dharm (USD) Mrican. Pada salah satu rangkaian acara Insadha Gelombang 1 ini, Kamis (27/7) para mahasiswa baru diajak mampir ke angkringan milik Mbak Sofi. Tentu bukan angkringan yang sesungguhnya yang ada di pinggir-pinggir jalan, melainkan dekorasi kreatif di panggung Auditorium Driyarkara USD yang dikonsep oleh sesi Ceramah dan Diskusi (Cerdisk) lengkap dengan gerobak dan bangku kayu serta nasi bungkus dan gorengan khas angkringan yang banyak ditemui di Yogyakarta. Di angkringan milik mbak Sofi tersebut, ternyata salah satu menu andalannya yakni kopi. Bukan sekedar kopi bubuk yang cukup diberi gula dan air panas sebelum dihidangkan, melainkan kopi yang sangat spesial
Hal yang membuat kopi tersebut spesial yakni baristanya dan filosofinya.  Jika di balik apron barista yang biasa kita temui di coffee shop adalah “Mas atau Mbak muda yang cantik dan tampan, tetapi di Insadha Gelombang 1 ini baristanya adalah seorang Romo/Pastur. Romo Dr. Cyprianus Kuntoro Adi, S.J., M.A., M.Sc. atau kerap disapa Romo Kun oleh mahasiswa USD ini membagikan ilmu tentang kopi dan cara penyajiannya yang saat ini sedang menjadi salah satu kegemaran beliau.
Dengan membawa beberapa bungkus kopi robusta dan arabika berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia lengkap dengan peralatan untuk menyajikannya, Romo Kun berbagi banyak hal dengan para mahasiswa baru. Sembari menyeduh, beliau membagikan banyak hal tentang keistimewaan kopi yang nilai-niainya dapat dipetik bagi para mahasiswa. Kopi yang dibuat dengan “pressure” yang tepat akan menghasilkan minuman kopi yang nikmat. Sama seperti mahasiswa, butuh ada “pressure” agar dapat menjadi manusia yang beguna. Tantangan dan tekanan adalah sesuatu hal yang harus dilewati, khususnya di kampus Universitas Sanata Dharma yang menjunjung tinggi 4 nilai-nilai dasar yakni mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, menghargai keberagaman, dan menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia.
Beberapa mahasiswa baru pun memiliki kesempatan untuk mencicip kopi seduhan Romo Kun, dan komentarnya pun beragam. Saat diminta menebak rasa dan wangi dari aroma kopi, para mahasiswa tersebut sempat kebingungan. Namun, di sanalah istimewanya kopi, dapat memberikan rasa yang berbeda berdasarkan cara perawatan dan pengolahannya, seperti para manusia khususnya mahasiswa USD. Romo Kun mengibaratkan mahasiswa USD sebagai biji-biji kopi yang ada di kedai-kedai kopi mahal, yakni istimewa. Mahasiswa USD harus menyadari bahwa dirinya merupakan manusia berkualitas yang telah melalui beberapa tahap penyaringan. Bahwa dari 98% anak di Indonesia yang dapat mengenyam bangku Sekolah Dasar, hanya 16% lah yang dapat melanjutkan hingga Perguruan Tinggi.
Melalui filosofi kopi ala Romo Kun ini, maka mahasiswa baru Universitas Sanata Dharma diharapkan dapat menjadi mahasiswa yang mengamalkan 4 nilai dasar USD dan nilai-nilai 3C; Competence, Conscience, Compassion.  
Sementara itu, dalam salah satu rangkaian Insadha Gelombang 1 hari kedua Jumat (28/7), para mahasiswa baru berkesempatan untuk kembali mendengar dan berbagi cerita dari salah satu pembicara yang telah menginspirasi banyak orang. Kali ini mereka disuguhi pengalaman hidup seorang Pendeta, bukan sembarang Pendeta karena Pendeta yang satu ini memiliki banyak tato di sekujur tubuhnya, bahkan hingga wajahnya sekalipun. Ya, siapa yang tak kenal Pendeta Agus Sutikno.
Sudah muncul di beberapa stasiun televisi, Pendeta Agus Sutikno mendapat sambutan meriah kala Cerdisk mempersilahkan beliau untuk naik ke panggung Auditorium Driyarkara USD. Pria yang kerap disapa Pendeta jalanan ini meluangkan waktunya untuk berbagi cerita dan pengalaman hidupnya kepada para mahasiswa baru USD. Sembari menjawab dengan lugas dan tegas berbagai pertanyaan yang dilayangkan oleh Cerdisk, Pendeta Agus menekankan bahwasanya pendidikan yang harusnya diberikan kepada generasi muda haruslah pendidikan yang memanusiakan, sama persis dengan apa yang diucapkan Driyarkara selaku pendiri kampus USD; pendidikan yang memanusiakan manusia muda.
Para mahasiswa baru pun makin bergairah ketika beberapa dari mereka diizinkan untuk bertanya langsung kepada Sang Pendeta. Setelah itu, pria yang belum pernah mengenyam bangku pendidikan kuliah itu juga mengatakan betapa pentingnya peran  kasih dalam perbuatan. Segala sesuatu yang diperkuat untuk orang lain haruslah berdasarkan kasih, karena kasihlah sumber dari segala kebaikan. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Pendeta Agus selalu berhasil merangkul anak-anak jalanan, pengamen, pekerja seks hingga pecandu narkoba. Dalam merangkul mereka, Pendeta Agus tak pernah mengandalkan ataupun menjanjikan nominal, melainkan menjadi satu dengan mereka dan mengalami langsung apa yang mereka alami. Tak lupa Pendeta Agus juga menyatakan bahwa ia sama sekali tak pernah pandang bulu dalam merangkul dan mengayomi anak-anak. Selain ingin mengamalkan unsur kebhinnekaan, Pendeta Agus sendiri memang dibesarkan di lingkungan yang jauh berbeda dengan apa yang ia lakoni sekarang.
Mengusung tema Jadi Diri Sendiri, Bersatu Dalam Aksi, Kebhinekaan Menginspirasi, Insadha Gelombang 1 ini memang diharapkan mampu menjadi sarana penyampaian pesan yang tepat kepada para mahasiswa baru di tengah maraknya isu tentang toleransi. Tak mengharapkan sesuatu yang besar dan mendunia, panitia berharap agar kelak mahasiswa baru USD mampu menerapkan nilai-nilai tema tersebut berlandaskan 3C, 4 nilai dasar; dalam lingkup Indonesia kecil, yakni kampus USD itu sendiri.
(CAP & LJWJ)

  kembali