USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pembelajaran Pemilahan Sampah dengan Media Tempat Sampah Braille untuk Tunanetra

diupdate: 9 tahun yang lalu


Indonesia merupakan negara dengan begitu banyak penduduk dan sekitar 2,45%  di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas di Indonesia menurut hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa presentase jumlah penyandang disabilitas, khususnya tunanetra sebesar 3,05% dibandingkan dengan bentuk disabilitas lain. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya perlu dilakukan lebih banyak lagi inovasi yang memudahkan para penyandang tunanetra dapat beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya. Mereka berhak untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang dapat digunakan secara optimal.
Fasilitas tersebut salah satunya dapat berupa fasilitas yang membantu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu tempat sampah. Tempat sampah di Indonesia pada saat ini memang telah dibedakan sesuai dengan jenis sampah yang akan dibuang, umumnya dibedakan menjadi Organik dan Non-Organik. Tempat sampah ini merupakan inovasi yang baik yang bertujuan untuk memilah sampah agar sampah yang tidak terurai dapat dengan lebih mudah didaur ulang karena telah terpisah dari sampah yang terurai. Seperti masyarakat pada umumnya tunanetra sebenarnya juga membutuhkan sarana ini. Oleh karena itu tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang beranggotakan Deni Aditya Christianto, Angela Marselly Br Barus, Aprithalia  Theresia (Farmasi 2014); Illona June Wahyudin (Psikologi 2014); dan Agustina  Dini Yuliandari (Pendidikan Biologi 2015) membuat sebuah program berjudul “Pesta Pare”. Program ini merupakan Pemberian Edukasi Tentang Pengelolaan Sampah dan Pembuatan Tempat Sampah Braille Kepada Siswa MTs Yaketunis (Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam) Yogyakarta, yang didanai oleh Ristekdikti. Tim PKM-M Pesta Pare dibimbing oleh Bapak Florentinus Dika Octa Riswanto, M.Sc.
Program ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian Tim PKM-M Pesta Pare untuk lebih memberdayakan para penyandang tunanetra dan membuat mereka dapat beraktivitas atau memiliki pandangan yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Sehingga pengetahuan mereka tidak terbatas hanya pada membuang sampah pada tempatnya tetapi juga untuk menjaga kebersihan dan memilah sampah sesuai dengan jenis-jenisnya. Kegiatan ini dibagi menjadi tiga tahap yang dilaksanakan setiap hari Sabtu pada tanggal 29 April 2017, 13 Mei 2017, serta 20 Mei 2017. Tahap-tahap ini dibagi lagi menjadi tahap perkenalan awal, tahap pemberian materi terkait pengelolaan sampah, serta tahap praktek pemilahan dan pembuangan sampah pada tempat sampah braille. Tempat sampah braille yang diberikan oleh pihak pelaksana program berupa tempat sampah dengan tuas injakan serta dilengkapi dengan tulisan braille timbul di sisi atas tutup tempat sampah dan di papan bagian atas tempat sampah. Tempat sampah braille ini dibagi menjadi dua jenis yaitu Organik dan Non-Organik. Program Pesta Pare ini memberikan edukasi terkait pembagian jenis sampah, dampak sampah, dan berusaha untuk meningkatkan kepedulian para siswa terkait sampah di lingkungan sekitar mereka. Dalam upaya untuk meningkatkan minat siswa untuk belajar lebih jauh, pelaksana program juga membuat beberapa aktivitas seperti drama dan menyanyi bersama. Drama dan lagu yang digunakan pun berhubungan dengan cara-cara untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Selain memberikan edukasi, program ini mengajak para siswa untuk terlibat secara langsung dengan melakukan praktek membuang sampah secara terpisah. Praktek ini dilakukan dengan games sederhana yang mengharuskan mereka untuk mengelompokkan sampah sesuai dengan pembelajaran yang telah diberikan di awal pertemuan.
Siswa-siswi cukup antusias mengikuti setiap kegiatan, Tim PKM-M Pesta Pare hadir dengan materi ringan ditambah dengan aplikasi langsung yang diterapkan oleh siswa-siswi. Secara teori siswa-siswi sudah cukup baik untuk membedakan jenis sampah organik dan non-organik, namun mereka belum terbiasa dengan memasukkan sampah tersebut di dua tempat sampah berbeda. Keterbatasan visual yang dimiliki siswa-siswi membatasi mereka untuk dapat menjaga lingkungan namun dengan fasilitas dan wawasan yang diberikan dapat menjadi bekal mereka. Semoga tempat sampah tersebut bisa diterapkan di sekolah-sekolah dan di tempat fasilitas umum lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
(AB)

  kembali