UKM Seni Karawitan Universitas Sanata Dharma (USD) kembali hadir dengan menggelar Festival Seni Karawitan Gending Gerejani (SEKAR GENI) ke-5. Festival SEKAR GENI merupakan wadah apresiasi dalam mendorong dan menumbuhkan semangat bagi komunitas karawitan khususnya komunitas karawitan gending gerejani. Serta merupakan wadah inkulturasi dalam melestarikan budaya khususnya seni karawitan.
Pada Festival SEKAR GENI yang diadakan Minggu, 21 Mei 2017 di Panggung Terbuka Kampus 2 USD ini disajikan pertunjukan sarat dengan kolaborasi yang terdiri dari gamelan, paduan suara, koreografi, kostum, dan tata panggung. Penampil pada tahun ini diikuti oleh 9 kelompok peserta dari berbagai gereja Katolik dalam lingkup Keuskupan Agung Semarang dan gereja Kristen, serta dimeriahkan oleh Paguyuban Gejuk Lesung Tyas Manunggal dan tentunya penampilan spesial dari UKM Seni Karawitan turut memeriahkan suasana.
Panitia merumuskan tema festival tahun ini dengan ungkapan “Nabur Bingah Awoh Paseduluran” yang artinya berbagi kebahagiaan agar persaudaraan terjalin dengan rukun. Tema ini menjadi penting, terutama karena situasi sosial yang terjadi di Indonesia. Di mana sikap intoleransi yang terjadi di berbagai daerah Indonesia menimbulkan banyak konflik yang terkesan mengatasnamakan agama padahal konflik tersebut tidak berlatar belakang agama. Meski jumlahnya tidak banyak, konflik tersebut harus diatasi dengan mengoptimalkan peran forum kerukunan umat beragama di setiap daerah.
Terkait dengan tema tersebut, Maria Dwi Utami selaku Ketua Panitia dalam sambutannya mengungkapkan, “Dengan diselenggarakannya Festival SEKAR GENI yang kelima ini, panitia berharap masyarakat mampu menjalin kerukunan sehingga keharmonisan dan sukacita saat bermain gamelan bisa diterapkan dan dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”
Pendamping UKM Seni Karawitan, Romo Dr. Gregorius Budi Subanar, SJ., dalam sambutannya mengapresiasi para peserta yang mau mengambil bagian dalam Festival SEKAR GENI tahun ini. Beliau hadir dengan mengenakan lurik tumbar pecah yang biasa digunakan saat acara “mitoni” dalam budaya jawa untuk menyambut kelahiran baru. Bagi beliau setiap tahun penyelenggaraan Festival SEKAR GENI merupakan suatu kelahiran baru yang senantiasa hadir lewat seni karawitan. Setiap tahun selalu ada peserta baru yang ikut mengambil bagian. Dengan demikian pengalaman dan kegiatan yang ada di sini tidak terbatas dalam ruang dan waktu yang ada di sini saja tetapi juga menyebar kemana-mana sehingga semakin hari semakin banyak yang turut merasakan kegembiraan dan kemeriahan Festival SEKAR GENI.
Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraannya mengingat betapa pentingnya untuk merawat dan mengembangkan keberagaman melalui seni karawitan. Beliau mengatakan bahwa gamelan merupakan instrumen musik yang mewakili Indonesia dimana di dalam gamelan terdiri dari berbagai macam instrumen yang berbeda-beda dengan cara memainkan yang beda pula. Namun perbedaan itu akan menghasilkan suatu harmoni yang indah jika ditabuh bersama-sama. Sebagai Rektor tentunya beliau sangat mengapresiasi dan bangga kepada anak-anak muda yang tergabung dalam UKM Seni Karawitan sebagai pelopor dalam merawat kebudayaan secara khusus seni karawitan. Salah satu komitmen bahwa USD sangat berperan dalam melestarikan kebudayaan adalah upacara wisuda yang sejatinya merupakan budaya dari barat jika dilihat dari pakaian dan rangkaian acaranya namun di USD upacara wisuda menggunakan iringan gamelan.
Dalam kesempatan ini, panitia Festival SEKAR GENI juga mengenang jasa tokoh yang telah terlibat sebagai perintis awal gending gerejani dan yang telah berjasa dalam menghidupkan musik-musik inkulturasi. Tahun ini panitia memberikan penghargaan kepada Almarhum Romo Al. Wahyasudibyo. Prof. Dr. PM Laksana selaku keponakan Romo Al. Wahyasudibyo hadir dalam acara untuk menerima trophy penghargaan. Dalam sesi dialog, Prof. Dr. PM Laksana mengungkapkan, “Di surga sana Romo Al. Wahyasudibyo pasti bangga melihat banyak orang muda yang memiliki semangat untuk menghidupi musik-musik inkulturasi.”
Acara diakhiri dengan memberikan plakat penghargaan kepada semua peserta yang telah terlibat, dan secara khusus menyerahkan trophy bergilir dari Keuskupan Agung Semarang kepada penampil terbaik. Stasi Macanan Paroki Marganingsih Kalasan menjadi penampil terbaik pada penyelenggaraan Festival SEKAR GENI tahun ini, dan sebagai suguhan khusus kembali menampilkan gending gerejani di penghujung acara.
(LH & MDU)




