Pusat Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia (PUSDEMA) menggelar Diskusi dan Peluncuran Buku “BEYOND BORDERS: Notes on the Colonial and Post-Colonial Dynamics in the Americas, Europe and Indonesia” karya Dr. Baskara T Wardaya SJ pada Jumat, 19 Mei 2017 bertempat di ruang seminar LPPM, Universitas Sanata Dharma (USD). Acara dihadiri oleh para akademisi, penyintas, dan aktivis hak-hak asasi manusia. Diskusi menghadirkan dua pembicara, yaitu Dra. Novita Dewi, M.S., M.A (Hons), Ph.D., dosen Kajian Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma dan John H. McGlynn dari Lontar Foundation.
Acara diawali dengan serah terima buku ke pihak universitas yang diwakili oleh Wakil Rektor I USD Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D dan Kepala LPPM USD Dr. Anton Haryono, M.Hum.
Sebuah pertanyaan yang menggelitik muncul dari Tarsisius Sarkim, “Apa yang membuat tokoh-tokoh itu menjadi borders crosser?” Novita Dewi mengungkapkan dalam ulasannya bahwa para peretas batas atau para “pelintas batas” itu melanggar batas-batas demi mencari sesuatu yang lain. Dan “Setiap dari kita adalah peretas batas.” ungkapnya lebih lanjut.
Buku “BEYOND BORDERS: Notes on The Colonial and Post-Colonial Dynamics of The Americas, Europe and Indonesia” menurut penulisnya dikemukakan bahwa jika kita melihat lembar sejarah, ada kecenderungan sebagai individu/kelompok untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Batas-batas geografis tidak menghentikan ruang gerak mereka. Secara khusus tulisan-tulisan di dalam BEYOND BORDERS menyoroti masyarakat kolonial dan pasca-kolonial. Ada pertukaran ide dan gagasan di sana tidak sebatas kolonialisme dalam ‘gerak’ tersebut.
Buku ini setidaknya menunjukkan bagaimana selama dua periode orang-orang mulai bergerak dan saling mempengaruhi secara global (mendominasi) satu sama lain, secara langsung maupun tidak langsung. Hal itu terjadi tidak hanya di satu tempat melainkan di banyak tempat: tidak sebatas di Inggris tetapi juga di Amerika Selatan; tidak melulu di Eropa, tetapi hingga Indonesia. Hasilnya kemudian adalah lahirnya gagasan baru, kolaborasi internasional, pertukaran budaya, pembentukan institusi trans-nasional, hingga pembantaian yang mematikan, pemberontakan regional, perang, penjajahan dan imperialisme.
Analisa John H. McGlynn saat membaca bab ke-5 dari BEYOND BORDERS menyimpulkan bahwa agama bisa menjadi alat pemersatu negara namun, di sisi lain, bisa pula menjadi alat pemecah bangsa, terutama jika warga sebuah negara melupakan kebudayaan sendiri—sesuatu yang sangat kontekstual dengan kondisi Indonesia saat ini. “Sewaktu membaca bab ini, saya teringat pada kata-kata Presiden Sukarno: “Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,” ungkap John H. McGlynn.
Karya Dr. Baskara T. Wardaya SJ ini memberi kontribusi untuk mengetahui lebih dekat bahwa ada jalin kelindan yang dihasilkan dari para “pelintas batas” dan memberi kontribusi dalam gerak sejarah manusia modern, sekaligus melahirkan pemahaman bahwa sebuah peradaban tercipta tidak hanya dari satu pusat, melainkan karena ada manusia-manusia dari berbagai belahan sebagai penggerak laju sejarah yang terus melintasi batas-batas mereka sendiri, tidak sebatas teritori tetapi budaya dan ide-ide. John H. McGlynn menilai, “Sebaiknya kumpulan esai ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dijadikan bacaan wajib di semua lembaga pendidikan di negara ini.”
Ia juga mengkritisi bahwa kumpulan esai Dr. Baskara ini masih dapat diperkuat dengan tambahan beberapa esai lagi mengenai sejarah Indonesia misalnya Konfrontasi dengan Malaysia, pendudukan Timor Leste, dan referendum Papua supaya menjadi lebih jelas bahwa pelintasan batas bukan sebuah fenomena asing dan bukan sesuatu yang hanya dilakukan oleh negara atau “orang luar” saja untuk terwujudnya negara yang lebih adil dan makmur untuk semua masyarakat di masa depan.
Acara yang dimoderatori oleh Scolastika Wedhowerti, S.Pd., M.Hum., dosenFakultas Sastra USD ini berjalan dengan apik dan terselenggara berkat dukungan dari AIFIS, SDUP, dan Penerbit Galang Press.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat menarik kita untuk memperluas cakrawala, untuk menggerakkan kita melampaui batas-batas yang telah kita kenal (katakanlah comfort zone/zona nyaman, jika mau!): bukan untuk mendominasi orang lain, tetapi untuk mengejar dan berbagi pengetahuan, keahlian, dan semangat kolaborasi demi masa depan global yang lebih baik.
(PUSDEMA)




