“Perempuan Baru” demikian istilah yang disebut oleh Dr. Katahrine McGregor (Melbourne University) dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Pusat Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia (PUSDEMA) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bertepatan dengan Hari Kartini pada Jumat, 21 April 2017 lalu. Diskusi bertajuk Rethinking the History of Indonesian Women: Indonesian Socialist Modernities and the ‘New Woman’ (1950s -1960s) mengungkapkan bahwa pada periode 1950-an gerakan perempuan di Indonesia sudah terlibat aktif dalam beragam isu-isu aktual baik skala nasional hingga internasional.
Melalui sumber-sumber dari Women’s International Democratic Federation (WIDF) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), Kate melakukan kajian terhadap sejarah perempuan khususnya di Indonesia periode 1950-1960-an. Sumber-sumber tersebut termasuk kajian atas pers perempuan yang diterbitkan oleh kedua lembaga itu, yaitu Women of the Whole World (WOWW) yang diterbitkan dalam bentuk majalah bulanan dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Spanyol dan Rusia serta Api Kartini yang kontennya sebagian terinspirasi dari WOWW. Majalah WOWW mempromosikan di antaranya gagasan akan “sebuah komunitas imajiner untuk wanita progresif di seluruh dunia” (dalam de Haan 2012, hlm. 14). Isu-isu nuklir menjadi salah satu contoh keprihatinan mereka.
Melalui majalah itu, citra perempuan modern dipromosikan, misalnya perempuan di Uni Soviet dan China yang sudah memasuki profesi baru dengan bekerja di pabrik dan mengoperasikan teknologi mesin. Perempuan memiliki pekerjaan seperti pekerjaan laki-laki. Seiring dengan perkembangan teknologi, perempuan sudah keluar rumah dan bekerja. Perempuan modern dicitrakan dalam peran baru karena peran teknologi dan mereka bisa ambil bagian dalam di setiap sisi.
Gerwani yang awal mula berdirinya pada tahun 1950 mengusung nama Gerwis beranjak menjadi organisasi perempuan yang sangat besar dan berpengaruh di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Gerwani memusatkan perhatian dan ide-ide pada hak perempuan dalam pernikahan dan bekerja serta hak-hak anak, mengakhiri kolonialisme, dan melawan militerisasi kembali. Penting juga diperhatikan meskipun Gerwani aktif mengusung isu hak-hak perempuan, mereka juga tetap memegang kodrat perempuan sebagai ide utama. Menurut Kate, pasca 1954, Gerwani mulai membantu wanita yg lebih miskin untuk pelatihan dan membaca. “Mereka sangat merakyat. Itu yang membedakan mereka dengan gerakan wanita lain.” ungkap Kate. Mereka juga menjalin hubungan internasional dengan organisasi-organisasi perempuan lain di dunia.
Ide-ide yang digerakkan oleh Gerwani di antaranya diperoleh melalui artikel-artikel yang dimuat dalam WOWW yang setiap edisi memiliki fokus isu yang berbeda-beda, dengan wacana dari seluruh dunia. Kate menganalisis bagaimana anggota-anggota Gerwani memiliki ide-ide unik seperti halnya melanjutkan gagasan Kartini dan Soekarno sekaligus menggunakan gagasan yang diadaptasi dari WIDF. Gerwani bekerja dalam konteks lokal sekaligus melahirkan artikulasi alternatif bagi gerakan “perempuan Indonesia modern”. Mereka juga mengadvokasi perubahan sosial dalam masyarakat Indonesia, dalam hal ini perempuan, dan mendorong gerakan feminis kiri agar lebih inklusif memikirkan buruh-buruh tani dan perempuan-perempuan di wilayah dekolonisasi.
WIDF adalah sebuah organisasi internasional yang bergerak dalam fokus memperjuangkan hak-hak perempuan. Organisasi ini didirikan di Paris pada tahun 1945 dan berkembang menjadi salah satu organisasi perempuan internasional terbesar pasca Perang Dunia II. Fokus utama organisasi ini di antaranya anti fasisme, perdamaian dunia, kesejahteraan anak dan peningkatan status perempuan.
Melalui pemaparannya, Kate mengajak kita untuk memikirkan kembali sejarah perempuan Indonesia, khususnya dalam hal ini Gerwani dan artikulasi gerakan sosial feminis modern tersebut dari periode akhir 1950-1960-an. Kate melihat bagaimana perempuan Indonesia berinteraksi dan memposisikan diri mereka dalam relasinya dengan gerakan-gerakan perempuan sosialis transnasional pada waktu itu, masa ketika paham sosialis dianut oleh masyarakat Indonesia. Aktivisme transnasional yang telah dibangun oleh gerakan ini dilupakan dalam historiografi perempuan Indonesia dan sangat layak untuk didengungkan kembali spiritnya, terlebih dalam momentum Hari Kartini.
(PUSDEMA)




