Tim Psikososial Tanggap Darurat Merapi mendampingi remaja yang menjadi pengungsi di Stadion Maguwoharjo Sleman. Anggota tim pendampingan berasal dari alumni maupun mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Tim tersebut dikoordinatori oleh Elisabeth Haksi Mayawati, alumni Psikologi USD angkatan tahun 2003. Remaja menjadi salah satu kelompok target pendampingan karena selama ini banyak lembaga atau bantuan yang ditujukan pada balita, ibu hamil, dan lansia. Sementara remaja yang merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menuju dewasa juga membutuhkan perhatian sendiri. Untuk mewujudkan kegiatan pendampingan remaja, maka kegiatan awal yang dilakukan adalah mencari tahu kebutuhan para remaja yang menjadi pengungsi di Stadion Maguwoharjo.
Dari hasil wawancara dengan beberapa remaja pada tanggal 9 November 2010, dapat disimpulkan bahwa mereka mengalami kejenuhan karena tidak ada kegiatan yang menarik. Selama di stadion mereka hanya bermain atau berjalan-jalan mengelilingi stadion. Para remaja tersebut menganjurkan agar membuat kegiatan yang bersifat menghibur dan menambah keterampilan. Kegiatan yang menghibur bagi mereka antara lain adalah pertunjukan musik (akustikan) atau nonton bareng. Kegiatan ini umumnya disebutkan oleh para remaja pria. Mereka juga menyebutkan bahwa kegiatan fisik seperti berolahraga yang bersifat kompetisi juga merupakan kegiatan yang menyenangkan. Sementara remaja putri merasakan bahwa kegiatan pelatihan yang dapat menambah keterampilan, misalnya kursus-kursus singkat.
Mereka menyarankan hal tersebut karena ada sebagian di antaranya sudah tidak memiliki rumah lagi. Rumah dan barang-barang mereka hangus terkena awan panas, termasuk surat-surat berharga seperti ijazah. Di sisi lain mereka yang sudah kelas tiga SMA merasa bingung apakah mau melanjutkan sekolah atau membantu orang tua dengan bekerja. Pada saat ditanya apa yang mereka rasakan, sebagian merasa sedih karena kehilangan barang-barang berharga. Ada juga remaja yang merasa kurang nyaman karena berkurangnya privasi yang dimiliki. Lalu sebagian lagi merasa bosan karena hanya bertemu teman-teman yang sama di lingkungan pengungsian. Para remaja tersebut belum memikirkan apa yang hendak dilakukan setelah situasi Merapi tenang kembali.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, maka Tim Psikososial pendampingan remaja merancang beberapa tema yang dapat membantu mereka. Tema-tema tersebut antara lain tentang mengenal lingkungan baru dan beradaptasi, mengenal diri sendiri dan perasaan yang dimiliki, psikoedukasi bagaimana menenangkan diri, serta menjalin relasi untuk membangun social support system. Kegiatan pendampingan mulai dilakukan sejak tanggal 11 November 2010 dan dilakukan tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Target utama pendampingan adalah remaja, namun pada prosesnya anak-anak SD kelas 4 dan 5 juga mendatangi tempat kegiatan pendampingan. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan antara lain games perkenalan, games mengenal perasaan, dan nonton bareng.
Sejak batas aman diturunkan pada tanggal 22 November 2010, sebagian remaja sudah mulai kembali bersekolah baik di sekolah darurat atau sekolahnya yang lama. (Liem)




