USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Premanisme dan Fantasi Kepahlawanan dalam Masyarakat: Fantasi Tak Selalu Indah

diupdate: 10 tahun yang lalu


Beringin Soekarno di tengah Kampus II Universitas Sanata Dharma menjadi saksi bisu diskusi menarik tentang premanisme di Indonesia. Jumat, 28 April 2017 menjadi hari yang dipilih oleh Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) USD untuk menyelenggarakan ASCOLTACI. ASCOLTACI yang memiliki pengertian "dengarlah kami" merupakan rangkaian seminar hasil penelitian yang diselenggarakan di Pascasarjana USD. Kegiatan ini mengajak para peserta seminar untuk mendukung para peneliti muda dengan mendengarkan mereka dan temuan-temuannya.
Dalam kata sambutan yang disampaikan oleh Rm. Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J yang merupakan Ketua Program Pascasarjana USD, kegiatan ini sempat vakum dikarenakan beberapa hal dan beliau menyampaikan rasa bersyukur dikarenakan tahun ini ASCOLTACI dapat dilaksanakan yang ke sepuluh kalinya. Beliau menambahkan harapannya mengenai kegiatan ini dapat memberikan pemahaman mengenai sejarah terbentuknya premanisme dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya.
Albertus Harimurti dan Odit Budiawan selaku pembicara seminar berhasil menyampaikan topik premanisme dan fantasi masyarakat dengan sudut pandang yang berbeda. Albertus Harimurti yang merupakan alumnus IRB USD lebih menyoroti konteks fantasi kepahlawan berdasarkan ulasan hasil penelitian yang ia lakukan. Pembalikan gagasan "preman" Yogyakarta dan kekecewaan-kekecewaannya menjadi judul dari penelitiannya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kejadian penyerangan oleh sekelompok anggota Kopasus (Komando Pasukan Khusus) di lapas Cebongan. Sedangkan Mas Odit, panggilan akrab dari Odit Budiawan yang merupakan peneliti antropologi memberikan pandangan berdasarkan pola perbanditan di Indonesia. Mas Odit banyak memberikan gambaran bahwa bandit di jaman sekarang itu seperti bunglon, dia bisa menjelma jadi siapa saja.  Sebagai peneliti, ia menyampaikan bahwa bandit di Indonesia seperti tetap di "pelihara" oleh para penguasa. Rasa takut masyarakat seperti sengaja dikendalikan oleh hal ini. Kedok yang dipakai oleh para bandit memberikan keleluasan kelompok-kelompok ini untuk tetap mudah melakukan segala kegiatan yang sesungguhnya meresahkan masyarakat. Diskusi dipandu oleh seorang moderator, yaitu Mario F Lawi. Seminar ini juga dilengkapi dengan pengisi acara yang tak kalah keren.  Pengisi acara, yaitu Gunsch Brass Section memainkan musik yang membangkitkan semangat peserta seminar untuk masuk ke inti acara.
Topik premanisme dan fantasi kepahlawan dalam masyarakat sukses menciptakan 3 sesi pertanyaan yang memerlukan durasi kurang lebih 1 jam. Kekerasan seperti menjadi momok yang sangat susah untuk dihilangkan di Indonesia. Kenyataan bahwa fantasi kepahlawanan bisa menyebabkan runtuhnya kekuatan Indonesia sebagai Negara yang memiliki toleransi tinggi menjadi ketakutan seluruh peserta seminar. Menyikapi hal tersebut kegiatan ini mampu menyadarkan peserta bahwa masih ada harapan dengan kekuatan Pemerintah dalam memberantas premanisme dan fantasi kepahlawan sehingga Indonesia tetap menjadi Negara yang aman dan damai.
(AI & ND)

  kembali