USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Puncak Dies ke-24 Fakultas Sastra USD: Sastra di Era Digital

diupdate: 10 tahun yang lalu


Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma merayakan hari ulang tahun ke-24 dengan menyelenggarakan seminar dengan tema ‘Cerdas dan Humanis di Era Digital: Perspektif Bahasa, Sastra, dan Sejarah’. Seminar diadakan pada hari Rabu, 26 April 2017 di Ruang Koendjono, Gedung Pusat Kampus 2 USD. Acara dimulai dengan Misa Syukur pukul 07.30 di Ruang Koendjono dan berakhir pukul 09.15. Para peserta seminar dan tamu undangan selanjutnya bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai pembukaan seminar.
Berkaitan dengan pemilihan tema, Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum, Dekan Fakultas Sastra USD, memaparkan dalam kata sambutannya bahwa hadirnya teknologi informasi membantu manusia terutama di bidang ilmu pengetahuan dan informasi. Namun, di pihak lain juga menimbulkan persoalan yaitu menciptakan kondisi di mana orang yang jauh menjadi dekat tetapi orang yang dekat justru merasa jauh dan terabaikan atau dengan kata lain adalah dishumanisasi. Pidato tersebut juga serupa dengan pesan yang disampaikan oleh Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor USD. Beliau menjelaskan bahwa kecanggihan teknologi perlahan-lahan sudah menggantikan posisi manusia, salah satunya di bidang pekerjaan. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. di sisi lain menyampaikan sastra adalah salah satu bidang yang terselamatkan dalam era digital. “Bapak ibu dosen dan mahasiswa Fakultas Sastra harus bisa memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan semangat yang berkobar-kobar menyambut kedatangan teknologi baru dan menyambut kedatangan era digital. Karena era digital ini akan menjadi semakin manusiawi kalau di dalamnya diisi dengan citra rasa sastra dan seni. Oleh karena itu, tugas bapak ibu akan semakin dibutuhkan karena hal ini tidak bisa diambil alih oleh teknologi.” ujar Rektor USD yang akrab disapa Pak Eka tersebut.
Fakultas sastra menghadirkan Dr. P. Sunu Hardiyanta, S.J, selaku pembicara pertama dalam acara ini. Dr. P. Sunu Hadriyanta, S.J yang sering disapa Romo Sunu ini memberikan topik berjudul  ‘Fall in love, stay in love and it will decide everything’ yang merupakan kutipan dari Pedro Arrupe, SJ. Romo Sunu menjelaskan kecanggihan teknologi yang ada sepatutnya dimanfaatkan manusia untuk saling membantu. “Generasi ini menawarkan kedalaman. Kita ditantang untuk menemukan kedalaman tersebut. Salah satu kedalaman itu adalah berbagi melalui koneksi-koneksi.” ungkap Provinsial Serikat Yesus Indonesia yang juga dosen Fakultas Farmasi ini. Romo Sunu menambahkan karya sastra seperti The Old Man and the Sea oleh Ernest Hemingway dan The Pilgrimage oleh Paulo Coelho adalah beberapa contoh dari karya sastra yang menginspirasi dan dapat memberikan keindahan bagi pembaca. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keindahan sastra sebagai highway untuk rekonsiliasi dan transformasi dalam menikmati hidup di era serba canggih ini.
Seminar kemudian dilanjutkan oleh tiga dosen Fakultas Sastra USD yaitu F.X. Risang Baskara, S.S., M.Hum. dosen Prodi Sastra Inggris; Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A. dosen Prodi Sastra Indonesia; dan Dr. Yerry Wirawan dosen Prodi Sejarah. F.X. Risang Baskara menerangkan pemanfaatan teknologi yang sudah diterapkan dalam proses belajar mengajar di Prodi Sastra Inggris seperti presentasi Pecha Kucha, aplikasi Schoology, dan Video Blog (Vlogging). F.X. Risang Baskara berharap penerapan teknologi dalam kelas mampu meningkatkan kualitas dalam praktik pembelajaran bahasa dan mengembangkan proses belajar dan mengajar bahasa yang humanis.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi yang salah dapat menimbulkan efek negatif yang luas dalam masyarakat. Hal ini dibahas oleh Maria Magdalena Sinta Wardani dalam materinya yang berjudul ‘Manipulasi Bahasa dalam Teror Kabar Bohong (HOAX). Maria Magdalena Sinta Wardani mengajak para mahasiswa dan dosen Fakultas Sastra untuk turut serta mengambil sikap dalam menanggapi manipulasi fakta yang beredar di masyarakat seperti bergabung dalam Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH) di Facebook.
Perkembangan teknologi juga tak luput digunakan dalam studi sejarah, seperti pemanfaatan mikrofilm dalam menyimpan arsip sejarah. Namun, hal ini masih kurang maksimal karena masih ada beberapa persoalan yang muncul seperti data microfilm yang tidak dapat terbaca dan ketidakkonsistensinan data yang dimasukkan ke dalam komputer. Menanggapi hal ini, Yerry Wirawan berharap para peneliti sejarah lebih membuka diri serta mampu beradaptasi dengan perkembangan-perkembangan terbaru dunia digital hingga akhirnya mampu menciptakan kemudahan akses sumber-sumber sejarah dan kemudahan dalam preservasi.
Acara ini dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Tirto Suwondo, M.Hum. serta perwakilan dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, dan Kanisius Yogyakarta. Acara seminar Puncak Dies Fakultas ke-24 ini juga diisi oleh sesi tanya jawab dan ramah tamah.
(DW)

  kembali