Sabtu malam, 22 April 2017 pukul 19.30 WIB, Pergelaran Wayang Kartini-nan berjudul “Pengakuan Ibu Kunthi” yang diceritakan dalam dua bahasa: Jawa dan Indonesia dimulai. Pergelaran yang diadakan dalam rangka merayakan Hari Kartini yang diperingati pada 21 April ini bertempat di Panggung Terbuka Kampus 2 Universitas Sanata Dharma. Pergelaran ini dibuka untuk umum, terdapat dosen USD, mahasiswa USD, mahasiswa luar USD, kerabat dalang dan pengrawit, dan masyarakat umum yang mengisi bangku penonton.
Ditemui sebelum acara dimulai, Antonius Andi Gunawan selaku Ketua Panitia menceritakan tentang pergelaran ini. Andi, demikian panggilan akrabnya, mengatakan bahwa pergelaran wayang ini sebagai salah satu wadah pengapresiasian terhadap mereka yang ingin belajar serta mendalami karawitan dan mengetahui budaya Jawa. Selain itu, acara ini juga ingin menunjukkan pada kaum muda tentang budaya yang kita miliki supaya tetap lestari.
Pergelaran yang diadakan tiap tahun dengan momen tertentu ini merupakan pergelaran kelima yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan dan merupakan kali pertama menghadirkan dalang “Sendang Kapit Pancuran”. Pergelaran ini menghadirkan tiga dalang: satu perempuan yang disebut dengan istilah ‘sendang’ diapit oleh dua laki-laki yang disebut dengan istilah ‘pancuran’. Tiga dalang dalam pergelaran ini adalah Ki Wahono Simbah (mahasiswa S2 Ilmu Religi dan Budaya), Ni Raras (mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah), dan Ki Damai Sagita (mahasiswa S2 Ilmu Religi dan Budaya).
Sebelum pergelaran wayang dimulai, Andi, selaku ketua panitia memberikan sambutan. Andi membuka sambutan dengan sebuah pantun singkat yang mampu membuat suasana penuh tawa penonton. Dalam sambutannya, Andi menceritakan bagaimana awal panitia acara ini terbentuk pada dua bulan lalu, kerja sama dalam menyukseskan acara dan mencari sponsor, hingga terselenggaranya acara.
Selanjutnya, Wakil Rektor IV USD, F.X. Ouda Tena Ena, M.Pd., Ed.D. mengucapkan selamat dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Beliau juga menyebutkan bahwa wayang dengan tiga dalang yang salah satunya wanita ini merupakan suatu inovasi baru di zaman emansipasi wanita sekarang ini. Terlebih, pergelaran acara ini merupakan suatu hal yang sangat baik dalam memperingati Hari Kartini, di mana tidak hanya sekedar menggunakan pakaian adat Jawa.
Terakhir sebelum wayang dimulai, Dr. Gregorius Subanar, S.J. atau Romo Banar, selaku pendamping UKM Karawitan USD memberikan sambutan. Beliau mengatakan sangat mengapresiasi terselenggaranya acara ini dan pihak terkait yang membantu dan mendukung terselenggaranya pergelaran ini. Dalam sambutannya, Romo Banar mengajak Bapak Susilo Handoyo dan istri yang mendukung penuh pergelaran ini untuk naik ke panggung. Bapak Susilo merupakan Ketua Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) dan Ibu Susilo merupakan alumni Program Studi Sejarah USD saat masih bernama IKIP Sanata Dharma. Pergelaran ini sangat istimewa karena selain Bapak dan Ibu Susilo mendukung pergelaran, Ni Raras, salah satu dalang wayang merupakan putri dari Bapak dan Ibu Susilo. Meski awalnya Raras ragu untuk mendalang, tetapi dengan dukungan hangat keluarga dan teman-teman di UKM Karawitan, Raras akhirnya muncul sebagai dalang Pergelaran Wayang Kartini-nan Lakon “Pengakuan Ibu Kunthi” pada perayaan hari spesial, Hari Kartini.
Di akhir sambutannya, Romo Banar mengajak hadirin untuk menikmati pergelaran wayang dengan ditemani teh hangat, kopi panas, dan cemilan seperti kacang, jagung, pisang, dan ubi rebus yang disediakan oleh panitia. Pergelaran pun berlangsung sukses.
(FAS & MGAP)




