Beberapa program studi linguistik Universitas Sanata Dharma berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (KOLITA) 2017 yang ke-15. Acara ini berlangsung sejak 5 April dan berakhir tanggal 7 April 2017 di UNIKA Atma Jaya Jakarta.
KOLITA adalah sebuah acara konferensi internasional di mana para peserta mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan peneliti linguistik dari berbagai institusi. Konferensi ini dibuka dengan seminar yang dibawakan oleh Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum, Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma dengan topik yang berjudul ‘Ketika Tuturan Dijadikan Kalimat: Kajian Pragmatik Kritis Kasus Ahok’. Pleno dilanjutkan oleh Deny A. Kwary dari Oxford University dengan topik ‘A Language Community Dictionary: A Means For Documenting and Sharing Linguistic Knowledge’. Di hari kedua, seminar dibuka oleh Jonathan Zilberg dari University of Illonois. Jonathan Zilberg menjelaskan tentang pentingnya penjelasan sejarah mengenai artefak dan barang-barang bersejarah yang ada di Museum Nasional Indonesia kepada generasi penerus. Hari ketiga diisi dengan presentasi-presentasi yang dibawakan oleh para peserta. Acara juga diisi oleh pameran buku dan makan bersama.
Topik yang diangkat oleh para peserta seminar sangat beragam. Beberapa peserta seminar mengangkat bahasa daerah sebagai penelitiannya seperti Bahasa Sunda, Bahasa Banjar, Bahasa Melayu, dan Bahasa Mandarin. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam Instagram yang dijuluki sebagai Bahasa Alay dan beberapa istilah yang digunakan dalam meme juga diambil sebagai penelitian linguistik oleh beberapa peserta. Menariknya, beberapa pemakalah mengambil topik yang berkaitan dengan Calon Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Salah satunya adalah topik yang berjudul ‘Ahok Dalam Dua Bingkai: Representasi Basuki Tjahaja Purnama Dalam Pemberitaan Kasus Penistaan Agama di Portal Berita Satu dan Republika’ oleh Mahardika Zifana dan Eri Kurniawan dari Universitas Pendidikan Indonesia. Mahardika dan Eri menjelaskan kajian linguistik mengenai bahasa yang digunakan dalam kedua media pemberitaan tersebut dan pengaruhnya kepada masyarakat. Disisi lain, beberapa pemakalah mengambil topik pembelajaran bahasa di sekolah dan institusi sebagai bahan penelitian.
Perwakilan dari USD yang menjadi pemakalah dalam KOLITA adalah Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum, Ketua Prodi Magister PBSI; Prof. Dr. Pranowo, Dosen PBSI; Dr. B. Widharyanto, M.Pd, Dosen PBSI; Dr. Yuliana Setyaningsih, Ketua Prodi PBSI; dan Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A, Dosen Sastra Indonesia. Selain itu, Prodi Sastra Inggris mengirimkan Devi Wijayanti, mahasiswa yang dibimbing oleh Anna Fitriati S.Pd., M.Hum; Stefani Veronika, mahasiswa yang dibimbing oleh Harris Hermansyah Setiadjid, M.Hum, dan F.X Risang Baskara, M.Hum. Devi dan Stefani mempresentasikan penelitian mereka yang menjadi bagian dari tugas akhir (skripsi) dan tampil bersama para dosen pembimbing. Tampilnya Devi dan Stefani yang merupakan mahasiswa S1 dalam seminar internasional adalah salah satu cara dari Prodi Sastra Inggris USD untuk mendorong keterlibatan mahasiswa sebagai pemakalah dalam berbagai kegiatan akademik. “Keikutsertaan dalam konferensi internasional memberikan dampak positif terhadap perkembangan keilmuan di prodi umumnya, dan kepercayaan diri mahasiswa khususnya.” ungkap Harris Hermansyah Setiadjid, M.Hum, selaku Wakil Ketua Prodi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma.
Para peserta konferensi hadir dari berbagai institusi dan universitas yang di antaranya adalah Universitas Islam Riau, Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Bengkulu, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Negeri Gorontalo, Balai Bahasa Kalimantan Selatan, dan lain-lain. Selain institusi dalam negeri, ada pula peserta dari institusi luar negeri seperti International Institute for Sign Languages and Deaf Studies, University of Central Lancashire; Universitas Mahaputra Muhammad Yanim Malaysia dan Universiti Malaysia Sarawak.
(DW)




