Jumat (24/3) Pusat Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdema) Universitas Sanata Dharma bersama dengan Social Movement Institute (SMI) mengadakan sebuah diskusi di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara USD. Diskusi yang diberi judul “Human Right in Indonesia: Past, Present, Future” ini menghadirkan seorang narasumber yang merupakan Sekretaris Jendral Amnesty International, Shalil Shetty.
Acara ini diikuti lebih dari 60 peserta yang sebagian besar merupakan para pegiat atau aktivis HAM yang ada di Yogyakarta. Diskusi yang diadakan secara bilingual ini, dibuka dengan sambutan dari Bapak Eko Prasetyo dari pihak SMI dan Tri Subagya perwakilan Pusdema Universitas Sanata Dharma.
Mr. Salil Shetty mengungkapkan bahwa perjuangan penegakan HAM saat ini yang terberat adalah munculnya pemimpin-pemimpin yang diktator dan memihak pada golongan tertentu. Fenomena ini telah muncul di negara-negara yang menjadi kiblat tentang penegakan HAM seperti negara di Amerika dan Eropa. Hal ini membuat negara-negara lain menjadi kehilangan arah dan panutan dalam hal penegakan HAM.
Salil Shetty juga mengungkapkan harapan akan peran aktif seluruh aktifis HAM di Indonesia dan Yogyakarta khususnya untuk tetap menyuarakan penegakan HAM lebih lantang dan melakukan pergerakan-pergerakan besar yang dapat membawa perubahan. Banyak kasus yang belum terselesaikan mengenai HAM di Indonesia dari yang sudah sangat lama terjadi seperti peristiwa 1965 hingga masalah HAM baru-baru ini yakni kasus pabrik semen di Kendeng yang memakan korban jiwa. Beliau berharap dengan dibukanya kantor Amnesty Internasional di Indonesia dapat membantu untuk mengatasi permasalahan penegakan HAM di Indonesia.
Diskusi ini membuka forum bertanya dan sharing dari lima orang peserta untuk ditanggapi oleh Salil Shetty. Secara implicit, diskusi ini menerangkan bahwa permasalahan penegakan HAM tidak lagi dapat berharap kepada pemerintah. Oleh sebab itu, para pegiat-pegiat HAM di daerah harus semakin lantang dan tegas dalam usahanya hingga HAM di Indonesia terpenuhi.
(CAP)




