Beberapa tahun terakhir ini Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi topik yang hangat diperbincangkan kalangan akademisi dan praktisi bidang bahasa dan sastra Indonesia. Hal itu terutama terkait dengan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang sah dan praktis bagi orang-orang asing yang datang ke Indonesia, entah datang sekadar sebagai wisatawan, sebagai tenaga kerja, ataupun dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia. Bahwa orang asing yang datang ke Indonesia dituntut untuk bisa berbahasa Indonesia, itu merupakan suatu keharusan. Hal itu pulalah yang mendorong para pakar dan praktisi bidang bahasa Indonesia untuk mulai memikirkan secara serius urgensi pembelajaran dan riset di bidang BIPA.
Terkait dengan adanya isu-isu di bidang pembelajaran dan riset BIPA, pada Jumat (24/3/2017), Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S2) dan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, mengadakan lokakarya bertajuk “Riset ke-BIPA-an: Prospek, Tantangan, dan Implementasinya” di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. Lokakarya ini menghadirkan narasumber Dr. Kundharu Saddhono, S.S., M. Hum., dari Pascasarjana Universitas Negeri Sebelas Maret.
Dalam sambutannya, Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum., selaku Ketua Program MPBSI USD mengemukan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk menghadirkan pakar yang bisa memberikan motivasi kepada mahasiswa terkait dengan riset di bidang BIPA. Lebih dari itu, tentu saja kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan masalah-masalah terkait dengan BIPA sehingga para mahasiswa nantinya dapat memecahkannya secara ilmiah melalui riset. “Kami sangat mengharapkan bahwa kegiatan ini pada saatnya memiliki luaran berupa skripsi di bidang BIPA bagi mahasiswa S1 dan tesis bagi mahasiswa S2.” tutur Pak Kunjana.
Dalam pemaparannya, Dr. Kundharu Saddhono mengemukakan bahwa ketika mengajar orang asing, ia lebih memilih untuk menggunakan kekayaan budaya Indonesia sebagai media dalam pembelajaran. Sebagai contoh, teks-teks sejarah kerajaan dapat dipakai untuk mengajarkan keterampilan membaca; lagu-lagu genre khas Indonesia dapat dipakai untuk mengajarkan keterampilan menyimak; jenis-jenis makanan khas dapat dipakai untuk mengajarkan keterampilan berbicara dan menulis. Namun demikian, praktik itu akan lebih bermakna jika diteliti lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dr. Kundharu memberikan contoh, misalnya, sebuah penelitiannya yang dibiayai SEAMEO pada 2014 berjudul “The Application of Cooperative Learning Model in Enchanging the Argumentation Writings Skill with Multicultural Awarness in Indonesian Language for Foreign Learners”. Penelitian ini mengambil model PTK (penelitian tindakan kelas) dengan subjek penelitian ialah kelas pembelajar BIPA. Selain itu, Dr. Kundharu juga menunjukkan model penelitian pengembangan (R and D), misalnya, “Pengintegrasian Materi Ajar Berbasis Budaya Indonesia dengan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Tingkat Dasar di Indonesia”. Penelitian pengembangan ini bersumberkan dana LPDP tahun 2016.
Dalam sesi dialog, lokakarya yang dimoderatori Agung Siswanto, S. Pd., dari Program Magister ini, terlihat sangat hidup. Dialog dibagi ke dalam empat sesi dengan setiap sesinya diberi kesempatan bagi tiga penanya. Para peserta terlihat sangat antusias dengan kegiatan lokakarya ini. Hal itu terbukti dengan adanya pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta pada setiap sesi. Ketika menanggapi pertanyaan dari Dr. Yuliana Setiyaningsih, M. Pd., (Kaprodi S1 PBSI) terkait dengan evaluasi dalam pembelajaran BIPA, misalnya, narasumber menjelaskan bahwa berdasarkan prinsip-prinsip evaluasi sejatinya memang instrumen evaluasi perlu dibakukan terlebih dahulu. Perlu ada kisi-kisi, uji coba, dan revisi agar soal-soal evaluasi dapat bermakna. “Sejauh ini, karena kurikulum BIPA sendiri belum dibakukan, maka rekrutmen mahasiswa tes potensi berbahasa, pre-test, tes proses, post-test dan evaluasi secara keseluruhannya sepenuhnya ditangani lembaga penyelenggara,” tutur Pak Kundharu. Lokakarya ini diakhiri dengan pemberian sertifikat dari Dr. Yuliana Setiyaningsih, M.Pd., kepada narasumber dan moderator.
(AN)




